<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-15358194</id><updated>2011-10-27T17:31:09.069-07:00</updated><title type='text'>طالب العلم على منهج السلف</title><subtitle type='html'>قال ابن شوذب إن من نعمة الله على الشاب إذا نسك أن يؤاخي صاحب سنة يحمله عليها أخرجه الإمام اللالكائي في شرح اعتقاد أهل السنة 
(sesungguhnya sebagian dari nikmat Alloh atas seorang pemuda apabila dia senantiasa bersahabat dengan ahli sunnah yang bisa membawanya kepada sunnah tersebut)</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://abuyoesuf.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15358194/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abuyoesuf.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>abu_yusuf</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15735738412660387343</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://photos.friendster.com/photos/39/85/27355893/2558270428391m.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>19</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15358194.post-117303362059352308</id><published>2007-03-04T10:26:00.000-08:00</published><updated>2007-03-04T10:40:20.673-08:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>Sumpah yang dianggap biasa&lt;br /&gt;Biqolam abu yusuf heru ibnu salim&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap orang mukmin memiliki kewajiban yang sama, merekapun mendapatkan hak-hak yang sama pula ketika mereka menunaikan kewajiban mereka. Setiap muslim memiliki kewajiban yang sama kepada tuhan yang menciptakannya yaitu senantiasa mentauhidkan Alloh ta’ala, dan konsekuensi bagi mereka yang telah mengaku bahwa dirinya telah bertauhid kepada Alloh ta’ala, maka tentulah ia pun wajib mengetahui apa saja bentuk kerikil-kerikil tajam kesyirikan baik itu yang besar maupun yang kecil.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alloh ta’ala berfirman didalam surat al-an’am ayat 151&lt;br /&gt;Katakanlah: "Marilah kubacakan apa yang diharamkan atas kamu oleh Tuhanmu yaitu: janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia, berbuat baiklah terhadap kedua orang ibu bapa, dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut kemiskinan, Kami akan memberi rezki kepadamu dan kepada mereka, dan janganlah kamu mendekati perbuatan-perbuatan yang keji, baik yang nampak di antaranya maupun yang tersembunyi, dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) melainkan dengan sesuatu (sebab) yang benar” Demikian itu yang diperintahkan kepadamu supaya kamu memahami(nya).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ikhwani fillah dari ayat yang mulia ini kita mengetahui tentang apa-apa yang Alloh haramkan bagi orang-orang mukmin yaitu salah satunya kesyirikan. Namun, setelah kita lihat sekarang pada diri kaum muslimin banyak diantara mereka melakukan sebuah bentuk kesyirikan yang mereka anggap perbuatan ini biasa. Dan bahkan ada yang telah mengetahuinya akan tetapi mereka menganggap ini hanyalah sebuah dosa kecil, maka ketahuilah! bukankah gunung berasal dari batu kerikil yang kecil maka ketahuilah pula wahai saudaraku sesungguhnya mukmin yang sempurna tauhidnya pastilah ia menjaga dirinya dari segala bentuk kezaliman ini. &lt;br /&gt;Ikhwanii fillah syirik yang saya maksudkan adalah bersumpah dengan selain nama Alloh ta’ala. Atau sebuah untaian kalimat semisalnya, yang mereka ucapkan setelah mereka mendapatkan sebuah obat yang mujarab yang menyembuhkanya dari kebinasaan sehingga dia berkata “kalau bukan karena obat ini aku pasti akan binasa”. Apakah kalimat ini dibenarkan didalam syariat yang mulia ini. Marilah kita mengenal apa itu sumpah, sumpah bermakna: :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berjanji atau bersumpah dengan sesuatu yang mulia dalam rangka memperkokoh suatu tekad dalam melakukan suatu perbuatan atau meninggalkannya. Maka bersumpah dengan sesuatu berarti telah memuliakannya. Sedangkan kemuliaan hanyalah hak Alloh ta’ala tidak boleh diberikan kepada yang lain, maka tidak dihalalkan bersumpah dengan selain nama Alloh ta’ala walaupun bersumpah dengan zat yang  paling mulia diatas muka bumi ini seperti nabi sholollohu ‘alaihissalam ataupun ka’bah yang mulia. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dan para ulama telah bersepakat bahwasanya sumpah tidak terjadi kecuali dengan nama Alloh ta’ala atau dengan sifat-sifatnya dan mereka pun telah bersepakat keharaman bagi mereka yang bersumpah selain dengan Alloh ta’ala. &lt;br /&gt;Banyak sekali hadist yang menjelaskan mengenai hal ini salah satunya hadist yang terdapat di sunan At tirmidzi : &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ barangsiapa yang bersumpah selain dengan Alloh ta’ala maka dia telah jatuh dalam kekufuran atau kesyirikan” &lt;br /&gt;(kufur yang tidak mengeluarkan seseorang dari islam ataupun kesyirikan yang tidak mengeluarkan seseorang dari islam)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan begitu juga dengan sabda nabi yang mulia : &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya Alloh melarang kalian untuk bersumpah dengan bapak-bapak kalian. Barangsiapa yang telah bersumpah maka bersumpahlah dengan nama Alloh ta’ala atau hendaklah dia diam” shohih bukhori&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan macam-macam sumpah yang terlarang yang banyak tersebar diantara kaum muslimin seperti demi nabi, demi rosul demi cintaku demi bapakku demi tanah suci ataupu bentuk-bentuk lain seperti : karena kehendak Alloh dan kehendakmu, kalo bukan karena obat ini pastilah aku akan binasa, kalo bukan karena anjing tentulah pencuri akan masuk kerumah. Maka semua perkataan ini adalah bathil dan merupakan bentuk kesyirikan wajib bagi kita untuk menisbatkan semua hal ini hanya kepada Alloh wahdahu.&lt;br /&gt;………………………………...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15358194-117303362059352308?l=abuyoesuf.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abuyoesuf.blogspot.com/feeds/117303362059352308/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=15358194&amp;postID=117303362059352308' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15358194/posts/default/117303362059352308'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15358194/posts/default/117303362059352308'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abuyoesuf.blogspot.com/2007/03/sumpah-yang-dianggap-biasa-biqolam-abu.html' title=''/><author><name>abu_yusuf</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15735738412660387343</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://photos.friendster.com/photos/39/85/27355893/2558270428391m.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15358194.post-117303206064148343</id><published>2007-03-04T10:06:00.000-08:00</published><updated>2007-03-04T10:14:20.696-08:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;a href="http://photos1.blogger.com/x/blogger/4501/1420/1600/591979/04032007015.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://photos1.blogger.com/x/blogger/4501/1420/200/893663/04032007015.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Mari merenung sejenak…..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alhamdulillah dan Alhamdulillah ….. Segala puji bagi Arrohman yang selalu memberikan rahmat serta nikmatnya kepada kita. Hingga setiap detik kita dapat bernafas dengan lega, menghirup udara yang sejuk nan bersih. Lalu kita dapat meminum air yang jernih mengalir dari mata air yang tak pernah terbayang dari mana datangnya. Air dan Angin merupakan sebagian kecil dari bermacam-macam nikmat yang  Alloh limpahkan kepada hambanya. Yang apabila sekiranya dua hal tersebut diperdagangkan oleh Alloh maka sekali-kali manusia, tidak akan sanggup membelinya walaupun dengan segunung Uhud emas. Maka apabila Alloh hentikan peredaran angin dari muka bumi ini dan menghentikan aliran air dari mata airnya, maka tak ada satu manusia pun dapat menghalangiNya “ Sesungguhnya Alloh maha mampu atas segala yang Ia kehendaki”. Akan tetapi sekali-kali Alloh tidak pernah menzholimi hambanya, melainkan hamba itulah yang berbuat zholim kepada dirinya. Ia menjadikan segala sesuatu yang ada dibumi ini bagi hambanya secara gratis tanpa dipungut biaya sedikitpun. Alloh ta’ala berfirman dalam surat ‘Abasa ayat  024-032:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“maka hendaklah manusia itu memperhatikan makanannya.&lt;br /&gt;Sesungguhnya Kami benar-benar telah mencurahkan air (dari langit),&lt;br /&gt;kemudian Kami belah bumi dengan sebaik-baiknya&lt;br /&gt;lalu Kami tumbuhkan biji-bijian di bumi itu,&lt;br /&gt;anggur dan sayur-sayuran&lt;br /&gt;zaitun dan kurma,&lt;br /&gt;kebun-kebun (yang) lebat,&lt;br /&gt;dan buah-buahan serta rumput-rumputan&lt;br /&gt;untuk kesenanganmu dan untuk binatang-binatang ternakmu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  Wahai hamba Alloh yang penuh dosa nan hina, marilah kita bersyukur terhadap apa yang Alloh berikan kepada kita, semoga apa yang kita kerjakan semata mengharapkan keridhoan dari Nya…….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya Alloh sesungguhnya aku tahu betapa besar nya dosaku&lt;br /&gt;Akan tetapi aku pun tahu betapa besar rahmat Mu&lt;br /&gt;Aku menadahkan kedua telapak tanganku seraya menghinakan diri&lt;br /&gt;Seperti apa yang engkau perintahkan ya Alloh ampunilah dosaku”&lt;br /&gt;…………………………….&lt;br /&gt;………………….&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15358194-117303206064148343?l=abuyoesuf.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abuyoesuf.blogspot.com/feeds/117303206064148343/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=15358194&amp;postID=117303206064148343' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15358194/posts/default/117303206064148343'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15358194/posts/default/117303206064148343'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abuyoesuf.blogspot.com/2007/03/mari-merenung-sejenak.html' title=''/><author><name>abu_yusuf</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15735738412660387343</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://photos.friendster.com/photos/39/85/27355893/2558270428391m.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15358194.post-117303119251511815</id><published>2007-03-04T09:54:00.000-08:00</published><updated>2007-03-04T09:59:52.796-08:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;em&gt;GEMERLAP CAHAYA KEBERUNTUNGAN MEMBACA Al QUR`AN MENANTIMU&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Bilqolam: Heru Abu Yusuf ibnu Salim&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alhamdulillah syukur yang selalu kita panjatkan kepada yang selalu memberi dan tak pernah meminta. Yang menghidupkan segala sesuatu yang telah mati dengan keluasan rahmatnya. Yang menciptakan kehidupan dan kematian untuk menguji manusia manakah yang paling baik amalnya bukan paling banyak amalannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai kaum muslimin …….&lt;br /&gt;Beruntunglah bagi kita yang yang memiliki pedoman hidup&lt;br /&gt;Dengan nikmatnya kita dapat melihat, mendengar, dan membaca firmanNya.&lt;br /&gt;Wahyu yang diturunkan kepada rosulun amin&lt;br /&gt;Mu’jizat yang tak tertandingi &lt;br /&gt;Yang menyempurnakan kitab sebelumnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al Qur`an. Dia kalamulloh (perkataan Alloh) bukan makhluq. Berkata Imam thohawi dalam kitab  (Aqidah Atthohawiyah)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Dan sesungguhnya Al Qur`an adalah perkataan Alloh dan darinya tidak diketahui bagaimana Alloh memulai perkataan itu, diturunkan Al Qur`an kepada rosulnya sebagai wahyu, dan  orang-orang mukmin membenarkan Al Qur`an tersebut dengan sebenarnya. Serta meyakini bahwa Al Qur`an adalah perkatan Alloh dengan sebenar-benarnya keyakinan. Dan Al Qur`an Bukanlah makhluq ciptaan Alloh seperti perkataan manusia”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Al Qur`an bukan hiasan belaka atau aksesoris yang diletakkan diatas meja dan lemari penghias, atau terbungkus diatas rumah diyakini sebagai penolak marabahaya. Al Qur`an adalah pedoman hidup manusia yang memiliki hak-hak yang harus kita tunaikan. Maka dengarkanlah perkataan Alloh dalam surat Al-isro ayat 9&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Sesungguhnya Al Qur`an ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi khabar gembira kepada orang-orang Mu'min yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar”&lt;br /&gt;Dan ingatlah ketika Alloh berfirman dalam surat Al-baqoroh ayat 1 dan 2 bahwasanya tidak ada keraguan didalam kitab ini dan semuanya adalah benar:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah kita mengetahui bahwasanya Al Qur`an adalah pedoman yang paling lurus maka konsekuensi dari itu semua maka diperlukan thoriqoh atau jalan, agar kita mendapatkan pedoman tersebut. Yaitu dengan cara belajar membacanya, memahaminya dengan pemahaman yang benar (pemahaman para sahabat) sesuai dengan apa yang dinginkan Alloh dan rosul Nya. Sebagaimana perkatan Imam Syafi’I :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Aku beriman kepada Alloh dan apa-apa yang dibawa dari Alloh sesuai dengan apa yang diinginkan oleh Alloh, dan aku beriman kepada rosululloh dan apa-apa yang dibawa oleh rosululloh sesuai dengan apa yang diinginkan rosululloh”.&lt;br /&gt;Lalu mencoba untuk menghapal serta mengamalkannya dan menghadiri majelis-majelis ilmu yang mempelajari kitab Alloh. Tetapi kenyataan yang kita rasakan sekarang kebanyakan kaum muslimin mengalami dho’ful iman (lemahnya iman) wa fasadas syu’ur ( rusaknya perasaan ) bahkan kebanyakan kaum muslimin lari dari Al Qur`an, penyakit buta huruf Al Qur`an menjangkiti lapisan masyarakat. Banyak dari mereka menyelewengkan isi Al Qur`an. Memahami konteks Al Qur`an sekehendak hati mereka, sesuai dengan akal mereka. Mari kita dengar perkatan Abu Bakar As Shiddiq ketika beliau berbicara tentang Al Quran “ Langit Alloh mana yang akan menaungiku dan bumi Alloh mana yang akan aku tapaki apabila aku berbicara tentang Al Qur`an yang tidak aku ketahui”. Subhanalloh alangkah takutnya sahabat yang mulia ini terhadap ‘azab Alloh.&lt;br /&gt;Sedangkan yang kita dengar sekarang, ada sebagian orang yang merasa pintar lalu dia menafsirkan ayat-ayat Alloh dengan sesuka hatinya sebagai contoh. Ada orang yang memahami surat Al Ma’un  “ kecelakaanlah bagi orang yang solat” tanpa menyambung ayat sesudahnya dia beranggapan bahwasanya “untuk apa sholat kalau toh kita nanti kan celaka” maka ditinggalakanya sholat. Padahal Alloh ta’ala berfirman pada ayat selanjutnya menjelaskan siapakah orang yang akan celaka “ yaitu orang yang lalai sholatnya, orang yang berbuat riya dan enggan memberikan bantuan “.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai kaum muslimin marilah kita bangkit dan mulai untuk membaca Al Qur`an sungguh keberuntungan serta gemerlap pahala telah menunggu kita. Sebagaimana Alloh perintahkan kepada rosulnya dan bagi umatnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                                  Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah,&lt;br /&gt;Surat al-‘alaq ayat 1 dan 3&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ikhwani fillah banyak sekali hadist-hadist nabawiyah yang menjelaskan kepada kita tentang gemerlap keberuntungan serta pahala bagi orang yang menyempatkan waktunya untuk membaca Al Qur`an. Seandainya saya sampaikan semua hadist tersebut maka akan membutuhkan masa yang sangat panjang. Mari kita dengarkan sabda nabi melalui jalan Abi umamah :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ aku mendengar nabi sholollohu ‘alaihi wasallam  bersabda :” bacalah alquran karena sesungguhnya Al Quran itu akan datang  pada hari kiamat sebagai syafat bagi orang-orang yang senang membacanya” (muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan dari jalan An-nuas bin Sam’an  berkata :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Nanti pada hari kiamat akan didatangkan Al Quran dan ahlinya yang senang mengamalkan petunjuknya di dunia’ didahului dengan surat Al Baqoroh dan surat Ali ‘Imron yang keduanya saling berbantah mengenai ahli mereka”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan tidak hanya syafa’at  akan tetapi orang yang membacanya baik dengan mahir maupun  tertatih-tatih tetap akan mendapatkan balasan dari Alloh. Mari kita lihat apa yang rosululloh sabdakan dari ‘Aisyah dari rosululloh :&lt;br /&gt;“ orang yang mahir membaca Al Qur`an, maka nanti akan berkumpul bersama-sama para malaikat  yang mulia lagi taat. Orang yang tertatih-tatih dan mendapatkan kesulitan ketika membaca Al Qur`an serta terasa berat baginya maka ia akan mendapatkan dua pahala.” (Bukhori dan Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan keutamaan lainya sangat banyak sekali, dikisahkan ketika salah satu sahabat nabi membaca surat Al Kahfi lalu datang awan yang membawa sakinah (ketenangan) menghampirinya dikarenakan bacaannya tersebut. Serta balasan bagi orang yang membaca satu huruf saja dari Al Qur`an dari jalan abi Mas’ud berkata rosululloh: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Barang siapa membaca satu huruf dari kitab Alloh (Al Qur`an ) maka akan memperoleh satu kebaikan. Setiap satu kebaikan dibalas dengan sepuluh kali lipat. Aku tidak mengatakan, `alif laam miim’ itu satu huruf, tetapi `alif satu huruf  laam satu huruf dan miim satu huruf ( HR Tirmidzi hadist hasan shohih)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Subhanalloh alangkah banyaknya cahaya keberuntungan yang kita dapatkan dari membaca Al Qur`an. Dan perlu diketahui Al Qur`an bukan hanya surat Yasiin akan tetapi Al Qur`an adalah 30 juz 114 surat, dari Al Fatihah sampai An Nas. Dan surat yang banyak memiliki keutamaan pun tidak hanya surat Yasin. Mari kita lihat sabda rosululloh mengenai keuatamaan beberapa surat didalam Al Qur`an. Dari jalan Abi Hurairoh bersabda Rosululloh : &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Janganlah kalian jadikan rumah kalian seperti kuburan ( berkata Al Hafidz ibnu hajar dalam kitab fathul bariy  (1/441-442) maksudnya bagaikan kuburan yang dilarang sholat didalamnya, maka berdasarkan pemahaman tekstual hadist ini berisikan larangan untuk membuat kuburan didalam rumah baik itu rumah manusia maupun rumah Alloh) sesungguhnya syetan akan lari dari rumah yang dibacakan surat Al Baqoroh didalamnya”. (HR Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keutamaan surat Al Mulk berdasarkan sabda Nabi :&lt;br /&gt;“ Didalam Al Quran ada sebuah surat yang berisi tiga puluh ayat yang dapat memberi syafa’at kepada seseorang. Sehingga ia mendapatkan ampunan, yaitu surat `tabarokalla dzi biyadihil mulk 67”. (HR abu Dawud dan Tarmidzi hadits hasan)&lt;br /&gt;Disunnahkan membacanya sebelum tidur.&lt;br /&gt;Surat-surat lain seperti sepuluh ayat pertama dari surat Al Kahfi maka akan terjaga dari Dajjal &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Barang siapa yang hafal sepuluh ayat pertama dari surat Al Kahfi niscaya ia terjaga dari Dajjal”.(HR Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alhamdulillah betapa sempurnanya agama ini yang telah memberikan kepada penjelasan yang sangat rinci dan memberikan kepada setiap muslim kesempatan untuk menuju pintu kebaikan. Semoga kita dan keluarga kita menjadi ahli Al Qur`an baik di dunia maupun di akhirat. Semoga risalah kecil ini bermanfaat bagi kita semua. Bangkit…. Dan bangkitlah ahlal Qur`an gemerlap cahaya keberuntungan telah menanti kita. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                                                                                                   www.abuyoesuf.blogspot.com&lt;br /&gt;                                                                                                herubinsalim@yahoo.com.my&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15358194-117303119251511815?l=abuyoesuf.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abuyoesuf.blogspot.com/feeds/117303119251511815/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=15358194&amp;postID=117303119251511815' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15358194/posts/default/117303119251511815'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15358194/posts/default/117303119251511815'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abuyoesuf.blogspot.com/2007/03/gemerlap-cahaya-keberuntungan-membaca.html' title=''/><author><name>abu_yusuf</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15735738412660387343</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://photos.friendster.com/photos/39/85/27355893/2558270428391m.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15358194.post-115545487464364729</id><published>2006-08-13T00:30:00.000-07:00</published><updated>2006-08-13T00:41:15.066-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>Assalamu’alaikum &lt;br /&gt;Pujian kita haturkan selalu yang menciptakan kita dan tak pernah berhenti untuk memberi rahmatnya kepada kita, takkan pernah berhenti dan selalu takkan pernah berhenti.&lt;br /&gt;Saudaraku yang kucintai, tak pernahkah kita untuk beripikir bagaimana kita bisa melupakanNya. Pernahkah kita menolak pemberiannya? Pernahkah dan pernahkah? Dialah yang memberi dan pasti akan meminta kembali semua pemberianNya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tak pernah mengatakan bahwa saya seorang guru yang menggurui anda. Atau seorang majikan yang selalu memaksa budaknya. Tetapi anggaplah saya seorang sahabat ataupun saudaramu yang menaungimu ketika kamu membutuhkannya. Bagaimana tanggapan anda? Setiap manusia mengharapkan ketenangan yang selalu menyinari hatinya. Adakah pencarian ketenangan akan berhenti begitu saja, adakah jalan untuk mencarinya? Jawaban telah kau temukan sahabatku. Ku akan menemani pencarian tersebut. Dia yang memberikan cahaya kepada agama ini dan Dia yang menurunkan penyakit serta memberikan penawarnya. Dialah yang berkuasa memberikan kebahagiaan yang takkan pernah sirna kepada seorang hamba. Mari ikutilah aku menuju jalan surga yang abadi...........kutulis untukmu wahai saudaraku.......&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;11. Sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu (Adam), lalu Kami bentuk tubuhmu, kemudian Kami katakan kepada Para Malaikat: "Bersujudlah kamu kepada Adam", Maka merekapun bersujud kecuali iblis. Dia tidak Termasuk mereka yang bersujud.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. Banyak muka pada hari itu berseri-seri,&lt;br /&gt;9. Merasa senang karena usahanya,&lt;br /&gt;10. Dalam syurga yang tinggi,&lt;br /&gt;11. Tidak kamu dengar di dalamnya Perkataan yang tidak berguna.&lt;br /&gt;12. Di dalamnya ada mata air yang mengalir.&lt;br /&gt;13. Di dalamnya ada takhta-takhta yang ditinggikan,&lt;br /&gt;14. Dan gelas-gelas yang terletak (di dekatnya),&lt;br /&gt;15. Dan bantal-bantal sandaran yang tersusun,&lt;br /&gt;16. Dan permadani-permadani yang terhampar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika seseorang mengharapkan kehidupan yang indah dan ketenangan yang selalu menghiasi jiwa. Pencarian Itu takkan pernah berhenti dan berakhir, kehidupan manusia telah terkemas sedemikian rupa, bahkan manusia takkan pernah paham dan mengerti untuk apa ia diciptakan. Tetapi sinar suci itu telah menembus ke dalam hati anak Adam, yang tak pernah menundukkan kepalanya kepada benda-benda mati. Dia manusia yang mulia, terukir namanya di setiap hati-hati hamba Alloh, dan terdengar namanya disetiap seruan azan tatkala dikumandangkan. Muhammad sholollohu ‘alaihi wasallam. Rosul mulia yang tak pernah lelah mengajak manusia kepada cahaya Alloh. Dia yang selalu menyayangi umatnya, hingga mengharapkan mereka dapat merasakan telaganya. Mari kita melihat firman Alloh ta’ala mengenai penciptaan manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;56. Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kehidupan manusia ibarat roda yang berputar, melintasi durian, batu yang menghalang, bahkan jurang yang menghadang. Tapi ia takkan terelak dari keindahan dan pengalaman yang mengajarkan manusia bagaimana menggapai kehidupan yang bahagia di dunia dan di akhirat. Hidup manusia bagaikan musafir . lelah memikul semua ini, tetapi manusia harus menjalankannya, seorang musafir selalu menyiapkan perbekalannya untuk sampai pada titik persinggahan yang abadi. Dimanakah persinggahan itu wahai saudaraku yang didalamnya bidadari yang tak pernah lelah melayani hamba Alloh didalamnya, dan selalu tampak cantik ketika dipandang dan selalu bertambah kecantikannya. Subhanalloh ….&lt;br /&gt;بسم الله الرحمان الرحيم بسم الله الرحمان الرحيم بسم الله الرحمان الرحيم &lt;br /&gt;31. Sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa mendapat kemenangan,&lt;br /&gt;32. (yaitu) kebun-kebun dan buah anggur,&lt;br /&gt;33. Dan gadis-gadis remaja yang sebaya,&lt;br /&gt;34. Dan gelas-gelas yang penuh (berisi minuman).&lt;br /&gt;35. Di dalamnya mereka tidak mendengar Perkataan yang sia-sia dan tidak (pula) Perkataan dusta.&lt;br /&gt;36. Sebagai pembalasan dari Tuhanmu dan pemberian yang cukup banyak,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai saudaraku….apakah kau tak merindukan hal seperti ini? Yang setiap orang merindukannya bahkan seorang kafirpun berharap untuk mendapatkannya. Kembalilah kejalanNya kelak kau akan merasakan RahmatNya, ketenangan dariNya dan kehidupan yang Mulia. Aku tunggu balasanmu wahai saudaraku yang kucintai…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wassalamu’alaikum warohmatullohi wabarokatuh….&lt;br /&gt;Abu Yusuf heru ibnu salim al falimbanji&lt;br /&gt;Visit on __ www.abuyoesuf.blogspot.com&lt;br /&gt;Ibnusalim@hotmail.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15358194-115545487464364729?l=abuyoesuf.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abuyoesuf.blogspot.com/feeds/115545487464364729/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=15358194&amp;postID=115545487464364729' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15358194/posts/default/115545487464364729'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15358194/posts/default/115545487464364729'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abuyoesuf.blogspot.com/2006/08/assalamualaikum-pujian-kita-haturkan.html' title=''/><author><name>abu_yusuf</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15735738412660387343</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://photos.friendster.com/photos/39/85/27355893/2558270428391m.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15358194.post-114571876495163490</id><published>2006-04-22T07:46:00.000-07:00</published><updated>2006-04-22T08:12:45.670-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>hari itu.....................&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tinta penaku masih tetap berisi &lt;br /&gt;lembaranpun masih berada di sisi&lt;br /&gt;perjalanan masih panjang &lt;br /&gt;ketika roda sepedaku tetap berputar&lt;br /&gt;letiha rasanya..............&lt;br /&gt;tapi nikmat pun makin terasa , ketika jiwa, ruh, dan sel-sel ini tercurah untuknya (lirrohman)&lt;br /&gt;aku bahagia, aku ceria dengan kalian &lt;br /&gt;Kusangka diriku secarik kertas robek tak berarti&lt;br /&gt;Ketika kupaksakan diri tuk menghadapNya. &lt;br /&gt;Hati semakin pekat hitam karena niatku yang tak suci&lt;br /&gt;wahai jiwa selamatkan tubuh dan ruhmu dari hari dimana diakan murka &lt;br /&gt;dan wajah pendosa pun tertunduk malu &lt;br /&gt;Lalu berkata sang kafir "seandainy aku bak tanah tak terbebankan dosa "&lt;br /&gt;cahaya matahari pun menusuk sel-sel tubuh isyarat kepedihan dan siksa yang tak pernah habis &lt;br /&gt;mereka lari ketakutan saudara dari saudarinya &lt;br /&gt;istri dari suaminya &lt;br /&gt;seketika terlepas syams wa qomar &lt;br /&gt;mata-mata pun terbelalak ketakutan  &lt;br /&gt;wahai jiwa yang tenang tidakkah kau percaya dengan kabar ini dan jiwa kan berkata "tunggulah atas apa yang kau perbuat dan menangislah atas kehinaan yang menimpa&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15358194-114571876495163490?l=abuyoesuf.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abuyoesuf.blogspot.com/feeds/114571876495163490/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=15358194&amp;postID=114571876495163490' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15358194/posts/default/114571876495163490'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15358194/posts/default/114571876495163490'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abuyoesuf.blogspot.com/2006/04/hari-itu.html' title=''/><author><name>abu_yusuf</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15735738412660387343</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://photos.friendster.com/photos/39/85/27355893/2558270428391m.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15358194.post-113197187993112273</id><published>2005-11-14T04:36:00.000-08:00</published><updated>2005-11-14T04:38:00.320-08:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;p class="style3" align="center"&gt;&lt;strong&gt;خطبة الجمعة في مسجد الهاشمية &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#006600;"&gt;11/11/2005&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="center"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#006600;"&gt;لفضيلة الشيخ&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="center"&gt;&lt;span class="style4"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;&lt;span style="color:#006600;"&gt;&lt;strong&gt;علي بن حسن بن علي بن عبد الحميد &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;الحلبي الأثري &lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#006600;"&gt;بسم الله الرحمن الرحيم&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p dir="rtl" align="right"&gt;&lt;span style="color:#006600;"&gt;&lt;strong&gt;إن الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا، ومن سيّئات أعمالنا، من يهده الله فلا مضلّ له، ومن يضلل فلا هادي له. &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;وأشهد أن محمداً عبده ورسوله.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;أمّا بعد:&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;فيا أَيُّها المُؤمِنون:&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;يَقُولُ رَبُّنا -&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;تبارك وتعالى- في كتابه العزيز&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;: {لإيلافِ قُريش &lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;*&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt; إيلافِهِم رِحلةَ الشّتاءِ وَالصّيف &lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;*&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt; فَلْيَعْبُدُوا رَبَّ هَذا البيتِ &lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;*&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt; الّذي أطعمهُم مِن جوعٍ وَآمَنَهُم مِن خوف}.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;هذهِ سورةٌ كامِلَةٌ في كِتابِ اللَّهِ -تعالى-: مِن أقصرِ السُّوَرِ آياتٍ، وَمِن أواخِرِها في المُصحف ترتيباً.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;وهي -عَلى وَجازَتِها- حَوَت أصولَ الحياةِ الإسلامِيَّةِ كامِلَةً، ضِمْنَ قَواعِدِ الشّرْعِ وَضَوابِطِه، وَأُصُولِهِ المُحْكَمَةِ وَغاياتِه: مِن وحدةِ المُسْلِمين، وَاستِقْرارِ كَلِمَتِهِم، وَعِبادَةِ رَبِّهِم، وَسَلامَةِ أَمْنِهِم وَأمانِهِم..&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;وَهَكذا كَلامُ اللَّهِ المُعْجِزُ -كُلُّه-: بين اعتِقادٍ يُؤَيَّد، أو مُنْكَرٍ يُرَدّ، أو قَصَصٍ يُسْرَد، أو حُكْمٍ يُورَد:&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;فَقَوْلُهُ -تَعالى-: (لإيلافِ قُريش) معناه -كَما قَال الإِمامُ ابنُ كَثير-: ائتلافُهُم واجتِماعُهُم في بلدِهِم آمِنين، مُطْمَئِنِّين:&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;والائتِلاف وَالاجتِماع -هذا يا عباد الله- مِن أعظَمِ مَقاصِدِ الشّرعِ الحَكِيم، وَفيهِ يقولُ اللَّهُ -تبارك تعالى-: {واعتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعاً وَلا تَفَرَّقُوا}، وَنَبِيُّ الإسلامِ -عليه الصّلاة والسّلام- يقول: «يَدُ اللَّهِ عَلى الجماعة»، وَيقول: «الجماعة رحمة، والفُرقة عذاب».&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;أَيُّها المُؤمِنون:&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;إِنَّ هذا الأصْلَ الأصِيلَ -وحدةً، واجتِماعاً، وائتِلافاً يغيبُ -في ظِلال مِن العاطِفَةِ العَمْياء، والحماسَةِ الصمّاء- عن فِئامٍ مِن النّاس عادَوْا أَنْفُسَهُم، وَجَهِلُوا أَقْدارَهُم؛ وتسربلوا لَبُوسَ الإسلام وهُم عنهُ بَعِيدون، وتكلّموا باسمِ الشّرْعِ وهُم بِهِ جاهِلُون؛ فأفسدوا مِن حيث توهَّمُوا أنّهم مُصْلِحُون؛ وَاللّه -عزّ وجلّ- يَقُول في كتابه -وهو أصدق القائلين-: {قُل هَل نُنَبِّئُكُم بِالأَخْسَرِينَ أعمالاً الَّذينَ ضَلَّ سَعْيُهُم فِي الحياةِ الدُّنْيا وَهُم يحسَبُونَ أَنَّهُم يُحْسِنُونَ صُنْعاً}. &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;والاستِدلالُ بِهذهِ الآيَةِ الكريمَةِ في هَذا السّياقِ استِدْلالٌ حَقّ؛ مبنيٌّ عَلى التأصيلِ العِلْميّ المُحَرَّر: (العِبْرَةُ بِعُمومِ اللَّفْظ لا بِخُصُوصِ السَّبَب).&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;وَأمّا قولُهُ -تعالى-بَعْدُ- في السورة نفسِها-: (لإيلافِ قُريش إيلافِهِم رِحْلَةَ الشِّتاءِ وَالصّيف} فَفِيهِ مَعنى الاستِمرار وَالاستِقْرار -تَواصُلاً مَيموناً، وَتَكامُلاً مَأمُوناً-: استِمرارٌ يشملُ زمانَ الإسلامِ وَمكانَه، واستِقرارٌ يتّسِعُ بلدَ الإِيمانِ وأهلَهُ وَسُكَّانَه.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;وَذاكَ الائتِلافُ البَدَنِيّ، وَهَذا الأَمانُ الزمانيّ المكانيّ هُما -معاً- موضعُ عَجَبٍ وَتَعَجُّبٍ؛ لِكَوْنِهِمَا واقِعَيْنِ فِي أُناسٍ كانُوا -قَبْلاً- أذِلَّةً مُتَفَرِّقينَ قَلِيلِين، ثُمَّ صارُوا- مِن بَعْدُ- أعِزَّةً كَثَيرينَ مُتَّحِدِين..&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;وَما ذاكَ على  هذا النَّسق إلاّ بِسَبَبِ انتِسابِهِم الحَقّ لِهَذا الدِّين، وانتِمائِهِم الصِّدق لدعوةِ الحَقِّ وَاليَقِين.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;فَكَانَ البَدْءُ فِي السِّياقِ القُرآنِيّ -هذا- بِلامِ التعجُّب: {لإيلافِ قُريش}؛ تَوْجِيهاً لِلسَّامِعين وَإرشاداً للتَّالِينَ لأَمْرٍ قَد يَدِقُّ عَلَيْهِم فَهْمُه، أَو يَصْعُبُ عَلَيْهِم إِدْراكُهُ؛ فَكأنّه -سبحانه- يقول: اعجبوا لأمرِ قُريش، وَأَثَرِ نِعْمَتي عليهم؛ كَيْفَ كَانُوا، وَكَيْفَ صَارُوا..&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;وَهَذا الأَصْلُ الثَّانِي -أيضاً- غَدَا حالُهُ -عِند أولئِكَ الجهلة المُتَصَدِّرِين-، الحَماسِيِّين الغَوْغائِيِّين، المُتَطَرِّفِينَ الغَالِين -أَنْفُسِهِم-: كَحالِ ذاكَ الأَصْلِ الأَوَّلِ -تَماماً-: فَقَد صارَ نَسْياً مَنْسِيًّا، وَأَثَراً مَاضياً مَقْضِيًّا..&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;وَمَا آلَ حالُ هَؤُلاءِ القَوم إلى هَذا الحَدِّ المُزْرِي -سَفَهَاً وَطَيشاً وَبَلاءً- إلاَّ بِسَبَبِ جَهْلِهِم بِالشَّرْعِ وَبِنائِه، وَتَنَكُّبِهِم لِطَرِيقِ أَئِمَّةِ الدِّينِ وَعُلَمائِه، وَرَسُولُنا -صلى الله عليه وسلم- يقول: «إنّ مِن أشْراطِ السّاعَةِ أن يُلْتَمَسَ العِلْمُ عِند الأصاغِر»؛ فَهُم أصاغِرُ فِي أَسْنانِهِم، أصاغِرُ فِي مَعْرِفَتِهِم وَثَقافَتِهِم، ولا أقول في علمهم..&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;كَمَا وَصَفَهُم النبِيُّ الكريم -صلى الله عليه وسلم- فِي حَدِيثٍ آخَرَ بأنهم: «حُدَثَاءُ الأسْنان، سُفَهاءُ الأحْلام»..&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;lihat &lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.alhalaby.com"&gt;&lt;span style="color:#006600;"&gt;www.alhalaby.com&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15358194-113197187993112273?l=abuyoesuf.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abuyoesuf.blogspot.com/feeds/113197187993112273/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=15358194&amp;postID=113197187993112273' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15358194/posts/default/113197187993112273'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15358194/posts/default/113197187993112273'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abuyoesuf.blogspot.com/2005/11/11112005.html' title=''/><author><name>abu_yusuf</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15735738412660387343</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://photos.friendster.com/photos/39/85/27355893/2558270428391m.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15358194.post-112540499738224305</id><published>2005-11-13T05:25:00.000-08:00</published><updated>2005-10-13T06:16:31.850-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#333333;"&gt;و كم من عائب قولا صحيحا&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#666666;"&gt;و افته من الفهم السقيم&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;color:#000099;"&gt;&lt;em&gt;Betapa banyak orang mencela ucapan yang benar&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;color:#000099;"&gt;&lt;em&gt;yang disebabkan karena pemahaman yang buruk&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;center&gt;&lt;img height="150" src="http://www.geocities.com/fsms_sunnah/foto1e.jpg" weight="400" /&gt;&lt;/center&gt;&lt;center&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;NB : Ini Masjid tempat ta'lim ana...&lt;/span&gt;&lt;/center&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;center&gt;&lt;img height="150" src="http://www.geocities.com/fsms_sunnah/foto1i.jpg" weight="400" /&gt;&lt;/center&gt;&lt;center&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;NB : Ini sakan (Asrama) ana tinggal...&lt;/span&gt;&lt;/center&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15358194-112540499738224305?l=abuyoesuf.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abuyoesuf.blogspot.com/feeds/112540499738224305/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=15358194&amp;postID=112540499738224305' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15358194/posts/default/112540499738224305'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15358194/posts/default/112540499738224305'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abuyoesuf.blogspot.com/2005/11/betapa-banyak-orang-mencela-ucapan.html' title=''/><author><name>abu_yusuf</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15735738412660387343</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://photos.friendster.com/photos/39/85/27355893/2558270428391m.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15358194.post-112990045779504306</id><published>2005-10-21T06:10:00.000-07:00</published><updated>2005-10-21T06:14:17.810-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="font-size:180%;color:#6633ff;"&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Imam Ats-Tsauri Menuturkan&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:130%;color:#6633ff;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="color:#6633ff;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;em&gt;"Apabila engkau bukan termasuk orang yang takjub terhadap diri sendiri, hal lain yang perlu diingat ialah; hindarilah sifat senang disanjung orang." Maksudnya bukan orang lain tidak boleh memuji perbuatanmu itu, tetapi janganlah kamu meminta pujian dari orang lain. Hendaknya engkau selalu berhubungan dengan Allah Subhanahu wa Ta'ala (dengan selalu mengingatnya-pent). Dalam sebuah hadits disebutkan: Barangsiapa yang mencari ridha Allah Subhanahu wa Ta'ala, meskipun menimbulkan kemarahan manusia, niscaya Allah Subhanahu wa Ta'ala akan meridhainya dan akan membuat manusia ridha terhadapnya. Dan barangsiapa yang mencari kesenangan manusia, hingga membuat Allah murka maka Allah murka kepadanya dan membuat manusia murka terhadapnya." (HR. At-Tirmidzi&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;). &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15358194-112990045779504306?l=abuyoesuf.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abuyoesuf.blogspot.com/feeds/112990045779504306/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=15358194&amp;postID=112990045779504306' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15358194/posts/default/112990045779504306'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15358194/posts/default/112990045779504306'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abuyoesuf.blogspot.com/2005/10/imam-ats-tsauri-menuturkan-apabila.html' title=''/><author><name>abu_yusuf</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15735738412660387343</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://photos.friendster.com/photos/39/85/27355893/2558270428391m.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15358194.post-112747660651125254</id><published>2005-09-23T04:54:00.000-07:00</published><updated>2005-09-23T04:56:46.523-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#333399;"&gt;NASEHAT SYAIKH SHOLIH FAUZAN AL-FAUZAN&lt;br /&gt;DALAM DHOHIRATU TABDI' WA TAFSIQ WA TAKFIR WA DLOWABITUHA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span style="color:#993300;"&gt;Syaikh menjelaskan ciri-ciri Ahlus Sunnah wal Jama'ah dalam risalahnya Dhahiratu Tabdi' wa Tafsiq wa Takfir wa Dlowabituha (Bahaya tafsiq, takfir dan tabdi', Pustaka Imam Bukhori) hal 11 sebagai berikut :&lt;br /&gt;"Ciri-ciri ahlus sunnah wal Jama'ah, bahwa mereka satu tangan (ikatan, karena mereka bersaudara. Maka, tidak pernah saling mengkafirkan, memfasikkan dan saling membid'ahkan satu dengan lainnyam karena sikap-sikap itu merupakan ciri khas firqoh-firqoh yang sesat.&lt;br /&gt;Mereka selalu melaksanakan wasiat Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam, "Barang siapa diantara kalian masih hidup sesudahku, akan melihat perselisihan yang banyak. Maka wajib bagimu untuk berpegang teguh dengan sunnahku dan sunnahnya para khlaifah yang lurus dan mendapatkan petunjuk. Berpegangteguhlah dengannya dan gigitlah sunnah itu dengan gigi gerahammu, serta jauhilah perkara-perkara yang baru" ((HR Abu Dawud IV/200, Turmudzi VII/318,319, Ibnu Majah I/15-16 dan VII/157 semuanya dari 'Irbadh bin Sariyah Radhiallahu 'anhu).&lt;br /&gt;Maka mereka selalu di atas manhaj Rabbani ini. berpegang teguh dengan Sunnah Nabi dan Sunnah Khalifah yang lurus, serta manhaj salafus shaloh. Dan mereka tetap di atas demikian itu -Alhamdulillah- meskipun jumlah mereka sedikit, namun barakh dan penuh kebaikan.&lt;br /&gt;Mereka selalu mengikuti manhajnya Muhajirin dan Anshar dengan baik dan berpegang teguh dengannya, sebagai pengamalan firman Allah Ta'ala, "Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshor), mereka berdoa: "Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Rabb kami, Sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang." (QS al-Hasyr : 10)&lt;br /&gt;Pada halaman 15, Syaikh menjelaskan Dasar-Dasar Madzhab Ahlus Sunnah wal jama'ah sebagai berikut :&lt;br /&gt;"Dasar-dasar madzhab Ahlus Sunnah wal Jama'ah adalah, selamatnya hati dan lisan mereka terhapad para sahabat dan saudara muslim mereka dimana saja dan kapan saja. Mereka selalu berdo'a, "dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Rabb kami, Sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang."&lt;br /&gt;Mereka mengamalkan sabda Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam, "Salah dari kamu tidak akan beriman (dengan sempurna)hingga mencintai saudaranya seperti halnya mencintai dirinya sendiri." (HR BUkhari I/9 dari Anas bin Malik).&lt;br /&gt;Dan ini merupakan sifat Ahlus Sunnah wal Jama'ah (Kelompok yang selamat), bahwa mereka selalu berada di manhaj ini, saling melindungi, lemah lembut, saling sayang menyayangi satu tubuh, satu bangunan, satu ummat, yang merupakan ciri Ahlus Sunnah wal Jama'ah."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian pada halaman 21, Syaikh menjelasakan tentang Munculnya sikap Tabdi', Tafsiq dan Takfir sebagai berikut :&lt;br /&gt;"Sungguh telah muncul pada zaman ini di kalangan para pemuda dan orang-orang Islam yang jahil terhadap hakikat Islam dikarenakan semangat yang meluap dan tidak pada tempatnya, sikap tabdi', tafsiq dan takfir. Hingga kesibukan mereka dalam segala urusan hidup dipenuhi oleh sifat-sifat tercela ini. Membahas aib-aib dan menyebarkannya hingga tersebar luas. Ini merupakan tanda fitnah dan kehancuran. Kita memohon kepada Allah Ta'ala agar menjaga kaum Muslimin dari kejelekannya dan mengarahkan para pemuda muslim pada jalan yang benar dan menganugerahkan amal di atas manhaj salafus sholih, meniti di atasnya serta menjauhkan mereka dari da'i-da'i jahat."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada halaman 51, Syaikh menjelaskan kesimpulan beliau sebagai berikut :&lt;br /&gt;"Sesungguhnya perkataan tafsiq, tabdi' dan takfir adalah kalimat kotor yang tidak akan hilang begitu saja. Bila kata-kata itu dilontarkan kepada manusia, maka akan mempunyai dampak.&lt;br /&gt;"Bila seseorang berkata kepada saudaranya, hai si kafir! maka sungguh akan kembali ucapan itu kepada salah satu dari keduanya" (HR Bukhari VII/97 dari Abi Hurairah)&lt;br /&gt;"Barangsiapa yang melaknat seorang mukmin, maka dia seperti membunuhnya dan barangi siapa yang menyatakan seorang mukmin dengan kekafiran, maka ia seperti membunuhnya." (HR Bukhari VII/84 dari Tsabit bin Dhihah).&lt;br /&gt;Maka jika seseorang berkata kepada saudaranya: Hai si Fasiq, hai si Kafir, hai musuh Allah, sedangkan orang itu tidak demikian, maka akan kembali ucapan itu kepada yang berkata. Seperti perkataan seseorang: Demi Allah, Allah tidak akan mengampuni fulan, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam bersabda bahwa Allah berfirman :&lt;br /&gt;"Barang siapa menyangka kepada-Ku tidak akan mengampuni fulan, sungguh aku telah ampuni dia dan aku hapuskan amalmu." (HR Muslim IV/2023 dari Jundab)&lt;br /&gt;Padahal ini satu kalimat, maka bagaimana bila lebih daripada itu?&lt;br /&gt;"Bisa jadi seorang hamba berkata dengan satu perkataan yang bisa menjerumuskan dia di neraka lebih jauh antara arah timur dan barat." (HR Bukhari VII/184 dari Abi Hurairah)&lt;br /&gt;kalau begitu meskipun satu kalimat, maka itu sangat berbahaya.&lt;br /&gt;Maka sesunguguhnya orang-orang yang melontarkan ucapan-ucapan kepada para ulama dengan tuduhan tafsiq, tabdi' dan takfir tidak akan membahayakan para ulama tersebut, tetapi justru membahayakan diri mereka sendiri. Karena para ulama memiliki kedudukan, ilmu dan kehormatan, dan Allah tidak akan menyia-nyiakan amal mereka yang telah mereka lakukan untuk Islam dan Muslimin. Adapun tuduhan itu akan kembali kepada orang-orang yang menuduh.&lt;br /&gt;Maka wajib bertakwa kepada Allah orang-orang yang suka melontarkan tuduhan kepada para ulama baik yang sudah wafat maupun yang masih hidup. Karena Allah Sunhanahu wa Ta'ala telah memperingatkan ummat untuk tidak ikut-ikutan pada orang tersebut.&lt;br /&gt;"Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu." (Al-Hujurat : 6)&lt;br /&gt;Makna kata fatabayyanu adalah mencari kejelasan dari ucapan mereka dan tidak langsung menerima ucapan mereka.&lt;br /&gt;"Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim." (al-Hujurat : 11)&lt;br /&gt;"Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang" (al-Hujurat : 12)Allah melarang su'udhan kepada orang-orang muslim secara umum, maka bagaimana bila itu ditujukan kepada ulama? Oleh karena itu, su'udhan kepada ulama merupakan dosa besar. Karena mereka pewaris para nabi. Dan bila ummat ini tidak percaya pada ulamanya, maka kepada siapa mereka hendak percaya.&lt;br /&gt;Kata-kata 'wa laa tajassasuu  yakni jangan membicarakan aib muslimin yang seharusnya ditutupi. Yakni, bahwa makan daging bangkai itu tidak lebih hina daripada melontarkan tuduhan (ghibah) kepada para ulama, karena mereka sebaik-baik ummat. Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :&lt;br /&gt;"Ghibah itu kamu menyebut saudaramu tentang apa-apa yang dia tidak suka. Mereka bertanya, Ya Rasulullah, bagaimana pendapatmu jika yang ada pada saudaraku itu seperti yang aku katakan?, Rasulullah menjawab, JIka padanya seperti yang kamu sebutkan, itulah yang dinamakan ghibah. Dan jika tidak ada padanya maka berarti kamu telah menuduhnya." (HR Muslim IV/200 dari Abi Hurairoh).&lt;br /&gt;Jika orang yang mengatakan itu tidak terlepas dari dua hal, baik sebagai penggibah ibarat memakan bangkai atau penuduh yang dusta."&lt;br /&gt;Pada halaman 57, Syaikh menyatakan wajibnya memberikan nasihat sebagai berikut :&lt;br /&gt;"Dari sini wajib bagi Muslimin untuk memberikan nasehat kepada orang-orang yang panjang lidah, dan mengingkari mereka dengan sekeras-keras pengingkaran serta mencegah upaya-upaya mereka. Sehingga mereka kembali kepada kebenaran dan Jama'ah kaum muslimin selamat dari dosa dan adzab. Maka nasihatilah mereka, karena agama itu nasehat. Karena ucapan mereka itu mengandung bahaya terhadap ummat Islam yang bisa memecah belah keutuhan dan melemahkan jama'ah mereka, membangkitkan permusuhan dan menghapuskan kepercayaan dari ulama kaum muslimin. sedangkan hilangnya kepercayaan antara ummat da para ulama itu adalah musuh yang etrbesar hingga akan menghilangkan manfaat yang besar dari ilmu agama ini. Oleh karena itu wajib bagi orang-orang yang mengikuti jejak para ulama untuk bertaubat kepada Allah dan menghentikan langkah ini, karena itu merupakan langkah setan.&lt;br /&gt;"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengikuti langkah- langkah syaitan" (an-Nur : 21)&lt;br /&gt;Maka, kita dan kaum muslimin wajib bertaubat kepada Allah dan menumbuhkan rasa cinta di antara ummat Islam, serta menjauhkan segala yang menyebabkan kedengkian dan perpecahan serta kebencian diantara mereka.&lt;br /&gt;Dan aku minta ampun kepada Allah untuk diriku dan dirimu, serta seluruh ummat Islam. Aku memohon kepada-Nya agar memberikan petunjuk kepada kita dalam beramal sholih dan menjadikan amal kita ikhlash karenanya. Shalawat dan Salam semoga tetap tercurahkan kepada Nabi kita Muhammad Shallallahu 'alahi wa Sallam, keluarganya dan seluruh sahabatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TANYA JAWAB BERSAMA SYAIKH FAUZAN SEPUTAR MASALAH INI&lt;br /&gt;Pertanyaan : Bagaimanakah batasan bid'ah dan kapan seseorang disebut sebagai mubtadi'?&lt;br /&gt;Jawab : Bid'ah adalah seperti yang disabdakan Nabi : barangsiapa mengada-adakan pada urusan kami yang tidak ada padanya maka tertolak (HR Bukhari III/167 dari Aisyah). segala yang diada-adakan adalah bid'ah dan setiap bid'ah adalah sesat. Sedangkan bid'ah itu adalah setiap sesuatu yang tidak ada dasarnya dari al-Kitab maupun as-Sunnah, baik dalam masalah ibadah atau fikiran dan sebagainya, baik dalam ucapan, amalan atau keyakinan dan lain-lain.&lt;br /&gt;Pertanyaan : Bila memperingatkan kebid'ahan akan menimbulkan fitnah, maka apakah berarti diam berarti lebih utama? atau tetap memperingatkannya meskipun terjadi apa yang akan terjadi?&lt;br /&gt;Jawab : Cukup cerdik (penanya ini penting). Bila diperkirakan lebih besar madharatnya daripada mashlahatnya, maka di sana melakukan kemudharatan yang lebih ringan dalam rangka menolak madharat yang lebih besar adalah lebih tepat. Akan tetapi tidak boleh diam dalam menjelaskan dan berdakwah kepada Allah dengan nasehat yang baik dan mengajari manusia sedikit demi sedikit. "Bertakwalah kepda Allah sekemampuanmu" (at-Taghabun : 16). Maka jia menampakkan keingkaran akan terjadi mafsadah (fitnah) yang lebih besar, maka kita jelaskan dan kita terangkan kepada manusia itu hingga mau meninggalkan kebid'ahan dari pribadi-pribadi. "Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik" (an-Nahl : 125). Orang jahil harus dimulai dengan hikmah dan lunak. Bila kita lihat dirinya berpaling maka dinasehati dan ditakut-takuti dengan ancaman Allah. Bila kita lihat dia tidak menerima kebenaran dan malah membantah serta menolaknya dengan alasan-alasan, maka dipatahkan dan dibantah dengan alasan-alasan itu dengan cara yang lebih baik. Walhasil bahwa kaidah secara syar'i memperbolehkan melakukan kemudharatan yang lebih ringan untuk mencegah kemudharatan yang lebih besar. Karena mencegah timbulnya kemadharatan itu lebih didahulukan daripada menjalankan kemaslahatan. Akan tetapi ini bertahap. Maka kita bermuamalah dengan mereka orang-orang yang melakukan kebid'ahan itu. Kita bermasyarakat dengan mereka secara baik dan lunak, kita jelaskan kepada mereka bahwa ini salah dan tidak boleh dilakukan, sering-sering kita ingatkan, maka Allah akan memberikan hidayah kepada orang yang Dia kehendaki. Maka mereka akan bisa membekas dengan nasehat dan peringatan. Mereka akan tinggalkan kebid'ahan itu dari diri mereka sendiri. Kita berikan jaminan kepada mereka demi keberhasilan dakwah. Kita tempatkan hikmah pada tempatnya, nasehat pada tempatnya dan kita tempatkan ketegasan pada tempatnya. Demikianlah seharusnya yang ada pada da'iyah ilallah di setiap tempat dan kesempatan.&lt;br /&gt;Pertanyaan : Kami menginginkan penjelasan darimu ya  syaikh tentang prinsip-prinsip salaf dalam menyikapi ahli bid'ah, jazzakumullahu.&lt;br /&gt;Jawab : Orang-orang salaf tidak membid'ahkan setiap orang dan tidak melemparkan kata bid'ah kepada setiap orang yang melemparkan kata bid'ah kepada setiap orang yang menyelisihi sunnah. Mereka mensifati bid'ah hanya pada orang yang melakukan amalan untuk mendekatkan diri kepada Allah tanpa dalil. Tidak disyariatkan oleh Allah dan Rasul-Nya berdasarkan hadits Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam, "Barang siapa yang beramal tanpa ada perintah dari kami, maka tertolak." Bid'ah adalah melakukan sesuatu yang baru dalam agama yang tidak ada dalil dari Kitabullah dan Sunnah Rasul Shallallahu 'alaihi wa Sallam, inilah bid'ah. Bila seseorang telah nyata melakukan bid'ah dalam agama dan tidak mau kembali, maka sesungguhnya manhaj salaf menghajrnya, menjauhkan diri darinya dan tidak bermajelis dengannya. Inilah manhaj mereka. Akan tetapi seperti yang aku sebutkan yaitu sesudah ada kejelasan bahwa dia mubtadi'., sesudah dinasehati dan tidak mau kembali dari kebid'ahannya. Maka, saat itulah dia dihajr supaya bahayanya tidak menimpa pada orang yang duduk atau berhubungan dengannya, karena manusia sudah diperingatkan dari ahli bid'ah dan bid'ah-bid'ahnya. Adapun berlebihan dalam menilai bid'ah pada setiap orang yang menyelisihi pendapat, kemudian dikatakan 'orang ini mubtadi'!.  Setiap orang menilai lainnya mubtadi', padahal dia tidak mengada-ada dalam agama sedikipun, kecuali sekedar menyelisihi pendapat seseorang atau menyelisihi jama'ah yang lain, maka bukanlah orang ini mubtadi'. Orang yang melakukan perkara yang haram atau maksiat disebut ahli maksiat dan tidak setiap ahli maksiat disebut dengan mubtadi'. Tidak setiap orang yang salah mubtadi' karena mubtadi' itu orang yang mengada-adakan dalam agama yang tidak ada dalilnya. Inilah mubtadi'. Adapun berlebihan menjuluki bid'ah secara umum kepada setiap orang yang menyelisihi pendapat orang lain, maka ini tidak benar, dan bukan dari manhaj salaf. (Lihat kitab Hijrul Mubtadi' oleh Syaikh Bahan bin Abdullah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Sahab li fatawa Islamiyyah no 335&lt;br /&gt;Syaikh Sholih Fauzan ditanya tentang dakwah khowarij dan mu'tazilah yang menyebarkan kekerasan dan takfir kepada kaum Muslimin, syaikh menasehatkan sebagai berikut :&lt;br /&gt;Hal ini adalah Manhaj yang khothi' (salah), karena Islam melarang dari kekerasan dalam dakwah. Allah Ta'ala berfirman : "Serulah mereka ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan mau'idhah hasanah dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik." (an-Nahl : 125). Dan Allah berfirman pula pada Musa dan Harun 'alaihimas salam yang akan berhadapan dengan Fir'aun, "Dan katakanlah (wahai kamu berdua) kepadanya (Fir'aun)perkataan yang lembut semoga dia ingat dan takut" (Thoha : 44).&lt;br /&gt;(Ingatlah) kekerasan hanya menemui kekerasan, dan tidaklah akan menghasilkan sesuatu melainkan lawan dari yang diinginkan, sehingga akan membekas pada kaum muslimin keburukannya. Yang diinginkan adalah da'wah dengan hikmah dan dengan cara yang baik, dengan menggunakan ar-Rifru (kelemahlembutan) terhadap mad'u. Adapun menggunakan kekerasan terhadap mad'u dan tasyaddud serta bengis, maka cara ini bukanlah cara Islam!!! Wajib bagi setiap Muslim untuk menempuh da'wahnya dengan manhaj Rasul Shallallahu 'alaihi wa Sallam dan dengan tuntunan al-Qur'an dan as-Sunnah...!!!&lt;br /&gt; &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15358194-112747660651125254?l=abuyoesuf.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abuyoesuf.blogspot.com/feeds/112747660651125254/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=15358194&amp;postID=112747660651125254' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15358194/posts/default/112747660651125254'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15358194/posts/default/112747660651125254'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abuyoesuf.blogspot.com/2005/09/nasehat-syaikh-sholih-fauzan-al-fauzan.html' title=''/><author><name>abu_yusuf</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15735738412660387343</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://photos.friendster.com/photos/39/85/27355893/2558270428391m.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15358194.post-112747594111689061</id><published>2005-09-23T04:44:00.000-07:00</published><updated>2006-04-22T07:41:24.740-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>BAGAIMANA SIKAP SEORANG MUSLIM DALAM MENGHADAPI FITNAH ? &lt;br /&gt;(Naskah ceramah Syaikh Sholeh bin Abdil 'Aziz Ali Asy-syaikh (Pada rabi'uts tsani 1411 HAlih Bahasa :Ustadz Abu Abdurrahman Thayib, Lc. &lt;br /&gt;Muqoddimah Segala puji bagi Allah yang telah berfirman : (لكل أمة جعلنا منسكاهم ناسكوه فلا ينازعنك في الأمر وادع إلى ربك إنك لعلى هدى مستقيم . وإن جادلوك فقل الله أعلم بما تعملون . الله يحكم بينكم يوم القيامة فيما كنتم فيه تختلفون)Artinya : Bagi tiap-tiap umat telah kami tetapkan syari'at tertentu yang mereka lakukan, maka janganlah sekali-kali membantah kamu dalam urusan (syari'at) ini dan serulah kepada (agama) Tuhanmu. Sesungguhnya kamu benar-benar berada pada jalan yang lurus.Dan jika mereka membantah kamu, maka katakanlah : " Allah lebih mengetahui tentang apa yang kamu kerjakan.Allah akan mengadili diantara kamu pada hari kiamat tentang apa yang kamu dahulu selalu berselisih padanya. (Surat Al-Hajj : 67 – 69)Dan segala puji baginya yang telah berfirman :(أليس الله بكاف عبده ويخوفونك بالذين من دونه ومن يضلل الله فما له من هاد. ومن يهد الله فما له من مضل أليس الله بعزيز ذي انتقام)Artinya : Bukankah Allah cukup untuk melindungi hamba-hamba-Nya . Dan mereka mempertakuti kamu dengan (sembahan-sembahan) yang selain Allah ? dan siapa yang disesatkan Allah maka tidak seorang pun pemberi petunjuk baginya.(Surat Az-Zumar : 36)Aku bersaksi bahwasanya tiada yang berhak untuk disembah dengan benar melainkan Allah tiada sekutu baginya, persaksian orang yang telah merasuk ketauhidan didalam lubuk hatinya, dan dia mengetahui apa – apa yang dicintai Allah dan yang diridhoi-Nya dari perkataan maupun perbuatan.Dan aku bersaksi bahwasanya Muhammad adalah hamba dan utusan, pilihan serta kekasih-Nya, dialah pemberi kabar gembira sekaligus peringatan, beliau bersabda dan memberi pelajaran, maka beruntunglah bagi yang mengambil sunnah dan mengikuti jejakserta meneladani petunjuknya, semoga shalawat Allah baginya, keluarga, shahabatnya, serta yang mengikuti petunjuknya sampai hari kiamat nanti, kemudian setelah itu :Wahai saudaraku berlindunglah kepada Allah dari segala bentuk fitnah, berlindunglah kepada Allah dari fitnah yang merusak agama ini, merusak pikiran, badan serta merusak segala bentuk kebaikan, berlindunglah kepada Allah dari itu semua, karena tidak ada kebaikan didalam fitnah itu selamanya.Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam sering berlindung kepada Allah dari fitnah tersebut dan beliau shallallahu 'alaihi wa sallam memperingatkan darinya.Oleh karena itulah ketika Bukhari –rahimahullah- menyebutkan didalam Shahihnya kitab Al -fitan beliau memulainya dengan perkataan : ( Bab : firman Allah ta'ala :(واتقوا فتنة لا تصيبن الذين ظلموا منكم خاصة)Artinya : Dan peliharalah dirimu dari pada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang zalim saja diantara kamu . (Surat Al-Anfal : 25)Dan dahulu Rasulullah -shallallahu 'alaihi wa sallam- memperingatkan dari fitnah itu).Fitnah itu apabila telah datang tidaklah akan menimpa orang yang zhalim saja akan tetapi akan menimpa semuanya, dan tidak akan meninggalkan perkataan orang yang berkata . Maka wajib bagi kita untuk berhati – hati dari fitnah sebelum terjerumus kedalamnya, serta menjauhkan diri sejauh-jauhnya dari setiap hal yang mendekatkan kepada fitnah karena termasuk tanda-tanda akhir zaman adalah banyaknya fitnah sebagaimana yang telah tersebut didalam hadits shohih bahwasanya Nabi -shallallahu 'alaihi wa sallam- pernah bersabda : (tanda – tanda akhir zaman adalah ..pent-cepatnya waktu, sedikitnya amal, meratanya kebakhilan, banyaknya atau nampaknya fitnah ).Karena fitnah itu apabila telah tampak maka akan selalu mengiringinya kerusakan yang mendekatkan kepada hari kiamat.Termasuk dari kasih-sayangnya Nabiyullah -shallallahu 'alaihi wa sallam- kepada kkita adalah peringatan beliau untuk kita berhati-hati dari terjerumus kedalam segala bentuk fitnah.Allah subhanahu wa ta'ala telah memperinngatkan kita dengan firman-Nya :(واتقوا فتنة لا تصيبن الذين ظلموا منكم خاصة)Berkata Ibnu katsir rahimahullah didalam mentafsiri ayat ini : (Ayat ini walaupun ditujukan kepada Shahabat akan tetapi dia itu umum untuk setiap muslim karena Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam memperingatkan dari segala bentuk fitnah).Berkata pula Al- alusy didalam tafsirnya tentang ayat ini : (ditafsirkan fitnah didalam ayat : ( واتقوا فتنة لا تصيبن الذين ظلموا منكم خاصة )dengan sikap bertoleransi didalam menyuruh yang baik dan melarang yang mungkar, ditafsirkan pula dengan perpecahan dan perselisihan serta tidak adanya pengingkaran terhadap bid'ah yang telah tampak dan lain sebagainya).Beliau pun berkata : (Semua makna tersebut disesuaikan dengan situasi dan kondisi).Maksudnya apabila zaman itu zaman perpecahan atau perselisihan maka seharusnya sebagian kita memperingatkan sebagian yang lain dengan firman-Nya :( واتقوا فتنة لا تصيبن الذين ظلموا منكم خاصة )Maksudnya adalah takutlah perpecahan dan perselisihan yang akibatnya tidak hanya menimpa mereka yang zhalim saja akan tetapi akan menimpa semuanya.Oleh karena itulah kami pada kesempatan kali ini ingin mengingatkan tentang perkara ini, sebab kami melihat adanya kebangkitan islam yang lurus – dengan seizin Allah – di negeri ini (Saudi Arabia –pent-) yang tegak diatas tauhid dan seruan kepada peribadahan hanya kepada Allah saja pada masa ini, yang mana kita tidak melihat hal demikian itu kecuali yang hanya dikehendaki oleh Allah.Maka wajib bagi kami untuk mengingatkan mereka dan diri kami semuanya untuk terus menuntut ilmu yang bermanfaat dan memegang teguh aqidah para Salafush sholeh aqidah ahli sunnah wal jama'ah.Sesungguhnya kebangkitan yang mubarak ini adalah kebangkitan yang kita meng harap darinya tersebar agama Allah dan menjadikan manusia cinta terhadap syariat ini serta istiqomah diatasnya, kita menginginkan darinya agar dia tetap diatas ilmu yang bermanfaat, sebab pemuda-pemuda kita pada saat ini mereka sangat berantusias sekali terhadap ilmu yang bermanfaat serta terhadap perkataan ahli sunnah wal jama'ah.Oleh sebab itu wajib bagi saya untuk menukilkan, mengingatkan serta menerangkan kepada mereka beberapa perkataan Imam-imam kita ahli sunnah wal jama'ah yang dibangun diatas hadits Rasul shallallahu 'alaihi wa sallam serta diatas firman Allah subhana.Sesungguhnya fitnah apabila tidak diperhatikan keadaan serta tidak dilihat akibatnya maka akan berakhir dengan kejelekan, hal ini jika ahli ilmu tidak memperhatikan perkara- perkara baru yang timbul atau fitnah yang tampak sesuai dengan apa yang dikehendaki oleh Allah dan Rasul-Nya.Ketentuan-ketentuan (dhowabith) dan kaidah-kaidah haruslah diperhatikan, karena dengan itulah seseorang akan terjaga dari kekeliruan. Jika kita mengambil ketentuan-ketentuan syariat serta kaidah-kaidah tersebut dan kita pegang teguh maka akan kita hasilkan banyak sekali kebaikan dan kita tak akan menyesal selamanya –insya Allah-.Ketentuan (Dhabith) pada setiap perkara haruslah diketahui, sehingga mudah bagimu –wahai saudaraku- untuk menjaga diri dari terseret kedalam akibat yang buruk atau kamu tidak bisa mengetahui apa akibatnya nanti, kemaslahatan atau kerusakan.Dari sinilah kita mengetahui bahwasannya harus kita memperhatikan ketentuan-ketentuan dan kaidah-kaidah yang telah dijelaskan ahlu sunnah wal jama'ah.Apakah yang dimaksud dengan dhobith (ketentuan) dan kaidah itu ?Dhobith didalam suatu masalah itu adalah apa-apa yang dengannya kita mengetahui bagaimana menghukumi masalah-masalah disuatu bab dan kepadanyalah dikembalikan permasalahan-permasalahan di bab tersebut.Adapun kaidah itu adalah perkara menyeluruh yang merujuk kepadanya masalah-masalah dibab-bab yang berbeda.Oleh karena itu wajib bagi kita untuk mengambil ketentuan-ketentuan dan kaidah-kaidah yang dipakai Ahlu sunnah wal jama'ah.Nabi shallallahu 'alahi wa sallam pernah bersabda : ( إنه من يعش منكم فسيرى اختلافا كثيرا, فعليكم بسنتي وسنة الخلفاء الراشدين المهديين من بعدي تمسكوا بها وعضوا عليها بالنواجذ).Artinya : Sesungguhnya barangsiapa yang hidup diantara kalian akan melihat perselisihan yang banyak maka wajib bagi kalian untuk berpegang teguh dengan sunnahku dan sunnah Khulafa' rasyidin setelahku, pegang dan gigit dengan gigi-gigi geraham.( Diriwayatkan oleh Abu Dawud (4607), Tirmidzi (2676), dan Ahmad 4/126-127 dan Ibnu Majah(43,44)Sungguh para Shahabat telah melihat perselisihan tersebut dan tidaklah mereka itu selamat melainkan karena berpegang teguh dengan kaidah-kaidah yang diajarkan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan Khulafa' rasyidin setelahnya.MANFAAT YANG BISA DIAMBIL DARI BERPEGANG DENGAN KETENTUAN-KETENTUAN DAN KAIDAH-KAIDAH INI.PERTAMA :Bahwasanya memperhatikan ketentuan-ketentuan dan kaidah-kaidah tersebut akan menjaga gambaran seorang muslim dari hal-hal yang tidak sesuai dengan syariat dan sekaligus memantapkan pikirannya tentang gambaran tersebut.Telah dimaklumi bahwa seorang muslim apabila menghadapi suatu masalah tanpa dhobith dan kaidah akan terombang-ambing didalam perbuatannya terhadap diri, mau pun keluarganya, masyarakat serta umatnya.Dari sinilah kita mengetahui pentingnya ketentuan-ketentuan dan kaidah-kaidah itu karena dia akan mengatur akal seorang muslim didalam gambaran-gambarannya yang merupakan sumber dari perbuatannya didalam diri, keluarga, ataupun masyarakatnya. KEDUSAKEDUA : Kemudian didalam memperhatikan ketentuan-ketentuan dan kaidah-kaidah tersebut ada manfaat yang lain yaitu dia akan menjaga seorang muslim dari kesalahan, karena kalau dia berjalan hanya berlandaskan diatas pendapatnya saja didalam menghadapi apa yang dia temui atau dalam menghadapi fitnah jika telah tampak dan mencari jalan keluar dengan mengandalkan akal pikirannya saja tanpa peduli dengan dhowabith serta kaidah-kaidah Ahli sunnah wal jama'ah maka dikhawatirkan akan terjerumus kedalam kesalahan dan jika itu terjadi maka akan berakibat fatal karena kesalahan ini akan bercabang dan berkembang dan mungkin juga bertambah.Dhowabith dan kaidah-kaidah ini apabila kita berpegang teguh kepadanya akan kita dapati banyak sekali manfaatnya, sebab dia akan menjaga kita dari kesalahan.Mengapa bisa demikian ?Karena siapakah yang membuat dhowabith dan kaidah-kaidah tersebut ? Yang membuatnya adalah Ahlu sunnah wal jama'ah berdasarkan dalil-dalil.Maka barangsiapa berjalan dibelakang dalil dan mengikuti ahlu sunnah wal jama'ah maka dia tidak akan menyesal selamanya.KETIGA : Termasuk dari faedah mengikuti dhowabith serta kaidah-kaidah itu adalah bahwasannya dia akan menyelamatkan seorang muslim dari dosa, sebab jika dia berjalan hanya berlandaskan kepada akal pikirannya saja dan kamu juga seperti itu dan kamu sangka ini adalah benar tanpa peduli terhadap dhowabith serta kaidah-kaidah tersebut maka sesungguhnya kamu tidak akan bisa selamat dari dosa, karena kamu tidaklah tahu apa yang akan terjadi akibat dari perkataan serta perbuatanmu jika kamu berjalan hanya berlandaskan akal pikiran saja atau perasaanmu yang kau kira itu benar. Adapun apabila kamu mengambil sesuai dengan apa-apa yang ditunjukkan oleh dalil dari dhowabith dan ushul yang global maka kamu akan selamat dari dosa - insya Allah – dan Allah azza wa jalla akan mengampunimu karena kamu berjalan sesuai dengan dalil dan sungguh baik orang yang mengambil dalil sebagai pedomannya. Oleh karena itulah –wahai saudaraku- telah jelas bagi kita keharusan untuk meng ambil dhowabith serta kaidah-kaidah yang akan datang penjelasannya.Dhowabith dan kaidah-kaidah ini sumber dan dalilnya adalah satu dari dua perkara yaitu :PERTAMA : Nash bagi kaidah dan dhobith tersebut didalam dalil-dalil syar'i seperti didalam Al-qur'an dan sunnah serta diamalkan oleh ahlu sunnah wal jama'ah.KEDUA : Sunnah yang diamalkan oleh para Shahabat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam karena para Shahabat, Tabi'in setelah mereka serta para Imam-imam ahli sunnah wal jama'ah mereka memiliki sikap dalam menghadapi fitnah apabila telah tampak dan didalam keadaan yang telah berubah, mereka mensikapinya sesuai dengan dalil-dalil, kemudian mempraktekkannya dalam perbuatan .Oleh karena itulah penglihatan, akal pikiran kita tidak akan tersesat jika kita meng ikuti jejak mereka. Dan ini adalah rahmat Allah bagi kita yang mana Dia tidak meninggal kan kita tanpa sauri tauladan, dan ulama Ahlu sunnah wal jama'ah itulah yang harus kita jadikan pemahaman, pemikiran dan perkataan mereka sebagai rujukan karena merekalah yang lebih tahu tentang syari'at ini, serta merekalah yang lebih paham tentang kaidah-kaidah global serta dhowabith yang bisa menjaga kita dari kesalahan dan dari ketergelin ciran. Dari sini telah jelas bagi kita kewajiban untuk mengambil kaidah-kaidah dan dhowa bith yang akan saya jelaskan dan telah jelas juga bagi kita manfaat dari mengambil kaidah-kaidah dan dhowabith itu serta pengaruhnya bagi diri dan masyarakat kita. Maka berun tunglah bagi mereka yang berjalan dibelakang orang yang mendapat petunjuk dan yang sesuai dengan dalil-dalil dan dia tidak akan menyesal untuk selama-lamanya.DHOWABITH DAN KAIDAH-KAIDAH SYARIAT YANG WAJIB DIIKUTI DIDALAM MENGHADAPI FITNAHPERTAMA : Apabila fitnah telah muncul dan keadaan sudah berubah maka wajib bagi kita untuk bersikap lemah lembut, berhati-hati tidak tergesa-gesa serta santun.Ini merupakan kaidah yang penting yaitu :1. Lemah lembut, karena nabi shallallahu 'alaihi wa sallam pernah bersabda dalam hadits yang shohih : (Tidaklah lemah lembut itu ada pada sesuatu kecuali akan baik sesuatu itu dan tidaklah dia dicabut dari sesuatu itu kecuali dia akan menjadi buruk).Berkata Ahli ilmi : sabda beliau ini (tidaklah dia ada pada sesuatu kecuali dia akanbaik) kata (شيء / sesuatu) adalah umum, dia datang setelah konteks peniadaan, hal ini mengharuskan mencakup segala sesuatu, yaitu bahwasanya lemah lembut itu terpuji disegala keadaan.Dan didalam hadits yang lain Nabi shallallhu 'alaihi wa sallam bersabda : (Sesung guhnya Allah mencintai lemah lembut disegala perkala) hal ini beliau katakan kepada 'Aisyah As-siddiqah binti As-siddiq dan Imam Bukhari memberikan salah satu judul didalam kitabnya ash-shohih ( bab lemah lembut disegala perkara ).Maka wajib bagi kamu untuk berlemah lembut disegala perkara dan berhati – hati jangan cepat marah serta kasar, karena kamu tidak akan menyesal selamanya kalau kamu berlemah lembut, tidaklah lemah lembut itu ada pada sesuatu kecuali sesuatu itu akan baik didalam pemikiran, didalam mensikapi, didalam menghukumi dan lain sebagai nya.Wajib bagi kamu untuk bersikap lemah lembut jangan tergesa-gesa dan jangan bersama orang yang tergesa-gesa, akan tetapi berhati-hatilah dalam rangka mengamalkan sabda Nabi shllallahu 'alahi wa sallam : (tidaklah lemah lembut itu ada pada sesuatu melainkan sesuatu itu akan baik).Ambillah perkara yang baik dan jauhilah perkara yang buruk yaitu dengan dicabut nya sikap lemah lembut.2. Berhati-hati, bersabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam kepada Asyaj Abdul Qais : (Sesungguhnya ada pada dirimu dua perangai yang Allah dan Rasul-Nya mencintai keduanya yaitu santun dan berhati-hati).Berhati-hati itu adalah perangai yang terpuji, oleh karena itulah Allah berfirman :( و يدع الإنسان بالشر دعاءه بالخير و كان الإنسان عجولا ) Artinya : Dan manusia mendo'a untuk kejahatan sebagaimana ia mendo'a untuk kebaikan. Dan adalah manusia bersifat tergesa-gesa. (Surat Al-Isra' : 11) Ahlu ilmi berkata : disini ada celaan bagi manusia yang mana mereka selalu tergesa-gesa, maka barang-siapa yang memiliki perangai seperti ini maka dia tercela, oleh sebab itulah Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam tidak pernah tergesa-gesa.3. Santun dalam menghadapi fitnah dan ketika terjadi suasana yang tidak menentu adalah suatu hal yang sangat terpuji, karena dengan santun itulah seorang akan dapat melihat setiap permasalahan dengan sebenarnya.Diriwayatkan dalam shohih Muslim dari hadits Al-laits bin sa'ad dari Musa bin 'ali dari ayahnya bahwasanya Al-Mustaurid Al-Qurasy ada disisinya 'Amru bin Al-ash -radhiyallahu 'anhu-dia berkata aku pernah mendengar Rasulullah shallahu'alaihi wa sallam bersabda : (pada waktu terjadinya kiamat Rum adalah orang yang terbanyak) berkata 'Amru bin Al-'ash kepada Al-Mustaurid : bagaimana menurutmu ? dia menjawab : mengapa aku tidak mengatakan apa-apa yang dikatakan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam ? dia berkata : jika memang demikian maka sebabnya adalah karena Rum memiliki empat perangai :1. Mereka orang yang paling bersabar ketika menghadapi fitnah2. Mereka orang yang paling cepat sadar ketika ditimpa musibah3. dst...Dan beliau menyebutkan keempat-empatnya bahkan menambahnya sampai lima.Berkata ahlu 'ilmi : perkataan ini adalah dari 'Amru bin Al-ash bukan untuk memuji orang -orang Romawi dan nashara yang kafir, tidak ! akan tetapi untuk menjelaskan kepada kaum muslimin bahwasannya keberadaan Rum dan banyaknya jumlah mereka sampai datangnya hari kiamat nanti itu disebabkan karena mereka adalah orang yang paling santun dalam menghadapi fitnah dengan kesantunan yang mereka miliki itulah mereka dapat melihat setiap permasalahan sekaligus menyelesaikannya dengan baik sehingga mereka dan golongannya tidak binasa.Dan inilah yang dikatakan oleh As-Sanusy dan Al-Ubby dalam syarahnya terhadap shohih muslim.Disini terdapat peringatan halus, karena Nabi shallallhu 'alaihi wa sallam mengabar kan bahwasannya tidak akan terjadi hari kiamat sampai Rum menjadi orang yang terbanyak, mengapa ?Berkata 'Amru bin al- 'ash : karena mereka memiliki empat perangai diantaranya adalah bahwasanya mereka adalah orang yang paling santun dalam menghadapi perubahan zaman dan ketika menghadapi fitnah, mereka santun, tidak tergesa-gesa dan tidak cepat marah untuk menyelamatkan teman-teman mereka dari pembunuhan ataupun fitnah, sebab mereka mengetahui bahwa kalau fitnah itu muncul maka akan menimpa mereka, dengan perangai itulah mereka bertahan sampai hari kiamat dan menjadi orang yang terbanyak.Sungguh sangat mengherankan jika kita tidak mengambil perangai ini, yang mana 'Amru bin al-'ash menyebut Rum karenanya dan mereka memiliki perangai yang terpuji tersebut. Sebetulnya kitalah yang lebih pantas dengan segala kebaikan daripada selain kita. Santun adalah sangat terpuji didalam segala hal karena dia akan menerangi pikiran orang yang berakal didalam menghadapi fitnah dan ini menunjukkan atas keberadaan akal pikirannya.Ini adalah dhobith yang pertama serta kaidah yang awal yang selalu diperhatikan oleh Ahlu sunnah wal jama'ah ketika munculnya fitnah dan berubahnya zaman.Dhowabith dan qawaid ini sebagiannya dhobit dan sebagian lagi kaidah aku (pengarang) menggabungkannya karena ada persamaan makna diantara keduannya. KEDUA : Apabila fitnah telah tampak dan keadaan telah berubah janganlah kamu menghukumi terhadap sesuatu dari fitnah tersebut atau dari perubahan keadaan itu kecuali setelah mengetahui gambaran dari hal tersebut.Hal ini sesuai dengan qaidah :( الحكم على شيء فرع عن تصوره ) ( Menghukumi sesuatu itu merupakan cabang dari gambaran dari sesuatu itu )Qaidah ini digunakan oleh orang yang berakal pikiran semuanya sebelum islam atau sesudahnya, dalilnya yang syar'i adalah firman Allah jalla wa'ala :( و لا تقف ما ليس لك به علم )Artinya : Janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuantentangnya. ( Surat Al-Isra' : 36 )Maksudnya adalah setiap perkara yang kamu tidak mengetahui, tidak memiliki gambaran serta tidak mempunyai bukti tentangnya maka jangan sekali-kali kamu berbicara tentang nya lebih-lebih kamu menjadi pelopor atau orang yang diikuti atau sebagai hakim atasnya.( الحكم على شيء فرع عن تصوره )Kaidah ini kalian mempergunakannya dalam kehidupan sehari-hari dan pada waktu yang berbeda-beda. Akal pikiran selalu memperhatikan kaidah ini, tidaklah sesuatuperbuatan itu akan baik tanpa memperhatikan kaidah ini, karena kalau tidak maka ia akan terjerumus pada kesalahan, syariat ini telah menekankan dan menjelaskan dengan sejelas-jelasnya akan kaidah ini.Saya akan memberikan permisalahan tentang kaidah ini agar lebih jelas :Contoh : jika aku bertanya kepada salah seorang diantara kalian dan aku berkata kepadanya apa hukum islam terhadap jual belih Al- murabahah ?Mungkin salah seorang akan mengatakan : mencari untung adalah suatu hal yang dinginkan dan ini tidak ada larangannya dalam syariat maka tidak mengapa jual beli dengan al-murabahah.Hukum orang tersebut terhadap masalah ini adalah salah karena dia tidak memiliki gambaran yang dimaksud dengan perkataan orang : apa hukum islam terhadap jual-beli dengan murabahah? Dia mengira bahwa yang dimaksud dengan murabahah adalah mencari keuntungan dalam berdagang, karena salah dalam menggambarkan masalah ini maka diapun salah dalam menghukuminya secara syar'i.Hukum syariat haruslah dibangun diatas gambaran yang benar, murabahah adalah suatu bentuk jual beli yang dilarang yang banyak dipakai oleh beberapa bank yang menisbatkan kepada islam atau yang tidak, dengan menutupi riba didalamnya.Gambarannya adalah dia dibangun atas dasar perwakilan kepada orang lain, setelah mewakilkan, disana ada keharusan untuk membayar atau menepati janji, dan janji yang dijanjikan oleh orang yang mewakilkan ini kepada wakilnya mengharuskan dia untuk menepatinya.Ini tidak diperbolehkan dalam syariat, maka jual beli dengan murabahah ini dilarang. Contoh lain yang menjelaskan kaidah " Menghukumi sesuatu adalah cabang dari gambaran terhadap sesuatu itu " jika aku bertanya kepada seseorang diantara kalian apa hukum kita terhadap kelompok syuhudu yahwa&lt;a title="" href="http://www.geocities.com/abu_amman/SikapMuslimDalamFitnah.htm#_ftn1" target="_blank" name="_ftnref1"&gt;[1]&lt;/a&gt; ? apa yang akan dikatakan oleh seorang diantara kalian?Jika dia tahu mungkin dia akan menjawab dia adalah kelompok begini dan begitu dan hukum islam terhadapnya adalah begini atau begitu. Atau juga dia mungkin berkata aku tidak tahu kelompok ini ! aku tidak pernah mendengarnya sebelum ini, dari sini kamu tidak bisa menghukumi kelompok tersebut.Dan juga kamu tidak bisa menjelaskan hukum syariat atasnya karena kamu tidak memiliki gambaran tentang kelompok ini, siapakah mereka ? apa undang-undang dasar mereka ? apakah dia itu islamiyah atau nashraniyah atau yahudiyah ? kamu tidak bisa menghukumi nya kecuali setelah tahu gambarannya.Jika hal ini telah jelas bagi kamu maka seorang hakim atau pemberi fatwa atau pembicara didalam masalah syariat dilarang untuk berbicara – dalam rangka untuk menja ga diri mereka dari dosa dan hak-hak kaum muslimin serta untuk berlepas diri dari berka ta kepada Allah tanpa ilmu - kecuali kalau memiliki dua perkara :Pertama : Dia harus memiliki gambaran yang benar tentang perkara yang diajukan tidak tersamarkan dengan perkara yang lain, karena kadang kala beberapa perkara itu ada persamaannya dan gambaran dari permasalahan itu ada keserupaan dengan permasalahan yang lain maka pikiranmu akan berpindah kepermasalahan yang lain yang serupa dengannya, pada saat itulah kamu akan terjerumus pada kesalahan.Kedua : Mengetahui hukum Allah dan hukum Rasul-Nya shallallahu 'alaihi wasallam terhadap permasalahan yang dihadapi bukan pada permasalahan yang serupa dengannya.Apabila hal ini telah jelas, timbullah suatu pertanyaan yang penting, mungkin seorang dari kalian bertanya : bagaimana timbul penggambaran ini didalam diriku ?Bagaimana aku menggambarkan permasalahan ini ? dari siapakah aku bisa menggambar kannya ? karena permasalahan- permasalahan ini ada persamaan dan keserupaannya, sebagiannya bermasalah dan sebagian lagi mungkin tidak didapati orang yang bisa menjelaskan atau yang menggambarkannya dengan gambaran yang benar.Kami katakan : penggambaran yang dibangun diatasnya hukum syar'i itu adalah :1.Dari orang yang meminta fatwa, sebab orang tersebutlah yang menghadapi masalah tersebut, jika dia bertanya atau menjelaskan masalah itu, akan timbullah gambaran darinya, maka pemberi fatwa akan menjelaskan hukumnya sesuai dengan keterangan dari penanya.2.Gambaran tersebut diambil dari orang yang adil (yang baligh, berakal dan bukan fasik – pent) terpercaya dari kaum muslimin yang mana mereka ini dalam memberi kabar tidak keliru sehingga menyebabkan salah dalam menghukumi. Haruslah dari orang yang adil terpercaya dalam masalah ini.Ketika terjadi fitnah dan kekacauan tidaklah boleh kita berpegang kepada perkataan orang kafir yang menjelaskan gambarannya atau menyebutkan jalan keluar dari masalah itu dalam siaran berita atau majalah atau yang lainnya. Ini tidak diperbolehkan secara syariat yaitu membangun suatu hukum syariat berdasarkan pemberitaan mereka, tapi hukum syariat haruslah berdasarkan kabar dari orang muslim yang adil dan terpercaya.Hadits-hadits Rasulillah shallallahu alaihi wa sallam tidaklah diterima kecuali kalau datang dari jalan orang-orang yang adil, kuat hafalannya dari awal sampai akhir, apabila datang dari orang fasik maka dia ini tidak memiliki muru'ah dan jika datang dari orang yang tidak kuat hafalannya mungkin dia akan mencampur adukkan antara satu dengan yang lainnya dan ini tidak diterima serta tidak dibangun hukum syar'i diatasnya.Oleh karena itulah kita harus memperhatikan masalah ini. Kesimpulannya : sesungguhnya kaidah ini (menghukumi sesuatu merupakan cabang dari gambaran terhadap sesuatu itu) pondasinya adalah penggambaran dan hal ini tidaklah akan benar secara syariat kecuali kalau datang dari seorang muslim yang adil terpercaya atau dari seorang penanya walaupun dia fasik.KETIGA : Seorang muslim haruslah berpegang teguh dengan keadilan disetiap perkara.Allah jalla wa 'ala berfirman : ) (وإذا قلتم فاعدلوا ولو كان ذاقربى Artinya : Apabila kamu berbicara maka berbuatlah yang adil walaupun kepada kerabat dekatmu . ( Surat Al-An'am : 152 )Dan Dia berfirman : ( و لا يجرمنكم شنا ن قوم على أن لا تعدلوا اعدلوا هو أقرب للتقوى )Artinya : Dan janganlah kebenciannmu terhadap suatu kaum menjadikan kamu tidak berbuat adil, berbuat adillah karena itu lebih dekat kepada taqwa.( Surat Al-Maidah : 8 ) Sebetulnya masalah ini sudah dijelaskan dengan jelas sekali yaitu seorang haruslah berbuat adil dalam perkataan, dalam menghukumi.Barangsiapa yang tidak berbuat adil dalam berkata atau dalam menghukumi maka dia tidaklah mengikuti syariat ini yang diharapkan keselamatan bersamanya.Apakah makna adil dalam kaidah ini ?Maknanya adalah kamu mendatangkan perkara yang baik-baik dan perkara yang jelek, kamu datangkan sisi yang kamu sukai dan yang tidak kamu sukai&lt;a title="" href="http://www.geocities.com/abu_amman/SikapMuslimDalamFitnah.htm#_ftn2" target="_blank" name="_ftnref2"&gt;[2]&lt;/a&gt; kemudian kamu timbang keduanya dalam timbangan yang satu, setelah itu kamu menghukuminya. Karena dengan itulah seseorang akan terjaga dari menisbatkan kepada syariat atau kepada Allah jalla wa 'ala atau kepada sunnah alam ini apa-apa yang tidak sesuai dengan yang diperintahkan Allah jalla wa 'ala.Menimbang antara yang baik dan buruk merupakan suatu keharusan, menampakkan keduanya didalam pikiran sampai mendapatkan suatu hasil yang syar'i, sehingga gambaran, perkataan, pemahaman, serta pendapatmu didalam fitnah menjadi penyelamat insya Allah ta'ala.Ini adalah perkara yang penting dan sekaligus merupakan kaidah yang harus selalu diperhatikan karena barangsiapa yang tidak peduli dengannya maka dia akan terpengaruh oleh hawa nafsunya dan akan menular kepada yang lain yang akhirnya termasuk dalam sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam :( ومن سن سنة سيئة فعليه وزرها ووزر من عمل بها إلى يوم القيامة )Artinya : Barangsiapa yang mencontohkan sunnah yang jelek maka dia akan mendapat dosanya dan dosa orang yang mengikutinya sampai hari kiamat. (Diriwayatkan oleh Muslim dalam shohihnya dalam kitab zakat, Ahmad dalam musnadnya 4/357, 362 dan Ibnu Majah dalam sunannya 1/74/203-207)Dan musibah itu akan menjadi lebih besar lagi jika yang melakukan adalah orang-orang yang menisbatkan dirinya kepada ilmu dan dakwah, karena orang bodoh serta orang yang ilmunya masih setengah-setengah akan mencontohnya .Oleh karena itulah kita harus memperhatikan kaidah ini didalam setiap permasa lahan, barangsiapa yang terbebaskan dari hawa nafsu maka Allah akan menyelamat kan dirinya diakhirat kelak . KEEMPAT : Firman Allah jalla wa 'ala : ( واعتصموا بحبل الله جميعا ولا تفرقوا )Artinya : Berpegang teguhlah kalian semua dengan tali Allah dan janganlah berpecah belah . ( Surat Ali ' imron : 103 )Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam menjelaskan ayat ini dengan sabdanya :( عليكم بالجماعة وإياكم والفرقة ) Artinya : Bersatulah kalian dan jauhilah perpecahan.(Diriwayatkan oleh Tirmidzi dalam Sunannya kitabul fitan (7) dan Ahmad dalam Musnadnya (50,370,371) ).Dan telah tetap juga didalam hadits yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Ahmad di zawaid musnad ayahnya bahwasanya Nabi shallallahu 'alaihi wa sallamBersabda : ( الجماعة رحمة والفرقة عذاب ) Artinya : Bersatu itu rahmat dan berpecah belah itu adzab.(Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnadnya 4,278 dan 370).Berpecah belah dengan segala bentuknya - baik dalam pemikiran, perkataan, per buatan merupakan adzab yang Allah timpakan bagi yang menyelisihi perintah-Nya &amp;dia mencari pentunjuk selain tunjuk-Nya.Oleh karena itulah barangsiapa yang berpegang dengan jama'ah Ahli sunnah wal jama'ah dan menelusuri jejak para Imam dan ulama' mereka maka dia telah berpegang dengan jama'ah/persatuan. Dan barang siapa yang menyelisihi mereka maka dia akan terjerumus kedalam perpecahan dan adzab yang Allah timpakan kepadanya didunia ini. Kita minta kepada Allah jalla wa 'ala untuk menyelamatkan kita dan saudara-saudara kita dari semua hal itu.Oleh sebab itulah Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :( الجماعة رحمة والفرقة عذاب ) Persatuan dengan segala bentuk macam dan sifatnya jika dilandasi oleh petunjuk dan kebenaran maka dia akan membawa rahmat yang Allah merahmati hamba-hamba -Nya dengannya.Adapun perpecahan dia akan menyebabkan azdab dan tidak ada kebaikan didalamnya selama-lamanya.Oleh sebab itulah setelah Allah berfirman : ( واعتصموا بحبل الله جميعا ولا تفرقوا ) Allah berfirman pada ayat setelahnya : ( ولتكن منكم أمة يدعون إلى الخير ويأمرون بالمعروف وينهون عن المنكر وأولئك هم المفلحون ) Artinya : Dan hendaklah ada sekelompok diantara kalian yang menyuruh kepadakebaikan beramar ma'ruf dan melarang yang mungkar dan merekalah orang-orang yang beruntung. ( Surat Ali-'Imron : 104 )Kemudian Allah berfirman : ( ولا تكونوا كالذين تفرقوا واختلفوا من بعد ما جاءهم البينات وأولئك لهم عذاب عظيم ) Artinya :Dan janganlah kalian menyerupai orang-orang yang berpecah-belah dan berselisih setelah datang kepada mereka keterangan yang jelas. Mereka itulah orang-orang yang mendapat adzab yang berat.( Surat Ali-'Imron : 105 )Memang orang-orang yang berpecah-belah, baik dalam perkataan maupun perbuatan setelah datangnya keterangan dan petunjuk mereka selalu terancam oleh kesesa tan, perselisihan dan tidak akan mendapat petunjuk.Oleh karena itulah kita harus selalu mengikuti jalannya Ahli sunnah wal jama'ah kita mengikuti perkataan mereka, jangan sampai kita keluar dari kaidah-kaidah atau dhowabith serta ijma' ulama mereka, sebab mereka (ulama ahli sunnah wal jama'ah-pent ) mengetahui dari ushul/pokok-pokok ahli sunnah wal jama'ah dan dari dalil-dalil syariat apa-apa yang tidak diketahui kebanyakan orang atau yang menisbatkan diri mereka kepada ilmu, karena mereka memiliki ilmu yang kokoh, penglihatan yang tepat serta dasar ilmu yang sangat kuat.Lihatlah apa yang dilakukan Abdullah bin Mas'ud rodhiyallah 'anhu ketika menjalankan ibadah haji bersama 'Utsman bin 'Affan rodhiyallahu 'anhu ?Dahulu 'Utsman menyempurnakan shalat diMina empat raka'at padahal menurut sunnah adalah dua raka'at dengan mengqashar shalat yang empat raka'at.'Utsman berpendapat shalat tersebut sebaiknya dikerjakan dua raka'at karena beliau memiliki alasan yang syar'i sedangkan Abdullah bin Mas'ud berkata: sunnahnya Nabi itu ialah dikerjakan shalat diMina dua raka'at bukan empat, kemudian beliau ditanya : wahai Abdullah bin Mas'ud anda mengatakan seperti itu sedangkan anda masih tetap shalat bersama 'Utsman bin'Affan empat raka'at, mengapa bisa demikian ? beliau berkata : wahai saudaraku ! berselisih itu jelek ! berselisih itu jelek ! berselisih itu jelek ……… diriwayatkan Abu dawud dengan isnad yang kuat.Hal ini dikarenakan pemahaman mereka terhadap kaidah yang benar, kaidah yang barang siapa tidak mengikutinya maka dia tidak akan bisa selamat dari fitnah dan juga orang lain. Abdullah bin mas'ud berkata : BERSELISIH ITU JELEK.&lt;a title="" href="http://www.geocities.com/abu_amman/SikapMuslimDalamFitnah.htm#_ftn3" target="_blank" name="_ftnref3"&gt;[3]&lt;/a&gt;KELIMA : Bendera-bendera yang dikibarkan pada saat fitnah baik itu bendera negara atau bendera para da'i haruslah bagi seorang muslim untuk menimbangnya dengan timbangan yang syar'i timbangan ahli sunnah wal jama'ah yang mana barang siapa menimbang dengannya pasti timbangannya akan adil tidak akan salah. Seperti yang Allah firmankan tentang timbangannya :( ونضع الموازين القسط ليوم القيامة فلا تظلم نفس شيئا ) Artinya : Kami akan memasang timbangan-timbangan yang tepat pada hari kiamat,maka tiada dirugikan seseorang barang sedikitpun. (Surat Al- Anbiya': 47) Demikianlah ahlu sunnah wal jama'ah memiliki timbangan-timbangan yang adil,mereka menimbang segala perkara dengannya baik itu pemikiran-pemikiran atau keadaan-keadaan. Mereka menimbang dengannya bendera-bendera yang berbeda ketika terjadi perbedaan keadaan.Timbangan-timbangan itu terbagi menurut mereka – sebagaimana yang telah dijelaskan oleh Imam-imam dakwak kita Imam ahli sunnah wal jama'ah – menjadi dua bagian :1.Timbangan yang digunakan untuk membedakan antara islam atau bukan.Bendera-bendera yang dikibarkan dan dinisbatkan kepada islam banyak sekali maka dia harus ditimbang, jika dia bendera islam maka disana ada hukum-hukum syariat yang harus diperhatikan sebagai jawaban atas perintah Allah dan Nabi shallahu alaihi wa sallam .2.Timbangan yang digunakan untuk menjelaskan kesempurnaan islam dengan ketiadaannya dan keistiqamahan diatas islam atau ketidakadanya keistiqamahan. Maka yang pertama itu hasilnya adalah kekafiran atau islam, Apakah dia itu bendera islam atau bukan ?Dan yang kedua hasilnya adalah apakah bendera itu tegak diatas petunjuk seperti yang dicintai Allah dan diridhoi-Nya ? apakah dia mempunyai kekurangan dalam hal ini ? Apabila hal ini sudah jelas maka disitu akan didapatkan hukum-hukum syari'at . Adapun timbangan pertama yang membedakan antara keimanan dan kekafiranada tiga :Pertama : Kamu lihat apakah disana ada penyerahan ibadah hanya kepada Allah saja yang tiada sekutu baginya atau tidak ? karena pokok agama para Nabi dan Rasul adalah menyeru agar hanya Allah saja yang diibadahi tidak yang lain-Nya .Mengesakan Allah dalam beribadah (Tauhid) adalah pondasi segala sesuatu dialah yang pertama dan terakhir. Barangsiapa yang mengibarkan bendera tauhid dan meng ikrarkan bahwa ibadah itu hanya untuk Allah saja tiada sekutu bagi-Nya dan tidak mengakui peribadahan kepada selain-Nya maka timbangan ini membuktikkan bahwa dia adalah muslim, dan bendera tersebut bendera islam dengan ditambah dengan dua timbangan yang kalian akan mendengarnya dengan seizin Allah.Timbangan pertama, kita lihat apakah yang mengangkat bendera islam itu bertauhid atau tidak ? apakah disana ada penyembahan kepada selain Allah jalla wa 'ala atau apakah tidak ada dibawah naungan bendera tersebut kecuali hanya Allah yang diibidahi tidak yang lain-Nya dan hati-hati ini hanya bermunajat kepada-Nya saja atau tidak ?Allah subhana wa ta'ala berfirman : ( ولقد بعثنا في كل أمة رسولا أن اعبدوا الله و اجتنبوا الطاغوت ) Artinya : Dan sungguh kami telah mengutus kepada setiap kaum seorang rasul yang menyerukan agar mereka menyembah Allah saja dan menjauhi thoghut (semua sesembahan selain Allah dan dia ridho untuk disembah). (Surat An-nahl : 36)Dan Allah berfirman : ( الذين إن مكناهم في الأرض أقاموا الصلاة و اتوا الزكاةوأمروا بالمعروف ونهوا عن المنكر ولله عاقبة الأمور ) Artinya : Yaitu orang-orang yang apabila kami mengokohkannya dimuka bumi ini mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat serta menyuruh yang baik dan melarang yang munkar dan milik Allahlah segala akibat segala sesuatu itu.Sebagian ahli tafsir berkata tentang ( امروا بالمعروف ) yaitu menyuruh kepada tauhid dan melarang dari yang munkar yaitu dari kesyirikan, karena sebaik-baiknya yang baik adalah tauhid dan sejelek-jeleknya kemungkaran adalah syirik, ini adalah timbangan yang pertama.Kedua : Kamu melihat perwujudan syahadat Muhammad adalah utusan Allah.Kalimat syahadat ini diantara konsekwensinya adalah berhukum dengan syari'at yang dibawa oleh Mushthofa shallallahu alaihi wa sallam.Allah subhana wa ta'ala berfirman : ( فلا وربك لا يؤ منون حتى يحكموك فيما شجر بينهم ثم لا يجدوا في أنفسهم حرجا مما قضيت ويسلموا تسليما ) Artinya : Demi Rabmu tidaklah mereka beriman sampai mereka menjadikan kamu sebagai hakim didalam apa-apa yang mereka perselisihkan kemudian mereka tidak mendapatkan didalam diri mereka kesempitan dari apa-apa yang kamu putuskan dan mereka menyerah dengan penuh ketundukan. (Surat An-Nisa' :65)Allah juga berfirman : ( أفحكم الجاهلية يبغون ومن أحسن من الله حكما لقوم يوقنون )Artinya : Apakah hukum jahiliyah yang mereka inginkan, siapakah yang lebih baikhukumnya dari pada hukum Allah bagi orang-orang yang yakin.(Surat Al-Maidah:50)Allah juga berfirman : ( و من لم يحكم بما أنزل الله فأولئك هم الكافرون )Artinya : Barangsiapa yang tidak berhukum dengan hukum Allah maka mereka termasuk orang-orang kafir. (Surat Al-Maidah : 44)Apabila kamu telah melihat suatu bendera yang dikibarkan pemiliknya berhukum dengan syari'at Allah dan menjadikan syari'at ini sebagai pemutus perkara-perkara manusia – apabila mereka berselisih siapakah yang menghukumi diantara mereka ? menghukumi diantara mereka seorang hakim yang syar'i. Ketika itulah kamu mengetahui bahwa bendera tersebut bendera islam karena dia menuntut pengi kutnya untuk berhukum dengan syari'at Allah jalla wa'ala dan mereka mendirikanpengadilan syar'i yang berhukum dengan apa-apa yang diturunkan Allah serta tidak mengharuskan seorangpun untuk berhukum dengan selain hukum Allah atau untuk ridho dengan hukum selain hukum Allah dan Rasul-Nya .Timbangan ketiga : Kamu lihat apakah disana ada penghalalan terhadap apa-apa yang diharamkan Allah ? atau apakah masih ada kebencian, pengingkaran dan kema rahan jika hal-hal yang diharamkan itu dilakukan ?Karena hal yang diharamkan secara ijma' jika dia telah tampak, pasti ada dua keadaan : 1. Dia dihalalkan dan ini merupakan kekafiran wal 'iyadzu billah.2. Dia tidak dihalalkan akan tetapi hanya dilakukan dengan masih menyakini kemungkarannya dan bahwasannya dia itu haram, dari sini kamu mengetahui bahwa itu adalah bendera islam yang syar'i. Ini adalah tiga timbangan yang telah dijelaskan oleh para Imam-imam kita rahimahumullah. Dan itu masih bagian yang pertama.Adapun bagian yang kedua yang mana dari sinilah kita mengetahui kesempurnaan islam dari ketidaksempurnaanya. Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam mengambil islam itu secara keseluruhan sebagaimana yang diturunkan dari sisi Allah jalla wa'ala dan beliau merupakan suri tauladan yang baik demikian juga para Khulafa' rasyidin ridhwanullah 'alaihim akan tetapi semakin lama semakin berkurang perwujudan kesempurnaan islam ini pada saat sekarang, (Dan tidaklah datang kepada manusia suatu zaman melainkan yang setelahnya itu lebih jelek dari yang sebelumnya sampai kamu bertemu dengan Rabmu) sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.Timbangan ini kamu lihat didalamnya keberadaan perkara-perkara syari'at ? bagaimana masalah sholat ? bagaimana larangan terhadap kemungkaran-kemung karan? bagaimana amar ma'ruf dan nahi'anil munkar yang berhubungan dengan kewajiban-kewajiban serta yang berkaitan dengan hal-hal yang diharamkan ? apabila hal tersebut telah dilaksanakan secara menyeluruh maka ini menunjukkan tentang kesempurnaannya dan apabila tidak, maka hal ini menunjukkan akan kekurangan yang ada padanya sesuai dengan keadaan tersebut.Ini semua merupakan timbangan-timbangan yang penting yang harus ada dalam hatimu dan akal pikiranmu, jangan sampai dia hilang selamanya agar kamu tidak tersesat ketika terjadinya kesesatan dan tidak tersamarkan masalah-masalah yang ada saat terjadinya kekaburan.Apabila hal ini telah jelas bagi kamu dan kamu telah bisa membedakan antara bendera islam dengan selainnya maka wajib bagi kalian menurut syari'at untuk kalian berwala' (mencintai serta menolong) bendera islam tersebut didalam kebenaran dan petunjuk karena Allah jalla wa'ala menyuruh untuk berwala' kepada orang-orang beriman dan menyarankan agar berpegang teguh dengan ajaran Allah serta jangan sampai berpecah belah. (Hal-hal yang perlu diperhatikan –pent):1. Haruslah kecintaan kalian terhadap bendera islam tersebut benar-benar murni tidak ada penyelewengan, kekaburan serta keraguan karena tidak ada pilihan kecuali islam atau kekafiran. Jika telah jelas keislamannya maka tersusun darinya hukum-hukum syari'at dan tidak diperbolehkan bagi seorang muslim untuk menjadikan suatu kemaksiatan sebagai sebab untuk tidak berpegang teguh dengan hal-hal yang diperin tahkan Allah jalla wa'ala dan Rasul-Nya dari berwala' kepada orang-orang beriman dan yang berperang dijalan Allah.2. Nasehatilah pemegang bendera tersebut dengan nasehat yang Allah mengetahui itu dari lubuk hatimu. Ahlu sunnah wal jama'ah – yang mereka selalu menyelisihi ahli bid'ah pecinta perpecahan – mereka selalu menasihati pemimpin-pemimpin serta memperbanyak doa untuk mereka walaupun mereka melihat hal-hal yang tidak disukai (dari pemimpin-pemimpi tersebut – pent) mereka lakukan hal tersebut dari lubuk hati, mereka tidak mengharapkan balasan atau kata terima kasih kecuali dari sisi Allah jalla wa'ala tidak dari yang lain, kalau hal ini kita lakukan dengan hati yang tulus maka kita memang benar-benar termasuk ahlu sunnah wal jama'ah.Bacalah kitab-kitab aqidah ahli sunnah wal jama'ah kalian akan melihat didalam nya bab-bab khusus tentang hak-hak para pemimpin dari rakyatnya dan hak-hak rakyat dari pemimpinnya karena dengan inilah tercipta persatuan diatas sunnah dan jama'ah.Dan inilah yang dianjurkan oleh Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam untuk menasehati para pemimpin kaum muslimin dan masyarakatnya didalam sabda beliau : (Agama itu nasehat) apabila telah tetap bahwa nasehat itu wajib maka haruslah bagi seorang muslim untuk menasehati, kemudian bagaimanakah cara menasehati itu ? dan bagaimanakah cara menerangkan ? yang sesuai dengan sunnah bukan dari diri kita sendiri.Telah tetap dari hadits shohih bahwasannya 'Iyadh bin Ghonam berkata kepada Hisyam bin Hakim rodhiyallahu 'anhuma : Apakah kamu tidak mendengar sabda Na bi shallallahu 'alaihi wa sallam : ( من أراد أن ينصح لذي سلطان فلا يبد علانية و لكن ليأخذ بيده ثم ليخل به فإن قبل منه فذاك وإلا فإنه قد أدى الذي عليه ) Artinya : Barangsiapa yang ingin menasehati pemimpin janganlah dia menyebarkannya akan tetapi ambillah tangannya dan bersepi-sepilah, jika dia menerima nasehat itu maka itulah yang diharapkan dan jika tidak maka telah gugur kewajiban .( diriwayatkan oleh Ibnu abi 'ashim dalam " As-sunnah "dan selainnya serta dishohikan oleh Al-albani.)Dengarkanlah sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam ini, kalian adalah orang-orang yang bersemangat menjalankan sunnah seperti ahlu sunnah wal jama'ah.Jika dengan timbangan-timbangan itu dapat dibedakan antara bendera islam dengan selainnya maka hal ini menuntut adanya hak-hak syari'at pada bendera terse but hal ini jika memang terbukti bahwa dia itu diatas islam bukan diatas kekafiran. Dan ini termasuk hal penting yang akan nampak fungsinya ketika terjadi perubahan keadaan dan munculnya fitnah.Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda : (Barangsiapa yang ingin menase hati pemimpin janganlah dia menyebarkannya akan tetapi ambillah tangannya dan bersepi-sepilah dengannya jika dia menerima nasehat itu maka itulah yang diharapkan jika tidak maka telah gugur kewajiban). Dan inilah yang menjadikan kita tenang serta menjadikan kita mengikuti apa yang disabdakan Mushthofa shallallahu 'alaihi wa sallam, apabila kita mengambil yang demikian itu maka kita akan selamat biidznillah, dan jika tidak maka akan menimpa kita penyelewengan dan penyimpangan dari jalannya ahli sunnah wal jama'ah sesuai dengan kadar penyimpangan itu.Timbangan – timbangan tadi jika tersamarkan oleh seorang muslim atau penuntut ilmu maka sebagai rujukan adalah para 'ulama sebab merekalah yang bisa menimbang dengan timbangan yang tepat merekalah yang dapat meluruskan dengan baik serta merekalah yang berhukum dengan hukum syari'at yang betul.Oleh sebab itu menghukumi adanya keislaman dengan ketidakadanya atau adanya keimanan atau kekafiran tempat rujukannya adalah para 'ulama ahli sunnah wal jama'ah bukan yang lainnya dari kalangan orang-orang baru belajar yang kadangkala mereka mengetahui sebagian dan bodoh terhadap sebagian yang lain atau mereka memperluas apa-apa yang tidak boleh untuk diperluas.Maka rujukan bagi mereka yang belum bisa menimbang dengan timbangan yang benar adalah para 'ulama, wajib bagi kita untuk mengambil perkataan mereka, metode serta jalan mereka dalam membedakan antara keimanan dengan kekafiran, dan menimbang dengan timbangan yang telah kami sebutkan kepada kalian .Sebagai tuntutan dari hasil timbangan-timbangan itu sebagaimana yang disepakati oleh ahlu sunnah wal jama'ah yaitu bahwasannya jihad itu dilakukan bersama setiap imam atau pemimpin yang baik maupun yang fasik, tidak boleh bagi seorangpun untuk tidak mengikutinya dengan alasan bahwa pemimpinnya mempunyai penyim pangan terhadap syari'at pada suatu waktu .Dhobith ini haruslah kita pegangi setiap saat, mungkin pada waktu yang akan datang terjadi sesuatu apa-apa yang kita tidak mengetahuinya sehingga kita memiliki pedoman dan timbangan yang bisa digunakan untuk menimbang keadaan atau pemikiran kita. Diantara hak-hak tersebut adalah mendoakan bagi siapa saja yang Allah jadikan mereka sebagai pemimpin-pemimpin kita.Berkata Al-Barbahari rahimahullah penolong sunnah, Imam dari Imam-imamnya Ahli sunnah wal jama'ah didalam kitabnya " As-sunnah " dan buku ini telah dicetak.Beliau berkata : Apabila kamu melihat seseorang berdoa untuk pemimpinnya ketahuilah bahwa dia adalah pemegang sunnah dan jika kamu melihat orang berdoa (dengan doa yang jelek) kepada pemimpinnya maka ketahuilah dia adalah ahli bid'ah.Al-Fudhail bin 'Iyadh dahulu sering memperbanyak doa untuk pemimpin pada waktunya..Padahal kita mengetahui bagaimana para pemimpin bani Al-abbas pada saat itu, ketika ditanya : Kamu lebih banyak mendoakan mereka daripada untuk dirimu sendiri ? beliau menjawab : ya, karena jika aku baik maka kebaikan ini hanya untuk diriku sendiri dan orang disekitarku, adapun kalau seorang Imam itu baik maka ini untuk kaum muslimin semuanya.Maka barang siapa yang menginginkan kebaikan yang merata bagi kaum muslimin Allahlah yang mengetahui dari hatinya bahwa dia benar-benar berdo'a dengan ikhlas untuk kebaikan pemimpin-pemimpin kaum muslimin dan agar mereka diberi petunjuk untuk bisa mengamalkan Al-qur'an dan sunnahnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam karena kita tidaklah berharap dan tamak lebih banyak daripada untuk mendapatkan petunjuk serta beramal dengan Al-qur'an dan As-sunnah. Hati-hati ini ada ditangan Allah Dialah yang membolak-balikkannya.KEENAM : Sesungguhnya perkataan dan perbuatan ditengah-tengah fitnah memiliki dhowabith tidak semua perkataan yang tampaknya baik bagimu kamu mengucapkannya dan tidak semua perbuatan yang kelihatannya bagus kamu kerjakan karena perkataan dan perbuatanmu pada waktu fitnah dapat menyebabkan banyak hal.Maka tidak heran apabila kita mendengar Abu Hurairah rodhiyallah 'anhu berkata : (Aku menghafal dari Rasulillah shallallahu 'alaihi wa sallam dua perkara yang pertama telah aku sebarkan adapun yang lainnya seandainya aku sebarkan makaakan terpotong tenggorokan ini ) diriwayatkan oleh Bukhari dalam shohihnya.Berkata ahlu ilmi : perkataan Abi Hurairah " akan terpotong tenggorokan ini " maksudnya adalah dia menyembunyikan hadits-hadits tentang fitnah dan hadits-hadits tentang bani Umayyah dll dan beliau berkata demikian pada zamannya Mu'awiyah rodhiyallahu 'anhu yang mana manusia bersatu padanya setelah perpecahan dan peperangan, kamu mengetahui apa yang terjadi pada waktu itu dan sejarah nya, Abu Hurairah menyembunyikan beberapa hadits ; kenapa demikian padahal itu adalah hadits-hadits Rasulillah shallallahu 'alaihi wa sallam ? bukan tentang hukum -hukum syari'at akan tetapi yang lainnya, mengapa beliau menyembunyikannya ? beliau berbuat demikian agar jangan sampai manusia terfitnah. Sesungguhnya hadits itu betul dan tidak diperbolehkan untuk menyembunyikan ilmu, mengapa bisa demikian ? karena menyembunyikan hal tersebut pada waktu itu adalah suatu keharus an agar manusia tidak terpecah belah setelah bersatu pada tahun jama'ah (persatuan) bersama Mu'awiyah bin Abi sufyan rodhiyallahu 'anhu.Berkata Ibnu Mas'ud sebagaimana yang diriwayatkan oleh Muslim dalam Shohihnya : (Tidaklah kamu berbicara kepada suatu kaum dengan perkataan yang tidak difahami oleh akal mereka kecuali hal ini akan menimbulkan fitnah pada sebagian mereka).Manusia tidak semuanya mengerti apa yang dikatakan oleh sipembicara tentang setiap perkara dalam fitnah, kadang kala mereka mendengar banyak hal yang tidak difahami oleh akal mereka kalaulah mereka faham mereka akan menjadikannya keyakinan, perbuatan dan perkataan yang akibatnya tidak baik.Oleh karena itulah para pendahulu (salaf ) banyak melakukan hal ini.Lihatlah Hasan Al-bashri rahimahullah ta'ala ketika mengingkari Anas bin malik rodhiyallah 'anhu saat berbicara dengan Hajjaj bin Yusuf tentang perangnya Nabi shallallahu 'alihi wa sallam dengan Al-'Uraniyyin ; beliau berbuat demikian karena Hajjaj bin Yusuf senang menumpahkan darah, dan dia akan menta'wil hadits tersebut untuk membenarkan perbuatannya maka yang wajib dilakukan adalah menyembunyi kan hadits dan ilmu tersebut dari Hajjaj agar jangan sampai dia salah dalam memaha minya bahwa hadits itu menguatkannya.Hasan Al-Bashri rahimahullah mengingkari perkataan Anas bin Malik rodhiyallah 'anhu seorang shahabat dan Anas rodhiyallahu 'anhu menyesal setelah menceritakan hadits Al- 'Uraniyyin kepada Al-Hajjaj.Sebelum Anas bin Malik Hudzaifah menyembunyikan hadits-hadits fitan karena dia melihat manusia tidak membutuhkannya, Imam Ahmad juga tidak menyukai meriwayatkan hadits-hadits tentang keluar dari pemimpin dan beliau memerintahkan untuk dihilangkan hal-hal tersebut dari (Musnadnya) karena beliau pernah berkata : (Tidak ada kebaikan dalam fitnah dan tidak ada kebaikan untuk keluar daripemimpin).Demikian juga Abu Yusuf tidak suka meriwayatkan hadits-hadits yang aneh-aneh.Imam Malik rahimahullahu tidak menyukai meriwayatkan hadits-hadits yang didalamnya disebutkan sifat –sifat.Tujuan dari semua itu adalah karena pada waktu fitnah tidak semua yang diketahui dikatakan dan tidak semua yang dikatakan itu dikatakan setiap saat.Haruslah perkataan itu memiliki dhowabith karena kamu tidak tahu akibat dari apa yang kamu katakan ? dan apa yang terjadi dari pendapatmu itu ? serta apa akibat dari pemahamanmu ?Para salaf rahimahumullah lebih menyukai keselamatan pada waktu fitnah, mereka diam dalam banyak hal dalam rangka mencari keselamatan untuk agama mereka, Agar mereka menemui Allah jalla wa 'ala dalam keadaan selamat.Dan telah tetap dari Sa'ad bin Abi Waqqash rodhiyallahu 'anhu bahwasannya dia berkata kepada anaknya ketika berbicara tentang keikutsertaan pada beberapa perkara dalam fitnah beliau berkata kepada anaknya : wahai anakku ? apakah kamu ingin aku menjadi pelopor dalam fitnah ? dia menjawab : tidak, demi Allah aku tidak ingin hal itu.Sa'ad bin Abi Waqqash melarang anaknya untuk dia atau anaknya menjadi pelopor dalam fitnah walaupun dengan perkataan atau perbuatan dan dianggapnya benar, karena dia takut akan akibat buruk darinya.Manusia haruslah menimbang segala perkara dengan timbangan yang syar'i dan benar agar selamat dan tidak terjerumus kedalam kesalahan.Kemudian perkataan, perbuatan atau tingkah laku itu mempunyai dhowabith yang harus diperhatikan, tidak semua perbuatan yang terpuji itu baik dilakukan dalam keadaan fitnah apabila hal itu akan disalah pahami.Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam seperti yang diriwayatkan oleh Bukhari dalamShohihnya beliau berkata kepada 'Aisyah ( لولا حد ثان قومك بكفر لهدمت الكعبة ولبنيتها على قواعد إبرا هيم و لجعلت لها بابين ) Artinya : Seandainya bukan karena dekatnya kaummu dengan kekafiran aku akan merobohkan ka'bah dan akan kubangun diatas pondasi Ibrahim serta kujadikan untuknya dua pintu.Nabi shallallahu alaihi wa sallam takut kalau orang-orang kafir quraisy yang baru memeluk islam salah paham mengenai perobohan ka'bah dan pembangunannya diatas pondasi Ibrahim serta dijadikan untuknya dua pintu, pintu masuk dan keluarnya manusia. Beliau takut kalau mereka mengangap itu hanya sekedar untuk pamer atau untuk menghina agama mereka agamanya Nabi Ibrahim atau yang lainnya maka Nabi meninggalkan pembangunan tersebut.Oleh karena itu Bukhari membuat suatu bab yang bagus berdalil dengan hadits tadi, apa yang beliau katakan ? beliau berkata : bab : Meninggalkan suatu perbuatan karena takut manusia salah memahaminya sehingga mereka terjatuh pada hal-hal yang lebih berbahaya dari hal tersebut.Bukhari menyebutkan hadits diatas dalam kandungan bab ini.Dari sinilah kita mengetahui harusnya memakai akal dan pemahaman, adapun tergesa-gesa dan sembrono itu tidaklah terpuji, siapakah yang mengharuskan kamu untuk berbicara disetiap majlis atau pertemuan dengan apa-apa yang kamu anggap itu benar dalam mengahadapi fitnah ?Kebenaran itu telah dijelaskan oleh 'ulama ahli sunnah wal jama'ah, jika kamu memiliki pendapat atau suatu pemahaman maka tanyakannlah kepada mereka jika mereka menerimanya maka itulah dan jika tidak, maka telah lepas tanggungjawabmu untuk kamu memberi tahu kaum muslimin tentang pendapatmu itu.KETUJUH : Sesungguhnya Allah memerintahkan untuk mencintai dan meno long orang-orang beriman khususnya para 'ulama. Orang-orang beriman sebagaimana yang difirmankan Allah jalla wa'ala : ( بعضهم أولياء بعض ) Artinya : Sebagian mereka menjadi penolong sebagian yang lain.(Surat At-taubah:71)Setiap mu'min wajib dan harus untuk mencintai orang-orang yang beriman, menolong serta menjauhkan mereka dari celaan, lebih-lebih kalau mereka itu penolong syari'at Allah yang menjelaskan kepada manusia mana yang halal dan mana yang haram, mana yang benar dan mana yang salah ?!Diharamkan untuk kita menyebutkan para 'ulama kecuali dengan kebaikan.Majlis yang disebutkan didalamnya para ulama bukan dengan kebaikan adalah majlis yang jelek. Mengapa bisa demikian ? karena para'ulama adalah pewaris para nabi, dan para Nabi tidaklah mewariskan dinar atau dirham akan tetapi mewariskan ilmu, barang-siapa yang mengambilnya maka dia telah mengambil bagian yang banyak.Barangsiapa yang menghormati dan memuliakan para 'ulama serta mengambil perkataan 'ulama ahli sunnah wal jama'ah – pemegang tauhid – maka dia telah mengambil warisannya Nabi dan tidak meningalkan warisan kenabian itu pada selainnya.'Ulama yang dijadikan sebagai rujukan dan yang harus dicintai dan ditolong ciri-cirinya adalah :1. Imam-imam ahli sunnah wal jama'ah pada waktunya, para imam tauhid dan perkataan mereka dijadikan rujukan dalam masalah tauhid.2. Mereka orang yang mengetahui hukum-hukum syari'at secara menyeluruh mengetahui fiqih dengan semua babnya, faham kaidah-kaidah syari'at dan ushulnya tidak ada kekaburan bagi mereka antara satu masalah dengan yang lainnya.Dari sini kami harus mengingatkan suatu perkara penting, banyak yang terjerumus kedalamnya yaitu perkataan orang : sesungguhnya 'ulama kita sekarang tidak mengetahui waqi' (kenyataan) !! bahkan sebagian mereka mengatakan kepada bebera pa teman-temannya di perkumpulan kecil : sesungguhnya kita telah mengambil faidah dari kejadian-kejadian dan keadaan ini bahwa kejadian-kejadian tersebut telah memfir ter mana itu 'ulama yang paham waqi' dan menghukuminya dengan hukum-hukum syar'i dan mana 'ulama yang tidak paham waqi'.Demi Allah ini adalah perkataan yang busuk yang menunjukkan ketidakpaham an terhadap hukum-hukum syari'at dan apa-apa yang diambil oleh para 'ulama, mana yang perlu diperhatikan untuk dipahami dan mana yang tidak perlu.Sesungguhnya memahami waqi' (kenyataan) menurut 'ulama terbagi menjadi dua bagian :1. Pemahaman terhadap waqi' yang dibangun diatasnya hukum syari'at dan ini merupakan suatu keharusan, barangsiapa yang menghukumi suatu masalah tanpa memahami waqi' maka dia telah salah. Jika waqi' itu memiliki pengaruh dalam hukum maka wajib untuk memahaminya.2.Waqi' yang tidak memiliki pengaruh dalam hukum syari'at seperti kenyataan ini dan itu atau kisah cerita yang panjang lebar akan tetapi tidak ada pengaruhnya dalam hukum syari'at selamanya. Disini para 'ulama tidak mengambilnya, walaupun mereka memahami hal tersebut tidaklah semua itu dibangun diatasnya hukum syari'at. Saya akan memberikan contoh-contoh untuk bagian pertama dan kedua agar kalian lebih jelas dan paham.- Contoh bagian pertama yaitu bahwasannya memahami waqi' terbangun diatas nya hukum syari'at : masalah kapan mayit itu dihukumi benar-benar telah meninggal ? apakah yang mati itu hanya detak jantungnya saja ? atau otaknya ?Ini adalah persoalan baru seandainya datang seseorang berbicara masalah ini tanpa mengetahui waqi' dan keadaannya maka pastilah dia akan salah dalam meng hukumi, karena memahami waqi' masalah ini memiliki pengaruh dalam hukum syari'at.Contoh yang lain : menghukumi suatu negara atau wilayah apakah dia negara islam atau bukan, bagaimana saya bisa menghukumi itu negara islam atau bukan tanpa saya mengetahui hakikat didalamnya atau tanpa saya pahami waqi'nya ?Memahami waqi' seperti ini merupakan suatu keharusan agar seorang 'alim bisa mengeluarkan hukum syari'at, apabila paham waqi' dikeluarkanlah hukum syari'at berdasarkan atas pemahaman tadi ?Contoh lainnya lagi : kelompok-kelompok islam sekarang banyak sekali dan berbeda-beda, apakah boleh bagi seorang 'alim untuk menghukuminya atau melurus kannya tanpa mengetahui waqi' kelompok-kelompok tersebut. Apa aqidah mereka ? apa pokok-pokok ajaran mereka ? bagaimana metodenya ? bagaimana pemikiran-pemikiran mereka ? bagaimanakah dakwah mereka ? tidak akan mungkin baginya untuk menghukumi.Maka harus baginya untuk memahami waqi' kelompok-kelompok tersebut karena memahami waqi' seperti ini berpengaruh dalam hukum syari'at, barangsiapa yang tidak memahaminya maka hukumnya terhadap sesuatu itu tidaklah akan benar.- Contoh bagian kedua yaitu waqi' yang tidak berpengaruh bagi hukum syari'at antara lain adalah : apa-apa yang diungkapkan oleh dua orang yang saling berselisih didepan hakim. Dua orang tersebut mengungkapkan apa yang terjadi antara mereka dengan cerita yang panjang yang diketahui oleh hakim akan tetapi perkataan banyak tadi yang merupakan waqi' tidaklah ditetapkan oleh hakim dalam perkara tersebut dan inilah waqi' yang tidak memiliki pengaruh dalam hukum syar'i.Oleh karena itulah seorang hakim atau pemberi fatwa berkata pada waktu seperti itu: jika memang demikian maka begini atau begitu, maksudnya apa-apa yang disebut kan dari waqi' tersebut tidaklah berpengaruh menurut syari'at dalam hukum syar'i.Contoh lain : kita melihat pada saat sekarang – ini merupakan contoh yang lebih diterima oleh akal dalam masalah ini – banyak para da'i dari golongan tua bergaul dengan anak-anak muda, mereka menyeru anak-anak muda tersebut dan menjadikan mereka cinta kepada petunjuk serta kebaikan ditempat-tempat umum atau diperpus takaan-perpustakaan atau yang lainnya.Kita telah mengetahui bahwa bergaulnya mereka orang-orang tua dengan anak-anak muda ada tidak baiknya bahkan ada keharamannya, kita tahu hal ini pada beberapa keadaan dengan ada perinciannya .Pemahaman kita terhadap waqi' ini tidaklah menjadikan kita menghukumi dakwahnya golongan tua kepada anak-anak muda bahwasanya itu tidak boleh. Pemahaman kita mengenai fakta yang jelek tadi tidak ada pengaruhnya dalam meng hukumi dakwah itu bahwa hal itu tidak disyari'atkan.Akan tetapi pemahaman kita tadi mengundang permasalahan lain yaitu untuk kita menasehati dan menunjukkkan orang yang salah atau yang terjerumus kedalam hal yang haram atau melakukan sesuatu yang tidak disyari'atkan atau yang tidak diridhoi Allah untuk bertaubat.Jadi pemahaman kita terhadap waqi' tadi tidak berpengaruh dalam hukum syari'at boleh atau tidaknya, tapi berpengaruh dalam kita menasehati orang yang terjerumus kedalam kesalahan sampai dia kembali kepada kebenaran dan tidak mengulangi kemunkarannya serta perkara yang tidak dicintai Allah serta rasul-Nya.Ini diantara contoh-contoh yang aku tidak ingin untuk memperbanyaknya, akan tetapi ini hanyalah untuk mendekatkan pemahaman kepada kalian.Contoh lain yang selayaknya untuk disebutkan adalah : disana ada hukum-hukum syari'at yang salah diyakini oleh manusia misalnya : ada hadits shohih menetapkan bahwasannya Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam kencing berdiri.Kencing dengan berdiri tanpa adanya percikan atau air kencing serta najis yang mengenai badan atau pakaian itu hukumnya boleh, karena Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam melakukannya.Akan tetapi orang-orang bodoh menyalahkan orang yang berbuat seperti itu, dia tidak mempunyai sopan santun dia itu begini dan begitu.Ini diantara keyakinan mereka orang-orang bodoh, bukan berarti hukum tadi itu salah atau tidak perlu diambil, tapi perkara ini – bolehnya kencing berdiri tidak diragukan lagi kebenarannya, tidak ada perdebatan didalamnya, kesalahan orang bodoh dalam keyakinannya, dalam penggambaran yang berkaitan dengan hukum-hukum syari'at obatnya adalah dengan mengajarinya bukan dengan merubah kebena ran pendapat orang 'alim terhadap hukum syari'at tersebut.KEDELAPAN : Ini adalah dhobith penting yang harus kita perhatikan yaitu dhobit tentang at-tawally kepada orang-orang kafir dan dhobith al-muwaalah kepada mereka : disini menurut syari'at serta Imam-imam tauhid ada dua lafadz yang masing-masing memiliki makna, kebanyakan orang tidak bisa membedakan satu dengan yang lain : Pertama : At-tawally, ini menjadikan pelakunya kafirKedua : Al-muwaalah, ini tidak diperbolehkanKetiga : Meminta pertolongan serta perlindungan dari orang kafir, ini diperbo lehkan dengan syarat-syarat. Ini tiga masalah .Pertama : at-tawally, turun firman Allah jalla wa'ala mengenai hal ini :( يا أيها الذين أمنوا لا تتخذوا اليهود و النصارى أولياء بعضهم أولياء بعض و من يتولهم منكم فإنه منهم إن الله لا يهدي القوم الظالمين ) Artinya : Wahai orang-orang beriman jangannlah kalian menjadikan orang-orang yahudi dan nashrani sebagai pemimpin-pemimpinmu sebagian mereka adalah pemimpin sebagian yang lain barangsiapa diantara kamu mengambil mereka sebagai pemimpin maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.(Surat Al-Maidah :51)Dhobith at-tawally itu adalah : menolong orang kafir terhadap orang muslim pada saat perang antara muslim dan kafir dengan tujuan agar orang kafir menang terhadap orang muslim. Asal dari at-tawally itu adalah cinta penuh atau membantu orang kafir terhadap orang muslim, barang siapa yang mencintai orang kafir karena agamanya maka dia telah menjadikannya wali dan ini merupakan suatu kekafiran .Kedua : adapun muwaalatul kuffar adalah sayang dan cinta kepada orang-orang kafir karena dunia mereka serta mengunggulkan dan menyanjung mereka.Ini merupa kan suatu kefasikan bukan kekafiran .Allah berfirman : ( ياأيها الذين أمنوا لا تتخذوا عدوي و عدوكم أولياء تلقون إليهم بالمودة )Artinya : Hai orang-orang beriman janganlah kalian menjadikan musuhku dan musuhmu sebagai teman-teman setia yang kamu sampaikan kepada mereka ( berita-berita Muhammad ) karena rasa kasih sayang.(Surat Al-Mumtahanah : 1)Sampai kepada firmannya : ( ومن يفعله منكم فقد ضل سواء السبيل )Artinya : Dan barang siapa yang melakukannya diantara kalian maka sungguh dia telah telah tersesat dari jalan yang lurus.Berkata ahlu ilmi : Allah subhana wa ta'ala memanggil mereka dengan panggilan iman, termasuk didalamnya orang yang memberikan kasih sayangnya kepada orang-orang kafir, hal ini menunjukkan bahwa perbuatan tersebut tidak merupakan kekafiran akan tetapi itu termasuk kesesatan dari jalan yang lurus.Yang demikian ini karena dia telah memberikan kasih sayangnya dan memberitakan rahasia kepada mereka dengan tujuan dunia bukan karena ragu dengan agama ini.Oleh karena itulah Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam berkata kepada orang yang melakukan hal ini : Apa yang mendorongmu untuk berbuat seperti ini ?dia menjawab: Demi Allah, tidaklah aku menginginkan kecuali aku beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, aku hanya ingin menanam jasa di kaummku agar Allah menyelamatkan dengannya keluarga dan hartaku. Hadits ini diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dalam shohihnya.Dari sini telah jelas bahwa mencintai orang kafir dan condong kepada mereka karena tujuan dunia bukan merupakan kekafiran apabila masih ada akar iman dan thuma'ninah dengannya.Ketiga : Adapun meminta bantuan serta perlindungan dari orang kafir maka ahlu ilmi berkata : itu adalah boleh pada beberapa keadaan, yang lain berfatwa akan bolehnya hal itu pada setiap keadaan dan kejadian dengan melihat kebenaran yang difatwakan itu.Adapun memberi orang kafir sodaqah untuk menarik mereka atau untuk menolak kejelekan ini adalah pembahasan yang lain bukan termasuk pembagian yang tiga tadi.KESEMBILAN : Janganlah kamu menerapkan semua hadits tentang fitnah pada setiap fakta yang kamu temui, karena memang manis bagi manusia untuk mengulang hadits-hadits tentang fitnah dikala fitnah itu telah muncul. Dan banyak (dikatakan) diperkumpulan mereka : Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda begini, inillah waktunya, inilah yang disebut fitnah dan lain sebagainya.Salaf mengajarkan kita bahwa hadits-hadits fitnah tidaklah diterapkan pada kenyataan sekarang akan tetapi ini menunjukkan kebenaran nabi shallallahu 'alaihi wa sallam tentang apa-apa yang beliau kabarkan dari terjadinya fitnah setelah terjadi dan terputus serta keharusan berhati-hati dari fitnah semuanya.Contoh : sebagian orang mentafsirkan sabda Nabi shallallahu' alaihi wa sallam : (sesungguhnya fitnah pada akhir zaman akan berada dibawah seorang dari ahli baitku) yaitu fulan bin fulan atau sabda Nabi shallallahu 'alaihi wasallam : (sehingga manusia bersatu dibawah bai’at seorang pemimpin yang tidak berhak untuk memimpin) maksudnya fulan bin fulan atau sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam : (akan terjadi perdamaian yang aman antara kalian dan Rum) sampai akhir hadits dan apa-apa yang terjadi setelahnya itu adalah saat sekarang ini.Penerapan hadits-hadits ini pada kenyataan sekarang dan menyebarkannya ke pada kaum muslimin bukanlah dari metode ahli sunnah wal jama'ah .Sesungguhnya ahlu sunnah wal jama'ah menyebutkan tentang fitnah dan hadits-hadits fitnah dalam rangka untuk berhati-hati darinya serta menjauhkan kaum muslimin dari terjerumus atau mendekatinya agar tidak menimpa kaum muslimin fitnah tersebut dan agar mereka menyakini kebenaran apa-apa yang diberitakan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam.PENUTUPSaya memohon kepada Allah jalla wa'ala untuk memperlihatkan yang benar itu benar serta memberikan kita kekuatan untuk mengikutinya dan untuk memberi kita persatuan dan kekuatan diatas kebenaran serta tegak diatasnya dan untuk menjadikan kita termasuk orang-orang yang berpegang teguh dengan jalannya ahli sunnah wal jama'ah dan aqidah mereka dari yang pertama sampai yang akhir, tidaklah kita memilah sesuatupun dari yang mereka katakan atau yang mereka tetapkan atau yang mereka berdalil dengan dalil-dalil syar'i.Ya Allah kami memohon kepadamu agar kau jauhkan kami dari fitnah yang tampak maupun yang tersembunyi, berilah kaum muslimin kebaikan pada diri serta pemimpin mereka serta tunjukkanlah mereka kejalan yang benar dan jauhkanlah mereka dari orang-orang yang menyimpang dan merusak, Wahai Pencipta alam semesta.Kita minta kepada-Nya untuk menjadikan kita termasuk yang diberi rahmat, dan mengakhiri hidup kita dengan kebaikan serta menjadikan perkara dan fitnah yang tampak ini baik akibatnya bagi kaum muslimin serta menjauhkan kita dari kejahatan dan kejelekannya. Semoga Dia menjadikan kejelekan dan kejahatan fitnah itu bagi musuh-musuh kaum muslimin, ya Rabbal 'alamin .و صلى الله و سلم على نبينا محمد وعلى اله وصحبه ومن اهتدى بهداه الى يوم الدين Penukil tulisan ini dari kaset : Akram bin sirdar syaikhTanggal 22 jumadil ' ula 1411 HPENERJEMAH : ABU ABDIRRAHMAN AS-SALAFY &lt;a title="" href="http://www.geocities.com/abu_amman/SikapMuslimDalamFitnah.htm#_ftnref1" target="_blank" name="_ftn1"&gt;[1]&lt;/a&gt;Mungkin maksud beliau adalah organisasi internasional terselubung yang bergerak dalam bidang agama dan politik, muncul di Amerika pada pertengahan abad ke-19 dan mengaku dirinya sebagai pengikut al-masih (‘Isa bin Maryam) tapi dia dibawah naungan yahudi, mereka memusuhi islam- untuk lebih jelasnya lihat kitab “Al-mausu’ah al-muyassarah fil adyaan wal madzaahib wal ahzab mu’ashirah” jil. 2 hal 658-662-pent.&lt;a title="" href="http://www.geocities.com/abu_amman/SikapMuslimDalamFitnah.htm#_ftnref2" target="_blank" name="_ftn2"&gt;[2]&lt;/a&gt; Adapun dalam kita mengkritik atau memperingatkan umat dari bahaya bid'ahnya seseorang/mubtadi' atau kelompok yang sesat maka tidak perlu menyebutkan kebaikannya, dan inilah yang telah dicontohkan oleh para ulama'ahli sunnah wal jama'ah/salafunash sholeh seperti Imam Ahmad dll … untuk lebih jelasnya lihat kitab " Manhaj Ahlis sunnah wal jama'ah fi naqdir rijal wal kutub wath thowaaif " dan " Al-mahajjatul baidho' fi himaayatis sunnah al-ghorra' min zallaati ahlil akhtho' waz zaighi ahlil ahwa' "oleh DR.Rabi' bin Hadi Al-Madkhaly-hafizhahullah- Dosen Islamic university of medina –pent.&lt;a title="" href="http://www.geocities.com/abu_amman/SikapMuslimDalamFitnah.htm#_ftnref3" target="_blank" name="_ftn3"&gt;[3]&lt;/a&gt; Perselisihan dalam agama ini ada dua menurut para 'ulama : 1. Perselisihan yang tidak ada didalamnya nash yang jelas yang menunjukkan akan kebenaran salah satu pendapat dan pintu ijtihad terbuka di dalamnya oleh karena itu perselisihan/khilaf ini dinamakan masalah ijtihady. Dan kita diperbolehkan untuk berlapang dada didalamnya ( Lihat " Kitabul ilmi "bab Adab Tholibil 'ilmi oleh Fadhilatusy Syaikh Muhammad bin Sholeh Al-'Utsaimiin –rahimahullah- ).2. Perselisihan yang ada didalamnya nash yang jelas yang menunjukkan akan kebenaran salah satu pendapat dan tidak ada ijtihad didalamnya. Disini kita wajib untuk mengingkari pendapat yang menyelisihi nash tersebut. Lihat " Hujajul aslaf fibayaanil farqi baina masailil ijtihad wa masaailil khilaf " oleh Abu Abdirrahman Fauzi bin Abdillah Al-Atsary –pent&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15358194-112747594111689061?l=abuyoesuf.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abuyoesuf.blogspot.com/feeds/112747594111689061/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=15358194&amp;postID=112747594111689061' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15358194/posts/default/112747594111689061'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15358194/posts/default/112747594111689061'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abuyoesuf.blogspot.com/2005/09/bagaimana-sikap-seorang-muslim-dalam.html' title=''/><author><name>abu_yusuf</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15735738412660387343</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://photos.friendster.com/photos/39/85/27355893/2558270428391m.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15358194.post-112549069002474478</id><published>2005-08-31T05:16:00.000-07:00</published><updated>2005-08-31T05:21:17.316-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;div style="CLEAR: both"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;color:#990000;"&gt;&lt;strong&gt;نصيحة ورجاء إلى الأخوة السلفيين&lt;br /&gt;NASEHAT DAN HARAPAN TERHADAP SALAFIYIN&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#990000;"&gt;بسم الله الرحمن الرحيم&lt;br /&gt;Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه وسلم ومن اتبع هداه .&lt;br /&gt;Segala Puji hanya milik Allah dan sholawat serta salam semoga senantiasa tercurahkan kepada Rasulullah, keluarganya, para sahabatnya dan siapa saja yang mengikutinya.&lt;br /&gt;أما بعد :&lt;br /&gt;Adapun setelah itu :&lt;br /&gt;فإنني أوجه رجائي إلى كل السلفيين في كل مكان أن&lt;br /&gt;Sesungguhnya aku menaruh harapan kepada setiap salafiyin di seluruh tempat supaya mereka :&lt;br /&gt;يسلكوا مسلك السلف الصالح في إشاعة أسباب الألفة والمحبة&lt;br /&gt;Senantiasa meniti jalan salafus sholih di dalam menyebarkan sebab-sebab persatuan dan kasih sayang&lt;br /&gt;وترك التنابز بالألقاب&lt;br /&gt;Meninggalkan memanggil dengan gelar-gelar yang buruk&lt;br /&gt;والبعد عن أسباب الاختلافات&lt;br /&gt;Menjauhi perkara-perkara yang dapat menyebabkan perselisihan&lt;br /&gt;واحترام أهل العلم ودعاة الدعوة السلفية&lt;br /&gt;Menghormati para ulama dan para du’at salafiyyah&lt;br /&gt;والالتفاف حولهم والرجوع إليهم في المعضلات&lt;br /&gt;Senantiasa berkumpul di sekeliling mereka dan rujuk (kembali) kepada mereka di dalam problema yang pelik&lt;br /&gt;وكفّ الألسنة عن إخواننا أهل الشام السلفيين :&lt;br /&gt;Menjaga lisan dari memperbincangkan saudara-saudara kami, salafiyun dari Syam, seperti :&lt;br /&gt;الشيخ علي حسن عبد الحميد الحلبي والشيخ سليم الهلالي والشيخ محمد موسى نصر وسائر علماء المنهج السلفي .&lt;br /&gt;Syaikh Ali Hasan Abdul Hamid al-Halabi, Syaikh Salim al-Hilali dan Syaikh Muhammad Musa Nashr serta seluruh ulama yang bermanhaj salafi&lt;br /&gt;ونطلب من مواقع الإنترنت التي تنتمي إلى المنهج السلفي أن تعرف للعلماء حقهم ومنزلتهم وأن تبتعد عن النَّيـْل منهم&lt;br /&gt;Dan aku meminta kepada website-website internet yang berintima’ dengan manhaj salafi agar supaya mengenal hak-hak para ulama dan kedudukan mereka Serta supaya menjauhi dari mencela mereka&lt;br /&gt;وإنا لنرجو – ختاما – أن يكون البيان الذي صدر عنا في هذه الليلة المباركة (12/ 9/ 1423هـ ) حَلاً حاسما لكل ما حصل من خلاف أو سوء فهم .&lt;br /&gt;Dan yang terakhir, kami benar-benar mengharapkan bayaan (keterangan) yang bersumber dari kami pada malam yang penuh berkah ini (12/9/1423) dapat menjadi jalan keluar atas segala perselisihan dan kesalahfahaman yang terjadi.&lt;br /&gt;وفق الله الجميع لما يرضيه .&lt;br /&gt;Semoga Allah senantiasa memberikan taufik-Nya kepada kita semua kepada apa yang Ia ridhai.&lt;br /&gt;ربيع بن هادي المدخلي&lt;br /&gt;في 12/ 9/ 1423هـ&lt;br /&gt;Rabi’ bin Hadi al-Madkholi&lt;br /&gt;12/9/1423 H.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;Dialihbahasakan oleh Abu Salma dari &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.rabee.net/"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:78%;color:#990000;"&gt;http://www.rabee.net/&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:78%;color:#990000;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="CLEAR: both; PADDING-BOTTOM: 0.25em"&gt;&lt;span style="color:#990000;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="color:#990000;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#990000;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="post-footer"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#990000;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#990000;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="item-action"&gt;&lt;a title="Email Post" href="http://www.blogger.com/email-post.g?blogID=11724825&amp;postID=111305782583934815"&gt;&lt;span class="email-post-icon"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="item-control admin-1546361057 pid-488941525"&gt;&lt;a title="Edit Post" style="BORDER-RIGHT: medium none; BORDER-TOP: medium none; BORDER-LEFT: medium none; BORDER-BOTTOM: medium none" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=11724825&amp;postID=111305782583934815&amp;amp;quickEdit=true"&gt;&lt;span class="quick-edit-icon"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15358194-112549069002474478?l=abuyoesuf.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abuyoesuf.blogspot.com/feeds/112549069002474478/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=15358194&amp;postID=112549069002474478' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15358194/posts/default/112549069002474478'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15358194/posts/default/112549069002474478'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abuyoesuf.blogspot.com/2005/08/nasehat-dan-harapan-terhadap-salafiyin.html' title=''/><author><name>abu_yusuf</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15735738412660387343</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://photos.friendster.com/photos/39/85/27355893/2558270428391m.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15358194.post-112531862620182521</id><published>2005-08-29T05:27:00.000-07:00</published><updated>2005-08-29T05:32:35.710-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family:georgia;font-size:180%;color:#990000;"&gt;Do’a Ibu Juraij&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;em&gt;Ditulis Oleh: Sa’ad bin Muhammad Ali Abdul Latif&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;em&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;Imam Bukahri dan Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah dari Rasulullah, beliau bersabda :“ Juraij adalah seorang laki-laki ahli ibadah, ia jadikan suatu bangunan untuk beribadah. (suatu saat) ibunya mendatanginya sedangkan ia dalam keadaan shalat, ibunya berkata : “Wahai juraij !”, maka Juraij (bimbang) dan berkata : “Ya Allah (aku memenuhi panggilan) ibuku ataukah (aku meneruskan) shalatku ?” maka ia berketetapan meneruskan shalatnya, ibunyapun pergi. Keesokan hari ibunya mendatanginya lagi dan memanggilnya : “wahai juraij !”, maka Juraij (bimbang) dan berkata : “Ya Allah (aku memenuhi panggilan) ibuku ataukah (aku meneruskan) shalatku ?” maka ia berketetapan meneruskan shalatnya, Keesokan hari ibunya mendatanginya lagi, dan memanggilnya : “wahai juraij !”, maka Juraij (bimbang) dan berkata : “Ya Allah (aku memenuhi panggilan) ibuku ataukah (aku meneruskan) shalatku ?” maka ia berketetapan meneruskan shalatnya, maka ibunya (jengkel) dan berkata : “Ya Allah janganlah matikan anakku hingga ia melihat pelacur.” Adalah bani Israil membicarakan tentang Juraid dan ibadahnya, maka berkata seorang wanita pelacur yang cantik, : “jika kalian berkehendak, saya akan menggodanya”. Maka wanita tadi menggoda Juraid, akan tetapi Juraid tidak bergeming padanya, lalu wanita itu mendatangi penggembala yang berteduh di tempat peribadatan Juraij, hingga berzina dengannya. Kemudian hamillah wanita itu, maka tatkala melahirkan, ia berkata : “bayi ini anaknya Juraij”, maka merekapun segera meminta Juraij keluar, dan menghancurkan tempat peribadatan Juraij, serta memukulinya. Maka Juraij berkata : “Ada apa kalian ini ?” mereka berkata : “Engkau telah berzina dengan wanita pelacur hingga melahirkan bayi ! lalu Juraij berkata : “Dimana bayi itu ?” kemudian mereka mendatangkan bayi itu. Juraij berkata : “Biarkanlah aku shalat ! lalu Juraij shalat, tatkala selesai, ia datangi bayi itu dan ia tekan perutnya. Lalu ia bertanya (kepada bayi itu) : “Siapa ayahmu ?” bayi itu menjawab : “Fulan, seorang penggembala”. (setelah mendengar pekataan juraij ini) merekapun menghadap Juraij dan menciuminya serta mengusap-usapnya. Kemudian mereka berkata : “Kami akan membangun kembali tempat peribadatanmu dari emas”. Lalu Juraij berkata : “Tidak, kembalikan sebagaimana semula terbuat dari tanah”. Sungguh ibu Juraij telah berdo’a (dan do’a orang tua itu dikabulkan) ketika anaknya tidak memenuhi panggilannya, dan ibunya mendoakan kejelekan atas Juraij, yaitu ia berdo’a agar Juraij melihat wajah pelacur, jika demikian halnya maka melihat wajah pelacur adalah musibah, bahkan musibah yang besar.Dan mata itu berzina, dan zinanya adalah dengan melihat, demikian juga lisan, zinanya adalah berbicara, adapun tangan juga berzina dan zinanya adalah dengan menyentuh, sebagaimana dalam hadits :“Dituliskan bagi bani Adam bagiannya dari zina, yang ia pasti lakukan, kedua mata zinanya dengan melihat, kedua telinga zinanya dengan mendengar, dan lisan zinanya dengan berbicara, dan tangan zinanya adalah dengan memegang, kaki zinanya dengan melangkah, sedangkan hati menginginkan dan berangan-angan, dan yang membenarkan dan mendustakan itu semua adalah kemaluan”. (Hadits riwayat Muslim)Tetapi keadaan kebanyakan para ayah dan Ibu sekarang ini sangat disayangkan, mereka mendorong bahkan menyuruh anak-anak mereka, buah hati mereka untuk terjatuh dalam maksiat ini yaitu melihat dan mengikuti trend para pelacur dan yang semisal mereka, bahkan lebih dari itu !!Alasan dari para orang tua (para ayah dan ibu) bahwasanya hal ini untuk memenuhi keinginan anak-anak mereka !! wajah-wajah para pelacur dan wanita semisal mereka dilihat dengan mata mereka siang dan malam, dalam sampul-sampul majalah yang dihiasi serta dalam layar TV dan lainnya !!Sedangkan kenyataannya, mereka tidak hanya melihat muka saja, bahkan melihat wajah dan seluruh anggota tubuh ! ditambahkan lagi dengan mengikuti berita dan kegiatan-kegiatan mereka (yaitu para artis), dan dengan menghormati serta mengagungkan mereka dengan nama seni, atau kebudayaan, atau kemajuan dan keterbukaan Wahai para orang tua, hingga kapan kalian mendorong dan menyuruh anak-anak kalian kepada hal yang tidak baik akibatnya?Apakah kalian tidak mendengar hadits Rasulullah :"Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungan jawab terhadap yang dipimpinnya.” Muttafakun alahi Maka hendaknya kalian menjadi sebaik-baik pemimpin, dan sebaik-baik orang yang bertanggung jawab, hingga kalian memperoleh kebahagiaan didunia dan keselamatan disisi Allah pada hari kiamat (semoga Allah menjaga kalian dari kejahatan jiwa dan kejelekan amal-amal kalian).Dan Allah jualah yang dimintai pertolongannya. &lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;br /&gt;Maraji':Diterjemahkan dari Majalah al-Ashalah edisi 9 hal 62.&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;www.salafindo.com&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15358194-112531862620182521?l=abuyoesuf.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abuyoesuf.blogspot.com/feeds/112531862620182521/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=15358194&amp;postID=112531862620182521' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15358194/posts/default/112531862620182521'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15358194/posts/default/112531862620182521'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abuyoesuf.blogspot.com/2005/08/doa-ibu-juraijditulis-oleh-saad-bin.html' title=''/><author><name>abu_yusuf</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15735738412660387343</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://photos.friendster.com/photos/39/85/27355893/2558270428391m.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15358194.post-112471397452837297</id><published>2005-08-22T05:30:00.000-07:00</published><updated>2005-08-22T05:32:54.533-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;font-size:130%;"&gt;NASIHAT BAGI PEMUDA ASH-SHOHWAH AL-ISLAMIYYAH&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;font-size:130%;"&gt;AL-IMAM AL-ALLAMAH ABDUL AZIZ BIN BAZZ&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;س5 : &lt;a id="فتاوى الدعوة الإسلامية" name="وما هي نصيحتكم عموما لتيار الصحوة الإسلامية23517"&gt;وما هي نصيحتكم عموما لتيار الصحوة الإسلامية &lt;/a&gt;الشبابية المتعالية الآن في العالم الإسلامي ؟&lt;br /&gt;ج5 : هذه الصحوة التي تسر كل مؤمن ويصح أن تسمى حركة إسلامية وتجديدا إسلاميا ونشاطا إسلاميا - يجب أن تشجع وأن توجه إلى الاعتصام بالكتاب والسنة وأن يحذر قادتها وأفرادها من الغلو والإفراط عملا بقول الله عز وجل : &lt;a id="آيات" name="يا أهل الكتاب لا تغلوا في دينكم31465"&gt;&lt;a title="سورة النساء (4) - آية رقم: 171" href="http://quran.al-islam.com/Display/Display.asp?nType=1&amp;nSeg=0&amp;amp;l=arb&amp;nSora=4&amp;amp;nAya=171" target="_blank"&gt;يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لا تَغْلُوا فِي دِينِكُمْ &lt;/a&gt;&lt;/a&gt;وقول النبي صلى الله عليه وسلم : &lt;a id="أحاديث" name="إياكم والغلو في الدين فإنما أهلك من كان قبلكم الغلو27372"&gt;&lt;a title="تخريج الحديث" href="http://ibnbaz.org.sa/Takreej.asp?f=HadN1069"&gt;" إياكم والغلو في الدين فإنما أهلك من كان قبلكم الغلو في الدين &lt;/a&gt;&lt;/a&gt;وقوله صلى الله عليه وسلم &lt;a id="أحاديث" name="هلك المتنطعون32031"&gt;&lt;a title="تخريج الحديث" href="http://ibnbaz.org.sa/Takreej.asp?f=HadN1070"&gt;" هلك المتنطعون هلك المتنطعون هلك المتنطعون &lt;/a&gt;&lt;/a&gt;" .&lt;br /&gt;ويجب عليهم أن يتوجهوا إلى الله دائما بطلب التوفيق وصلاح القلوب والأعمال ، والثبات على الحق ، وأن يعنوا عناية تامة بالقرآن الكريم تلاوة وتدبرا وتعقلا ، وعملا بالسنة المطهرة . لأنها الأصل الثاني . ولأنها المفسرة لكتاب الله كما قال الله عز وجل : &lt;a id="آيات" name="وأنزلنا إليك الذكر لتبين للناس ما نزل إليهم ولعلهم706"&gt;&lt;a title="سورة النحل (16) - آية رقم: 44" href="http://quran.al-islam.com/Display/Display.asp?nType=1&amp;nSeg=0&amp;amp;l=arb&amp;nSora=16&amp;amp;nAya=44" target="_blank"&gt;وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الذِّكْرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ إِلَيْهِمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ &lt;/a&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;وقال عز وجل : &lt;a id="آيات" name="وما أنزلنا عليك الكتاب إلا لتبين لهم الذي اختلفوا21588"&gt;&lt;a title="سورة النحل (16) - آية رقم: 64" href="http://quran.al-islam.com/Display/Display.asp?nType=1&amp;nSeg=0&amp;amp;l=arb&amp;nSora=16&amp;amp;nAya=64" target="_blank"&gt;وَمَا أَنْزَلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ إِلا لِتُبَيِّنَ لَهُمُالَّذِي اخْتَلَفُوا فِيهِ وَهُدًى وَرَحْمَةً لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ &lt;/a&gt;&lt;/a&gt;كما يجب على الدعاة إلى الله أن يستغلوا هذه الحركة الإسلامية بالتعاون مع القائمين عليها والمذاكرة معهم والحرص على إزالة الشبه التي قد تعرض لبعضهم عملا بقول الله عز وجل : &lt;a id="آيات" name="وتعاونوا على البر والتقوى ولا تعاونوا على الإثم والعدوان12955"&gt;&lt;a title="سورة المائدة (5) - آية رقم: 2" href="http://quran.al-islam.com/Display/Display.asp?nType=1&amp;nSeg=0&amp;amp;l=arb&amp;nSora=5&amp;amp;nAya=2" target="_blank"&gt;وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ &lt;/a&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15358194-112471397452837297?l=abuyoesuf.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abuyoesuf.blogspot.com/feeds/112471397452837297/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=15358194&amp;postID=112471397452837297' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15358194/posts/default/112471397452837297'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15358194/posts/default/112471397452837297'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abuyoesuf.blogspot.com/2005/08/nasihat-bagi-pemuda-ash-shohwah-al.html' title=''/><author><name>abu_yusuf</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15735738412660387343</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://photos.friendster.com/photos/39/85/27355893/2558270428391m.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15358194.post-112626732770029292</id><published>2005-08-20T04:58:00.000-07:00</published><updated>2005-09-09T05:02:07.710-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family:courier new;color:#663333;"&gt;Islam Berlepas Diri Dari Pemboman&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;&lt;span style="color:#663333;"&gt;&lt;strong&gt; [STOP PRESS]&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Ledakan dahsyat itu memakan banyak korban jiwa dan ratusan terluka. Maka tiada kalimat yang paling pantas diucapkan selain “innaalillaahi wainna ilaihi rojiun” (sesungguhnya kita milik Allah dan sesungguhnya kita akan kembali kepada-Nya).Terlepas dari siapa pelaku kejahatan dan kemungkaran itu – karena memang masih diselidiki oleh pihak yang berwajib – namun yang ingin disampaikan melalui situs ini bahwa perbuatan tersebut adalah sebuah tindak kejahatan yang dimurkai oleh tuntunan Islam yang hakiki. Tindakan peledakan tersebut bertolak belakang dengan ajaran syariat Islam yang sangat menghormati jiwa, harta dan kehormatan manusia. Apalagi jika tindak kejahatan tersebut menimpa orang-orang yang tidak bersalah, menimpa orang-orang yang sedang mencari nafkah untuk anak dan istri mereka. Seandainya kejahatan tersebut menimpa keluarga pelaku, pasti dia tidak akan rela, dia akan mengecamnya dan menyimpan perasaan dendam dalam dirinya, terhadap perbuatan tersebut. Karena besarnya dosa pembunuhan maka al-Qur’an yang mulia telah mengancam dengan ancaman yang amat berat bagi pelaku pembunuhan, apalagi jika yang terbunuh seorang muslim/mu’min. Allah ta’ala berfirman : Dan tidak layak bagi seorang mu'min membunuh seorang mu'min (yang lain), kecuali karena tersalah (tidak sengaja), dan barangsiapa membunuh seorang mu'min karena tersalah (hendaklah) ia memerdekakan seorang hamba sahaya yang beriman serta membayar diat yang diserahkan kepada keluarganya (si terbunuh itu), kecuali jika mereka (keluarga terbunuh) bersedekah. Jika ia (si terbunuh) dari kaum yang memusuhimu, padahal ia mu'min, maka (hendaklah si pembunuh) memerdekakan hamba-sahaya yang mukmin. Dan jika ia (si terbunuh) dari kaum (kafir) yang ada perjanjian (damai) antara mereka dengan kamu, maka (hendaklah si pembunuh) membayar diat yang diserahkan kepada keluarganya (si terbunuh) serta memerdekakan hamba sahaya yang mukmin. Barangsiapa yang tidak memperolehnya, maka hendaklah ia (si pembunuh) berpuasa dua bulan berturut-turut sebagai cara taubat kepada Allah. Dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. Dan barangsiapa yang membunuh seorang mu'min dengan sengaja, maka balasannya ialah Jahannam, kekal ia di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan mengutukinya serta menyediakan azab yang besar baginya. (An-Nisa : 92-93) Dan firman Allah : Oleh karena itu Kami tetapkan (suatu hukum) bagi Bani Israil, bahwa: barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya. Dan sesungguhnya telah datang kepada mereka rasul-rasul Kami dengan (membawa) keterangan-keterangan yang jelas, kemudian banyak di antara mereka sesudah itu sungguh-sungguh melampaui batas dalam berbuat kerusakan di muka bumi. (Al-Maidah : 32) Dari ayat-ayat diatas kita semakin yakin bahwa Islam berlepas diri dari penghalalan tindak kejahatan tersebut dan berlepas diri dari penghalalan berbagai cara untuk mencapai tujuan, karena menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan adalah doktrin komunisme yang tidak beriman akan adanya Allah Sang Pencipta yang wajib disembah. Selanjutnya tragedi 9 September 2004 harus dijadikan pelajaran penting yang amat berharga bagi pemerintah dan seluruh aparat kemanan negeri ini untuk introspeksi dan evaluasi diri serta meningkatkan kewaspadaan, kembali kepada Allah, bertaubat dan memohon pertolongan serta petunjuk-Nya. Hendaknya disadari bahwa kita tidak mampu berbuat banyak dan benar hanya dengan mengandalkan kemampuan diri kita sendiri tanpa pertolongan dari Allah ta’ala, Dzat Yang Maha Kuasa. Ingat !! peristiwa terkutuk itu sudah terjadi, penyesalan tanpa perbuatan tidak banyak berarti. Selebihnya ada dua pertanyaan yang harus kita cari jawabannya : Mengapa peristiwa itu terjadi? dan Apa langkah kita agar peristiwa tersebut tidak terulang? Hanya kepada Allah kita mengadu segala musibah yang menimpa negeri, bangsa dan umat ini, semoga bermanfaat dan menjadi bahan renungan bersama&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;a href="http://www.salafindo.com"&gt;&lt;span style="font-family:courier new;color:#663333;"&gt;www.salafindo.com&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15358194-112626732770029292?l=abuyoesuf.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abuyoesuf.blogspot.com/feeds/112626732770029292/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=15358194&amp;postID=112626732770029292' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15358194/posts/default/112626732770029292'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15358194/posts/default/112626732770029292'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abuyoesuf.blogspot.com/2005/08/islam-berlepas-diri-dari-pemboman-stop.html' title=''/><author><name>abu_yusuf</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15735738412660387343</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://photos.friendster.com/photos/39/85/27355893/2558270428391m.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15358194.post-112435971764610108</id><published>2005-08-18T03:00:00.000-07:00</published><updated>2005-08-24T04:51:33.583-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:180%;color:#990000;"&gt;Dimana Alloh?&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Kategori: &lt;a title="Artikel-artikel kategori Aqidah Muslim" href="http://www.salafindo.com/katarti.php?catid=5"&gt;Aqidah Muslim&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Ditulis Oleh: &lt;em&gt;Syaikh Abdul Malik Ramadhani&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#330000;"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;SUATU&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt; ketika syaikh Muhammad Nashirudin al-Albani pernah bertemu dengan salah seorang pemimpin partai Islam (dari Aljazair), Ali bin Hajj. Syaikh mengetahui sangat detail tentang kejadian yang terjadi pada mereka, dan telah sampai berita kepada beliau bahwa partai mereka mendapat dukungan jutaan pendukung. Diantara pertanyaan yang dilontarkan syaikh kepadanya yaitu yang saya nukil secara ringkas disini :Syaikh Muhammad Nashirudin Al-Albani bertanya : "Apakah setiap orang yang bersamamu (yang mendukung partaimu) mengetahui bahwa Allah bersemayam di atas Arsy? Setelah terjadi dialog, dimana Ali bin Hajj berupaya untuk lari dari pertanyaan syaikh al-Albani, dan syaikh-pun berupaya untuk menutup jalan keluar dari pertanyaan diatas, dia menjawab pertanyaan beliau dengan mengatakan : "Kami berharap demikian."Syaikh berkata kepadanya : "Tinggalkan jawabanmu yang bersifat politis ini!"Lalu, diapun menjawab dengan tegas bahwasanya mereka tidak mengetahui hal itu. Maka, syaikh berkata : "Cukuplah bagiku jawabanmu ini!"Prinsip Tasfiyyah (pemurnian) dan Tarbiyyah (mendidik) mengharuskan pertanyaan diatas yang merupakan barometer yang paling tepat. Dengannya akan diketahui hakekat berbagai dakwah/jama'ah-jama'ah pada zaman ini yang menyerukan jihad. Sebab, orang yang tidak mampu memurnikan akidah para pendukung dan pecintanya, tentu ketidak mampuannya akan lebih nampak pada pemurnian (buah dari aqidah tersebut), baik dalam akhlak, perilaku maupun dalam berbagai amal perbuatan mereka. Padahal diantara mereka (pendukungnya) ada orang yang membenci dan memeranginya, maka bagaimana mungkin ia dapat membina mereka sesudah itu? Sedangkan Allah berfirman : "Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri." (ar-Ra'd : 11)Selanjutnya, jihad itu sendiri tidak akan terwujud kecuali dengan sebuah umat yang hati mereka bersatu. Karena bersatunya hati akan sangat menunjang bagi perolehan kemenangan, sebagaimana firman Allah :"Dialah yang memperkuatmu dengan pertolongan-Nya dan dengan orang-orang mu'min, dan yang mempersatukan hati mereka." (al-Anfaal : 62-63)Sedangkah hati-hati itu, jika tidak disatukan diatas aqidah salafus shalih, niscaya mereka akan selalu berada dalam perselisihan yang tidak akan mungkin dapat disatukan dengan persatuan mereka melalui kotak-kotak pemilihan umum.Allah berfirman dengan mengarahkan firman-Nya kepada para Sahabat Nabi, semoga ridha Allah atas mereka :"Maka jika mereka beriman kepada apa yang telah kamu beriman kepadanya, sungguh mereka telah mendapat petunjuk ; dan jika mereka berpaling, sesungguhnya mereka berada dalam permusuhan denganmu." (Al-Baqarah : 137)Bagaimanapun yang telah diupayakan oleh para "Buih politik" itu, berupa pengumpulan (masa pendukung), namun sesungguhnya permulaan aqidah mereka mengarah kepada suatu sikap "Tamyi" (sikap menerima siapa saja yang mendukung mereka tanpa memperhatikan aqidah yang dianutnya) dan akan berakhir dengan perpecahan dan saling membid'ahkan.Hal itu disebabkan karena pertemuan/persatuan yang bersifat jasmani tidak akan terwujud, kecuali hanya bersifat sementara bilamana ikatan hati bercerai-berai. Dan saya tidak menjumpai suatu sifat (gambaran) yang lebih tepat dan benar untuk menggambarkan kondisi mereka, daripada apa yang telah difirmankan Allah perihal orang-orang Yahudi :"Permusuhan antara sesama mereka sangat hebat. Kamu mengira mereka itu bersatu, padahal hati-hati mereka terpecah-belah." (al-Hasyr : 14)Intinya, bahwa Allah telah menjadikan kekuasan yang baik bagi hamba-Nya yang beribadah kepada-Nya saja. Tanpa menyekutukan-Nya, Allah berfirman : "Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap beribadah kepada-Ku dengan tidak mempersekutukan sesuatu apapun dengan-Ku. (an-Nur : 55)Bagian terdepan ayat ini tidak boleh ditolak dengan memberikan perumpamaan-perumpamaan sejarah untuk membatalkannya, karena seorang muslim adalah orang yang senantiasa berhenti pada nash (ayat al-Qur'an dan hadits Rasulullah), lagi pula Allah telah berfirman : "Maka janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah. Sesungguhnya Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui." (an-Nahl : 74)Adapun pembatasan syaikh al-Albani akan pertanyaannya pada masalah istiwa (bersemayamnya Allah diatas singgasana-Nya) disebabkan karena masalah istiwa merupakan persimpangan jalan yang memisahkan antara ahlussunnah dan para pengikut hawa nafsu. Lagi pula ia merupakan masalah aqidah yang mudah lagi gampang diketahui oleh masyarakat yang hidup bersama Nabi, yang mana mereka telah menaklukkan dunia ini dan memimpin umat-umat yang beraneka ragam. (Aqidah ini telah diketahui oleh mereka). Bahkan oleh seorang wanita penggembala kambing sekalipun. Ujian itu dilakukan oleh syaikh al-Albani dengan menanyakan masalah ini kepada pemimpin partai politik tersebut, yang beranggapan bahwa partainya telah sempurna agamanya dan berada di atas garis kejahilan (orang-orang yang hidup) di zamannya. Ujian ini merupakan jalan atau cara yang ditempuh oleh para salafus shalih, meskipun dibenci oleh setiap khalaf (orang yang datang sesudah mereka) yang tidak menempuh jalan dan cara mereka.Imam Muslim dan lainnya telah meriwayatkan dari Muawiyyah bin al-Hakam as-Sulami ia berkata :"Aku memiliki sekawanan kambing yang berada diantara gunung Uhud dan Jawwaniyah, disana ada seorang budak wanita. Suatu hari aku memeriksa kambing-kambing itu, tiba-tiba aku dapati bahwa seekor serigala telah membawa (memangsa) salah satu diantara kambing-kambing itu, sementara aku seorang manusia biasa, aku menyesalinya, lalu aku menampar wanita itu. Kemudian kudatangi Nabi dan kuceritakan kejadian tersebut kepadanya, beliaupun membesarkan peristiwa itu atasku, maka kukatakan (kepadanya) : 'Wahai Rasulullah, tidakkah (lebih baik) aku memerdekakannya?' Beliau berkata : 'Panggillah ia!' Lalu aku memanggilnya, maka beliau berkata kepadanya : 'Dimana Allah?' Wanita itu menjawab : 'Diatas'. Beliau bertanya lagi : 'Siapakah aku?' Ia menjawab : 'Engkau adalah utusan Allah!' Beliau berkata : 'Bebaskanlah (merdekakanlah dia)! karena sesungguhnya dia adalah seorang wanita yang beriman'." (Ahmad V/447, Muslim No. 537)Maka, perhatikanlah dengan seksama masyarakat tersebut (semoga Allah merahmati anda), yang mana Rasulullah berjihad bersama mereka, aqidah mereka sempurna (merata) hingga pada para penggembala kambing, yang mana perjumpaan (pergaulan) mereka dengan Rasulullah hanya sedikit, seperti wanita penggembala kambing ini. Dan cobalah anda perhatikan dengan seksama realita masyarkat Islam di zaman ini memanjat kursi-kursi kekuasaan, -jika anda memperhatikan dengan seksama- pasti akan anda dapatkan perbedaan yang sangat jauh antara jihad (perjuangan) mereka dengan perjuangan masyarakat muslimin yang pertama.Maka, mampukah kelompok-kelompok jihad itu menyatukan para pengikut (mereka) diatas aqidah “ainallah” (dimana Allah)?Ataukah pertanyaan ini sudah menjadi sesuatu yang ditertawakan dan jarang dipertanyakan oleh kelompok-kelompok itu di zaman yang telah dipengaruhi kemajuan ini? Ataukah pertanyaan ini telah menjadi sesuatu yang diperolok-olokan oleh para pengasuh jama'ah-jama'ah itu? Ataukah mereka telah memahami pentingnya berhukum dengan hukum yang diturunkan Allah, meskipun mereka menyia-nyiakan Allah ?Maka, kapankah Allah akan mengizinkan untuk melepaskan, membebaskan dan memerdekakan mereka dari orang-orang yang menghinakan mereka sebagaimana telah dibebaskannya budak wanita itu setelah ia mengenal Allah ?"Dan Allah berkuasa terhadap urusan-Nya, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahuinya." (Yusuf : 21)Hakikat pertanyaan ini (dimana Allah) adalah upaya untuk menampakkan hakikat/jati diri dakwah-dakwah itu serta memperjelas, sejauh mana keikhlasan niat-niat (mereka). Sebab, dalam perhatian yang dicurahkan pada permasalahan hukum mengandung perhatian terhadap syariat dan dalam perhatian yang dicurahkan kepada masalah istiwa' (bersemayamnya Allah diatas 'Arsy/singgasana-Nya), mengandung perhatian terhadap hak Allah. Namun, diantara kedua perhatian diatas terdapat perbedaan, yaitu bahwasannya pada perhatian yang pertama (terhadap hukum) seorang hamba memperoleh bagian untuk dirinya berupa apa yang sering diucapkan diatas lisan, seperti pengembalian segala sesuatu yang diambil secara zhalim (kepada pemiliknya), pemenuhan segala hak-hak (bagi mereka yang berhak menerimanya) dan kehidupan yang senantiasa tercukupi yang benar-benar telah dijanjikan Allah dalam firman-Nya :"Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri itu beriman dan bertaqwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi" (al-A'raaf : 96)Artinya, bagian (hak) seorang hamba bercampur (berhubungan erat) dengan hak Allah. Adapun perhatian terhadap "Sifat istiwa' Allah diatas singgasana-Nya" merupakan perhatian yang murni terhadap hak Allah semata. Seorang yang mengajak menusia kepada penetapan dan iman kepada sifat ini tidak mendapat bagian untuk kepentingan pribadinya sendiri sedikitpun.Maka, perhatikanlah secara seksama perbedaan ini, pasti anda akan mengetahui kemuliaan sebuah keikhlasan. Sebab, dengungan seputar permasalahan "Hukum sesuai dengan apa yang diturunkan Allah " yang disertai dengan sikap menganggap enteng terhadap permasalahan sifat-sifat Allah yang murni atau mengakhirkannya atau menjadikannya sebagai suatu masalah yang berada pada urutan terakhir, semua itu merupakan bukti terbesar yang menunjukkan bahwa pada urutan tersebut terdapat suatu cacat. Padahal sifat-sifat Allah adalah sesuatu yang paling mulia yang diturunkan-Nya, karena kemuliaan suatu ilmu tergantung pada kemuliaan yang dipelajari dalam ilmu tersebut. Sebagaimana yang telah disebutkan di atas. Semua ini semakin memberi penekanan yang kuat kepada kita akan pentingnya merujuk (kembali) kepada dakwah / ajakan para Nabi alaihimussalam yang telah menyatakan kepada umat-umat mereka : "Beribadahlah kepada Allah, sekali-kali tak ada ilah (yang sebenarnya) bagimu selain Dia." (al-A'raaf : 59)Maka, dahulukanlah perhatian terhadap kesyirikan yang terjadi di kuburan-kuburan atas kesyirikan yang terjadi di istana-istana, jika ungkapan ini pantas untuk diucapkan, oleh sebab itulah, maka masalah imamah (kekhalifahan/kepemimpinan) bukan merupakan bagian dari rukun-rukun iman, renungkanlah !!!&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#330000;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;color:#330000;"&gt;&lt;em&gt;Maraji':Diterjemahkan dari kitab Sittu Durror karya Syaikh Abdul Malik Ramadhani&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#330000;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;FROM &lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;a href="http://www.salafindo.com"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;www.salafindo.com&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15358194-112435971764610108?l=abuyoesuf.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abuyoesuf.blogspot.com/feeds/112435971764610108/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=15358194&amp;postID=112435971764610108' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15358194/posts/default/112435971764610108'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15358194/posts/default/112435971764610108'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abuyoesuf.blogspot.com/2005/08/dimana-allohkategori-aqidah.html' title=''/><author><name>abu_yusuf</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15735738412660387343</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://photos.friendster.com/photos/39/85/27355893/2558270428391m.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15358194.post-112427968106616601</id><published>2005-08-17T04:47:00.000-07:00</published><updated>2005-08-17T04:54:41.103-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family:courier new;font-size:130%;"&gt;&lt;span style="color:#990000;"&gt;MENEPIS TUDUHAN MEMBELA KEBENARAN&lt;br /&gt;Bantahan Terhadap Tuduhan Dusta dan Fitnah Fauzan al-Anshori&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;Oleh : &lt;em&gt;&lt;span style="color:#003300;"&gt;&lt;strong&gt;Abdurrohman bin Toyyib As-Salafy, Lc&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;(Dimuat di dalam Majalah adz-Dzakhirah edisi bulan ini Â–insya Alloh-)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;CELAAN&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt; demi celaan, tuduhan demi tuduhan serta kedustaan demi kedustaan akan terus dilontarkan bertubi-tubi kepada dakwah yang mubarokah ini (dakwah Salafiyah), tapi Alhamdulillah -dengan seizin Allah- dakwah Salafiyah ini Â‘kan terus maju dan semakin menebarkan keharuman sunnah dan atsar ditengah umat. Dakwah Salafiyah akan senantiasa tegak diatas kebenaran, menampakkan yang benar dan tidak akan menyembunyikan (sesuatu pun). Salafiyah bukanlah gerakan di bawah tanah (seperti tikus) yang selalu bersembunyi dari satu lorong ke lorong yang lain, dari satu selokan ke selokan yang lain. Itulah sifat/ciri dakwah Salafiyah (Thoifah Manshuroh) yang dijelaskan oleh Nabi Shallallahu 'alahi wa Sallam dalam sabda beliau :&lt;br /&gt;(لا تزال طائفة من أمتي قائمة بأمر الله لا يضرهم من خذلهم أو خالفهم حتى يأتي أمر الله و هم ظاهرون على الناس)&lt;br /&gt;Artinya : "Senantiasa ada sekelompok dari umatku yang tegak diatas perintah (agama) Allah, tidak memadharotkan mereka celaan serta penyelisihan orang yang menyelisihi mereka sampai datangnya perintah Allah (hari kiamat) dan mereka (kelompok tersebut) selalu nampak dihadapan manusia" [HR. Bukhori 8/149 dan Muslim 3/1524].&lt;br /&gt;Diantara tuduhan-tuduhan batil dan dusta yang dilontarkan kepada dakwah Salafiyah ini adalah tulisan yang berjudul "Salafiyyun dalam sorotanÂ…" yang disebarkan di website Majelis Mujahidin Indonesia, kontribusi dari Fauzan Al-Anshori -semoga Allah mengampuninya dan memberinya petunjuk-. Tuduhan-tuduhan/syubhat-syubhat ini sebetulnya juga pernah dilontarkan oleh mulut-mulut berbisa lainnya.&lt;br /&gt;[كَبُرَتْ كَلِمَةً تَخْرُجُ مِنْ أَفْوَاهِهِمْ إِنْ يَقُولُونَ إِلَّا كَذِبًا]&lt;br /&gt;Artinya : "Alangkah jeleknya kata-kata yang keluar dari mulut mereka, mereka tidak mengatakan kecuali dusta" [QS Al-Kahfi 5].&lt;br /&gt;Oleh karenanya dengan memohon pertolongan dan taufik-Nya, kami akan berusaha untuk menyingkap dan menepis tuduhan-tuduhan batil ini dan membela kebenaran agar jalan Allah selalu terang benderang malamnya seperti siangnya dan [لِيَهْلِكَ مَنْ هَلَكَ عَنْ بَيِّنَةٍ وَيَحْيَا مَنْ حَيَّ عَنْ بَيِّنَةٍ]. Artinya : "Agar orang yang binasa itu binasanya dengan keterangan yang nyata dan agar orang yang hidup itu hidupnya dengan keterangan yang nyata pula" [QS Al-Anfaal 42].&lt;br /&gt;Simak dan nikmati bantahan terhadap tuduhan serta syubhat-syubhat yang ada di dalam artikel "Salafiyyun dalam sorotan Â….." .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syubhat/tuduhan&lt;br /&gt;Fauzan berkata : Sejak beberapa puluh tahun yang lalu, ditengah kaum muslimin muncul sebuah gerakan yang menamakan dirinya Salafiyah atau salafiyyun.&lt;br /&gt;Bantahan&lt;br /&gt;Perlu diketahui bersama bahwa Salafiyah bukanlah suatu gerakan/partai/golongan yang serupa dengan Ikhwanul Muslimin, Hizbut Tahrir atau Jama'ah Tabligh atau NII yang didirikan beberapa puluh tahun yang lalu oleh pemimpin-pemimpin besarnya seperti Hasan Al-Banna, Taqiyuddin An-Nabhani, Muhammad Illyas dan Kartosuwiryo. Dakwah Salafiyah adalah nisbah/menisbatkan diri kepada manhaj/metode salaf (sahabat, tabi'in dan tabi'ut tabi'in) dan bukan aliran baru dalam Islam.&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn1" href="http://www.geocities.com/abu_amman/tuduhanMMI.htm?200418#_ftn1" name="_ftnref1"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;[1]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt; Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullahu berkata : "Tidak tercela orang yang menampakkan madzhab salaf dan menisbatkan diri kepadanya, bahkan wajib untuk menerima hal tersebut menurut kesepakatan, karena tidaklah madzhab salaf itu kecuali benar" [Majmu' Fatawa 4/149].&lt;br /&gt;Salafiyah adalah silsilah dakwah para salaf, pemegang tongkat estafet dakwah mereka. Salafiyah selalu berusaha mewujudkan sabda Nabi  dalam hadits Firqotun Najiyah : [ما أنا عليه اليوم وأصحابي] Artinya : "Yang mengikuti aku dan para sahabatku" [HR Tirmidzi dengan sanad yang hasan]. Salafiyah merupakan perwujudan dari anjuran ulama salaf , diantaranya Imam Al-'Auzai Rahimahullahu yang berkata : "Bersabarlah diatas sunnah, berhentilah kemana (para salaf) berhenti, katakan dengan apa yang mereka katakan dan cegahlah dari apa yang mereka cegah. Telusurilah jejak salafush sholeh karena akan mencukupimu apa yang mencukupi mereka".&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn2" href="http://www.geocities.com/abu_amman/tuduhanMMI.htm?200418#_ftn2" name="_ftnref2"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;[2]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt; Lebih dari itu Salafiyah adalah pengikut setia para salaf yang dijelaskan Allah dalam firman-Nya :&lt;br /&gt;[وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ]&lt;br /&gt;Artinya : "Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar.Â…" [QS At-Taubah 100].&lt;br /&gt;Madzhab Salaf (dakwah Salafiyah) adalah manhaj yang benar karena dia berlandaskan kepada Al-Qur'an dan Sunnah sesuai pemahaman para salafush sholeh. Inilah yang harus kita katakan seperti yang telah dikatakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah diatas. Adapun pribadi orang yang menisbatkan kepada manhaj ini maka kita katakan : [كل بني آدم خطاء و خير الخطائين التوابون] Artinya : "Setiap manusia itu pernah bersalah dan sebaik-baiknya orang yang salah adalah yang bertaubat" [HSR Ibnu Majah]. Dan kita katakan seperti yang dikatakan oleh Imam Malik Rahimahullahu : "Tidak ada seorangpun setelah Nabi Shallallahu 'alahi wa Sallam melainkan diambil ucapannya atau ditolak".&lt;br /&gt;Saya sarankan kepada penulis untuk dia membaca kitab "Limaadza Ikhtartu Al-Manhaj As-Salafy ?" karya Syaikh Salim bin 'Ied Al Hilaly agar dia Â–Fauzan- tidak asal berbicara tentang Salafiyah tanpa ilmu. Allah Subhanahu wa TaÂ’ala berfirman :&lt;br /&gt;[وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا]&lt;br /&gt;Artinya : "Dan jangan kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya" [QS. Al-Israa 36]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syubhat/tuduhan&lt;br /&gt;Fauzan berkata : Bagaimana aqidah dan manhaj mereka (salafiyyun) menurut Al-Qur'an dan sunnah ala fahmi salafush sholeh ?&lt;br /&gt;Bantahan&lt;br /&gt;Siapakah Salafush Sholeh menurutmu ? apakah Dzul Khuwaisiroh atau Abdurrohman bin Muljam? ataukah Washil bin 'Atho? ataukah Abdullah bin Saba' atau Sayid Qutub ? Jika anda ingin tahu aqidah kita dan manhaj salaf cobalah anda buka "Ushulus Sunnah" karya Imam Ahmad yang telah kami terjemahkan dan kami muat dalam Adz-Dzakhiroh edisi 13 lalu, atau coba baca "Syarhus Sunnah" oleh Imam Al-Barbahari yang salafiyun belajar aqidah dan manhaj darinya dan dari kitab aqidah ulama salaf. Mungkin anda tidak pernah mengetahui buku2 tersebut dan kami rasa tidak akan mungkin anda mau membacanya dengan baik karena kitab-kitab ulama salaf tersebut sangat amat menyelisihi anda dan yang semisal dengan anda (atau mungkin anda tidak bisa membaca ???).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syubhat/tuduhan&lt;br /&gt;Fauzan berkata : Pertama, Salafiyun Ta'ashub dan taqlid buta. Bila diperhatikan, sebenarnya sikap ini bukanlah sebuah kebetulan belaka. Sikap ini lahir dari sikap hizbiyyah mereka, yang mereka terima dari para syuyukh mereka sendiriÂ…&lt;br /&gt;Bantahan&lt;br /&gt;Seperti kita katakan bahwa salafiyyun hanya menyeru kepada metode para salaf (sahabat, tabi'un dan tabi'ut tabi'in) dalam segala bidang. Salafiyah bukan seperti "Ikhwanul Muslimin" yang menyeru kepada manhaj 'gado-gadonya' Hasan Al-Banna yang extrim dalam kesufiannya atau seperti "Jama'ah Tabligh" yang menyeru kepada manhaj pendirinya Muhammad Ilyas yang juga tenggelam dalam empat toriqot sufiyah&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn3" href="http://www.geocities.com/abu_amman/tuduhanMMI.htm?200418#_ftn3" name="_ftnref3"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;[3]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt; atau kelompok-kelompok lain yang hanya menyeru kepada perorangan atau pembesar mereka. Tidak ada yang lebih membuktikan akan jauhnya Salafiyah dari ta'ashub dan taqlid buta melainkan seruan mereka di mesjid-mesjid, halaqoh-halaqoh, majalah-majalah dll untuk kembali kepada manhaj salaf bukan kepada perorangan seperti yang dituduhkan. Coba anda lihat Muqodimah kitab "Sifat Sholat Nabi" oleh Syaikh al-Muhaddits Muhammad Nashiruddin Al-Albani Rahimahullahu yang sangat jauh dari seruan kepada ta'ashub atau "Iiqoozhul himmah littiba'i nabiyyil ummah" oleh Kholid bin Abdillah An-Najmy yang kami ajarkan dimasjlis ta'lim kami.&lt;br /&gt;Dakwah Salafiyah menyeru andam muslimin agar tidak menuntut ilmu melainkan dari ahli sunnah yang selalu menyeru kepada aqidah tauhid dan sunnah serta membasmi syirik, khurofat dan bid'ah. Dakwah Salafiyah melarang andam muslimin untuk menimba ilmu dari ahli bid'ah yang menyeru kepada bid'ah dengan segala bentuknya. Dan perkara ini diambil oleh Dakwah Salafiyah dari para salaf mereka seperti Ibnu Sirin Rahimahullahu yang mengatakan : "Ilmu ini adalah agama itu sendiri maka lihatlah darimana kamu mengambil ilmu tersebut" dan dari ucapan beliau juga : "Dahulu para salaf (sahabat) tidak pernah bertanya tentang isnad tapi ketika terjadi fitnah mereka bertanya : siapa guru-gurumu ? jika guru tersebut dari ahli sunnah maka diambil haditsnya tapi jika dari ahli bid'ah maka ditolak haditsnya" [Muqqoddimah Shohih Muslim dalam bab Annal Isnad Minad Diin].&lt;br /&gt;Ketahuilah Salafiyah bukan seperti kelompok-kelompok hizbiyah yang menerima semua golongan baik syi'ah maupun mu'tazilah. Mereka (orang-orang harokah) bak tong sampah yang menerima semua kotoran. Imam Al-Auza'i, pernah diceritakan kepada beliau bahwa ada seseorang yang mengatakan : 'aku terkadang duduk (menimba ilmu -pent) dari ahli sunnah dan terkadang aku duduk (menimba ilmu -pent) dari ahli bid'ah'. Maka Imam Al-Auza'i mengatakan : 'orang itu ingin menyamakan kebenaran dengan kebatilan'.&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn4" href="http://www.geocities.com/abu_amman/tuduhanMMI.htm?200418#_ftn4" name="_ftnref4"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;[4]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syubhat/tuduhan&lt;br /&gt;Ucapan penulis (Fauzan Al-Anshori) yang mengatakan : 'adalah Syaikh Ali Hasan Al Halabi Al Atsari -seorang syaikh panutan mereka yang mengakui dirinya Syaikh salafiyyin ketiga setelah syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani dan syaikh Muhammad Ibrohim Syuqroh- yang mengatakan ijma' tentang kedudukan tiga syuyukh salafiyyun ini dengan mengatakan : "Para ulama kami yang agung itu, mereka itulah bintang-bintang pemberi petunjuk dan meteor yang tinggi, barangsiapa berpegang teguh dengan mentaati mereka, mereka itulah yang selamat dan barangsiapa memusuhi mereka, maka dialah orang yang tersesat" (At Tahdziru Min Fitnatit Takfir hal.39)&lt;br /&gt;Bantahan&lt;br /&gt;Darimana anda mendapatkan pengakuan Syaikh Ali bahwa beliau mengklaim sebagai syaikh ketiga ? Coba buktikan kepada kami bila anda benar-benar bukan pendusta ulung? [قُلْ هَاتُوا بُرْهَانَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ] Artinya : "Katakanlah : tunjukkan bukti kebenaranmu jika kamu adalah orang yang benar" [QS Al-Baqarah 111].&lt;br /&gt;Disini timbul beberapa pertanyaan setelah kami baca langsung ucapan Syaikh Ali dalam bukunya "At-Tahdziru Min Fitnatit Takfir". Pertanyaan-pertanyaan itu adalah :&lt;br /&gt;1.      Apakah Fauzan Al-Anshori punya/pernah melihat kitab tersebut ?&lt;br /&gt;2.      Apakah Fauzan Al-Anshori paham bahasa arab ?&lt;br /&gt;3.      Apakah Fauzan Al-Anshori bisa baca kitab arab gundul ?&lt;br /&gt;4.      Apakah Fauzan Al-Anshori pernah membaca kitab tersebut ?&lt;br /&gt;5.      Apakah Fauzan Al-Anshori hanya membeo para pendahulunya dalam masalah ini ?&lt;br /&gt;6.      Apakah Fauzan Al-Anshori sengaja berdusta ????????&lt;br /&gt;Mengapa timbul pertanyaan-pertanyaan seperti diatas ? Karena apa yang dia pahami dari nukilan tersebut tidak sama dengan apa yang ditulis oleh Syaikh Ali dalam bukunya. Syaikh Ali memaksudkan tiga syuyukh (para ulama kami) adalah Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani, Syaikh Bin Baz dan Syaikh Muhammad bin Sholeh Al-Utsaimin rahimahumullahu. Tapi Fauzan Al-Anshori mengatakan yang berlainan dengan fakta, dia memahami tiga syuyukh itu adalah Al-Albani, Muhammad Ibrohim Syuqroh dan Syaikh Ali sendiri.&lt;br /&gt;Syaikh Ali dalam buku tersebut mengatakan (sebelum nukilan yang dibawakan penulis diatas) : "Wahai pembaca, buku ini adalah kumpulan ucapan tiga ulama pada zaman ini, mereka adalah Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani, Syaikh Abdul Aziz Bin Baz dan Syaikh Muhammad bin Sholeh Al-Utsaimin rahimahumullah". Wahai Fauzan Al-Anshori kalau anda memang membaca buku tersebut, bacalah dengan mata terbuka dan ditempat bercahaya, serta jangan anda membaca di dalam mimpi atau di gua di dalam hutan belantara di saat malam yang gelap gulita!!!!!&lt;br /&gt;Adapun ucapan Syaikh Ali : "Para ulama kami Â….." maka telah beliau jelaskan langsung maksud dan beliau sebutkan atsar dari para salaf yang serupa dengan ucapan beliau tersebut. Tapi sayang mengapa penulis (Fauzan Al-Anshori) tidak menukilnya ? Fauzan Al-Anshori memotong-motong ucapan/nukilan hingga bisa menipu dan mengelabui orang-orang awam, seperti yang Fauzan Al-Anshori lakukan pada saat menukil ucapan Syaikh Muhammad Ibrahim Syuqroh yang akan kami jelaskan nanti -InsyaAllah-. Dan ini diantara metode ahli bid'ah sepanjang zaman untuk membuat talbis/syubhat ditengah umat. Metode seperti ini bak orang yang membaca Al-Qur'an : [فَوَيْلٌ لِلْمُصَلِّينَ] "Celakalah orang-orang yang shalat" [QS Al-Maa'un 4], kemudian dia berhenti disini dan tidak meneruskan ayat selanjutnya. Atau dia memotong ayat [يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لَا تَقْرَبُوا الصَّلَاةَ] "wahai orang-orang yang beriman janganlah anda mendekati/melaksanakan shalat" [QS AN-Nisa' 43]. -Na'uudzu billahi minadh dholaalati wal jahaalati-.&lt;br /&gt;Syaikh Ali bin Hasan -hafidzallahu- setelah mengatakan hal diatas beliau berkata : Sesungguhnya aku yakin bahwa sebagian anak yang masih ingusan dan pendek akalnya -tapi sudah berani berfatwa - akan berteriak kencang memperingatkan teman dan pengikutnya sambil mengatakan : 'ini adalah taqlid (buta) ! Kita menolak taqlid !!'. Mereka mengatakan seperti ini agar hanya merekalah yang berhak untuk di taqlid !! Perkataan merekalah yang berhak didengar dan diterima!! Alangkah sesuainya mereka dengan apa yang dikatakan seorang penyair :&lt;br /&gt;إذا ما خلا الجبان بأرض طلب الطعن وحده و النزالا و&lt;br /&gt;Apabila bumi hanya dihuni seorang pengecut&lt;br /&gt;Maka dia akan menantang untuk berperang sendirian.&lt;br /&gt;Saya Â–Syaikh Ali- katakan kepada orang ini dan yang semisalnya, anda dan pendukung-pendukung anda belum tahu cara menangkal taqlid, hukum taqlid atau taqlid yang tercela kecuali dari jalan mereka (para ulama). Apakah anda kira mereka (para ulama) itu -dengan kealiman dan besarnya keyakinan mereka- mereka menyelisihi prinsip yang telah mereka pegang dan yang mereka jelaskan ?&lt;br /&gt;Disana terdapat perbedaan yang sangat jauh antara permasalahan-permasalahan yang terperinci yang terkadang tersembunyi kebenaran didalamnya dari seorang alim baik secara nash, fiqh/pemahamannya, bahasanya lalu alim tersebut salah dan ditaqlid (oleh manusia) dengan permasalahan besar yang tidak boleh bagi seorangpun untuk berkecimpung (berfatwa) kecuali ulama-ulama besar seperti masalah kekafiran dan pengkafiran, perdamaian dan peperangan serta yang mencakup masalah umat dan pembantaian, pengusiran, pembunuhan, penafkahan harta, kegoncangan dalam umat, fitnah dan lain-lain.&lt;br /&gt;Barangsiapa yang belum tahu perbedaan kedua hal ini maka dia tidak pantas untuk dia mendebat ulama atau menduduki singgasana ulama ataupun mencela ulama.&lt;br /&gt;Diantara atsar para ulama salaf yang menguatkan ucapan saya diatas adalah apa yang diriwayatkan oleh Al-Khotib Al-Baghdady dalam "Tarikh" nya 3/268 bahwasanya Abdullah bin Mubarok Rahimahullahu ditanya tentang ittiba' (siapa yang berhak diikuti -pent) beliau menjawab : 'yang berhak diikuti adalah Husein bin Waaqid dan Abu Hamzah As-Sukkari'.&lt;br /&gt;Didalam Sunan Tirmidzi 6/335 : 'bahwasanya Abdullah bin Mubarok pernah ditanya tentang hadits (Tangan Allah diatas jama'ahÂ….) Siapakah jama'ah itu ? Beliau menjawab : Abu Bakar dan Umar. Beliau ditanya lagi : Abu Bakar dan Umar telah meninggal ? Beliau menjawab : Fulan dan fulan. Beliau ditanya lagi : Mereka telah meninggal. Abdullah bin Mubarok mengatakan : Abu Hamzah As-Sukkari adalah jama'ah'.&lt;br /&gt;Saya Â–Syaikh Ali- katakan : Hidupnya para ulama adalah kehidupan dan kelanggengan bagi umat ini. Mendekatnya umat kepada para ulama adalah sebab bagi bangkitnya umat ini, bahkan dahulu pernah dikatakan hidupnya ulama adalah hidupnya/bangkitanya alam semesta.&lt;br /&gt;Adapun mencaci, mencela dan menuduh para ulama yang mengakibatkan (jauhnya umat dari ulama -pent) dan mendekatkan umat kepada anak-anak yang masih ingusan yang hanya ingin popularitas maka ini adalah (kabar duka) yang dijelaskan oleh Nabi Shallallahu 'alahi wa Sallam : "Sesungguhnya diantara tanda-tanda kiamat adalah diambilnya ilmu (agama) dari anak-anak ingusan/bodoh" [HR Al-Lalikai dalam 'Syarhu Ushul I'tiqod Ahli Sunnah' 102].&lt;br /&gt;Hukum yang disepakati oleh ketiga imam dan ulama/fuqoho tersebut, tidak terlalu jauh dari kebenaran jika ada yang mengatakan hal tersebut sebagai ijma' dan bahwasanya hal tersebut adalah benar serta merupakan petunjuk karena mereka adalah imam-imam/ulama pada zaman iniÂ…Â” ["At-Tahdziru Min Fitnati Takfir" hal 42-45].&lt;br /&gt;Wahai Fauzan Apakah ucapan Abdullah bin Mubarok Rahimahullahu diatas bisa anda katakan sebagai seruan kepada taqlid ? apakah anda pernah membaca ayat dalam surat An-Nisa' 59 : [يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ] Artinya : "Hai orang-orang yang beriman, ta`atilah Allah dan ta`atilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu.."?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syubhat/tuduhan&lt;br /&gt;Ucapan penulis (Fauzan Al-Anshori) yang mengatakan : 'pernyataan bahwa siapa yang bergabung dengan Syaikh fulan dan membelanya baik benar maupun salah berarti kelompok yang benar Â…&lt;br /&gt;Bantahan&lt;br /&gt;Salafiyah tidak pernah menyeru untuk membela ulama jika salah tapi Salafiyah menghormati ulama -yang betul-betul ulama- yang menyeru kepada aqidah dan sunnah shohihah serta melarang dari syirik dan bid'ah. Coba anda tunjukkan kepada kami bahwa Salafiyah membela ulama jika salah ???&lt;br /&gt;Salafiyah bukan seperti da'i-da'i harokah/pergerakan yang selalu mencela ulama. Mereka, da'i-da'i pergerakan tidak mau merujuk kepada ulama meskipun dalam masalah besar yang menyangkut umat manusia. Mereka seenaknya berfatwa tanpa bercermin terlebih dahulu. Padahal Allah Subhanahu wa TaÂ’ala berfirman : [فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ] Artinya : "Bertanyalah kepada ulama jika kalian tidak mengetahui" [QS Al-Anbiya' 7]. Dan Allah Subhanahu wa TaÂ’ala juga berfirman : "Dan apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan ataupun ketakutan, mereka lalu menyiarkannya. Dan kalau mereka menyerahkannya kepada Rasul dan Ulil Amri (ulama) diantara mereka tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat mengetahuinya dari mereka (Rasul dan ulama)" [QS An-Nisa 83].&lt;br /&gt;Sungguh sangat menyedihkan keadaan umat sekarang, mereka yang masih ingusan sudah berani berfatwa dan mencela ulama. Sebagian dari mereka yang berfatwa terkadang belum bisa membaca kitab-kitab ulama yang berbahasa arab, tapi hanya menukil buku-buku terjemahan. Maka pantas kalau dikatakan :&lt;br /&gt;لمثل هذا يذوب القلب من كمد إن كان في القلب إسلام و إيمان&lt;br /&gt;Karena hal seperti inilah hati meleleh dengan kesedihan&lt;br /&gt;Jika didalam hati ini masih terdapat keislaman dan keimanan&lt;br /&gt;Imam Malik Rahimahullahu pernah mengatakan : "Tidaklah aku berfatwa hingga ada 70 ahli ilmu menyaksikan bahwa aku telah layak untuk berfatwa" [Sifatul Fatwa wal Mustafti (7) oleh Ibnu Hamdan].&lt;br /&gt;Coba anda renungkan ucapan-ucapan masyayikh dakwah Salafiyah tentang taqlid, apakah sama dengan apa yang anda tuduhkan ?&lt;br /&gt;1.      Syaikh Muqbil bin Hadi Rahimahullahu pernah ditanya tentang taqlid, lalu beliau menjawab : 'Taqlid itu haram, tidak boleh bagi seorang muslim untuk taqlid dalam agama. Allah Ta'ala berfirman : "Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu dan janganlah kamu mengikuti pemimpin-pemimpin selain-Nya" [QS Al-A'raf 3]. 'Beliau mengatakan : 'Aku bukanlah hujjah, maka wajib bagimu untuk meminta kepadaku dalil sebab hujjah itu ada pada Al-Qur'an dan sunnah Rasulullah Shallallahu 'alahi wa SallamÂ….' ["Tuhfatul Mujiib 'ala As-Ilatil haadhir wal Ghoriib" oleh Syaikh Muqbil bin Hadi 205-206].&lt;br /&gt;2.      Syaikh Salim bin 'Ied Al-Hilaaly -حفظه الله - mengatakan : 'Sesungguhnya metode Islam dalam menuntut ilmu baik dalam masalah pokok maupun furu'/cabang hanya satu yaitu menyeru manusia untuk mengikuti dalil. Tidak boleh taqlid kecuali dalam keadaan terpaksa yaitu ketika tidak mampu mengenal dalil dan menelusurinya, baik dalam masalah aqidah atau hukum. Barangsiapa yang mampu berijtihad dalam masalah Fiqih -misalnya- tidak boleh baginya untuk taqlidÂ…' ["Al-Moqoolaat As-Salafiyah" oleh Syaikh Salim Al-Hilaaly hal 31].&lt;br /&gt;3.      Syaikh Muhammad bin Hadi Al-Madkholi -حفظه الله - mengatakan : 'Taqlid dalam Islam adalah mengikuti suatu ucapan yang tidak ada dalilnya. Dan ini dilarang dalam agama. Adapun ittiba' adalah (mengikuti suatu ucapan/perbuatan -pent) yang ada dalilnya. Taqlid dalam agama Allah tidaklah dibenarkan sedangkan ittiba' dalam agama diperbolehkan dan taqlid itu dilarang Â…Â….' ["Al-Iqna' bimaa ja-a 'an Aimmatid dakwah Minal Aqwal Fil Ittiba' " oleh Syaikh Muhammad bin Hadi Al-Madkholi hal 105].&lt;br /&gt;4.      Syaikh Ali bin Hasan Al-Halaby - حفظه الله - mengatakan : 'Taqlid adalah mengambil perkataan orang lain tanpa dalil dan ini adalah batil menurut para imam empat. Abu Hanifah mengatakan : 'Tidak boleh bagi seseorang untuk mengambil perkataan kami selama dia tidak tahu darimana kami mengambilnyaÂ….'. Syaikh Ali mengomentari Abul Hasan Al-Karkhi -yang menyeru kepada ta'ashub- yang dia mengatakan : 'setiap ayat yang menyelisihi madzhab kami maka dia harus ditakwil atau dikatakan mansukh/terhapus, demikian juga dengan hadits'. Beliau (Syaikh Ali) mengatakan : 'ini adalah ucapan batil dan sangat batil'. ["At-Tashfiyah wat tarbiyah" oleh Syaikh Ali bin Hasan hal 50-52].&lt;br /&gt;Inilah dakwah Salafiyah. Inilah seruan da'i-da'i Salafiyah. Baca dan renungkanlah jika anda masih belum buta !!!!&lt;br /&gt;الحق شمس و العيون نواظر لكنها تخفى على العميان&lt;br /&gt;Kebenaran itu bak mentari dan mata-mata ini memandangnya&lt;br /&gt;Akan tetapi matahari itu tersembunyi bagi si buta&lt;br /&gt;Allah Subhanahu wa TaÂ’ala berfirman :&lt;br /&gt;[فَإِنَّهَا لَا تَعْمَى الْأَبْصَارُ وَلَكِنْ تَعْمَى الْقُلُوبُ الَّتِي فِي الصُّدُورِ]&lt;br /&gt;Artinya : "Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah hati yang didalam dada" [QS Al-Hajj 46]. Jika anda ingin tahu siapa penyeru ta'ashub, silahkan lihat ucapan Hasan Al-Banna pendiri Ikhwanul Muslimin : 'Sesungguhnya yang aku maksud dengan pemahaman disini adalah anda menyakini bahwa pemikiran-pemikiran kita adalah Islam yang benar dan anda harus memahami Islam ini sesuai dengan apa yang kami pahamiÂ…' ["Majmu'atu Rasaail Al-Imam Asy-Syahiid" hal 363]. Sa'id hawa mengatakan : 'Tidak ada dihadapan andam muslimin kecuali pemikiran ustadz Al-Banna jika mereka ingin jalan yang benar' ["Fil Aafaaqit Ta'aaliim" hal 5].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syubhat/tuduhan&lt;br /&gt;Fauzan menuduh salafiyun sebagai berikut : Ciri salafiyun kedua, Â“Sekulerisme. Maka inilah yang terjadi bagaimana sebuah kelompok yang menamakan dirinya salafiyyun, pengikut salafush sholeh, namun menganut paham sekulerismeÂ…Â”&lt;br /&gt;Bantahan&lt;br /&gt;Lagi-lagi Fauzan Al-Anshori berdusta kepada dakwah Salafiyah, takutlah anda wahai Fauzan Al-Anshori dari sabda Nabi Shallallahu 'alahi wa Sallam : "Bukankah manusia itu ditelungkupkan wajah-wajah mereka didalam neraka dengan sebab ucapan lisan-lisan mereka" [HSR. Tirmidzi 2616]. Dan tidaklah anda khawatir untuk menjadi pemilik sifat-sifat orang-orang munafik : "Empat hal barangsiapa yang memilikinya maka dia adalah seorang munafik. Dan jika ada sebagiannya saja maka dia telah memiliki sebagian dari sifat kemunafikan hingga dia meninggalkannya : apabila berbicara dia berdusta, apabila berjanji dia mengingkari, apabila berselisih dia curang dan apabila bersepakat dia mengkhianati" [Muttafaqun 'alaihi].&lt;br /&gt;Inilah ucapan-ucapan masyayikh dakwah Salafiyah tentang berhukum hanya kepada Allah :&lt;br /&gt;1.      Syaikh Kholid bin Ali bin Muhammad Al-Anbari - حفظه الله - mengatakan : "Diantara perkara yang tidak diperselisihkan lagi, adalah bahwa Allah satu-satunya yang berhak menghukumi diantara manusia. Tidak ada seorangpun yang berhak menyamai hukum-Nya meski tinggi kedudukan dan sempurna akalnya. Dialah sebaik-baik yang membuat hukum, hukum-Nya adalah benar dan adil secara mutlak. Adapun selain hukum Allah dari undang-undang buatan serta hukum-hukum jahiliyah maka hal itu adalah kedzoliman, kesesatan yang jauhÂ…" [Muqoddimah (cetakan ke 5) kitab "Al-Hukmu bighoiri maa anzalallhu" oleh Syaikh Kholid hal 17].&lt;br /&gt;2.      Syaikh Ali bin Hasan, Salim bin 'Ied Al-Hilaali, Masyhur bin Hasan Alu Salman, Husein Al-'Awaayisyah, dan Muhammad bin Musa Alu Nash - حفظهم الله - mereka semua mengatakan dalam "Mujmal Masaailul ImanÂ” hal 23 dalam bab berhukum dengan hukum Allah :&lt;br /&gt;a. Berhukum dengan hukum Allah adalah suatu kewajiban (yang fardhu 'ain) bagi setiap muslim baik perorangan maupun kelompok, baik pemimpin ataupun rakyat. Semuanya adalah pemimpin dan semua akan diminta pertanggungan jawab atas yang dipimpinnya.&lt;br /&gt;b. Berhukum dengan hukum Allah mencakup segala bidang (kehidupan) umat manusia semuanya baik dalam bidang aqidah, dakwah, tarbiyah, akhlak, ekonomi, politik, sosiologi, kebudayaan dll.&lt;br /&gt;c. Meninggalkan berhukum dengan hukum Allah termasuk sebab segala bencana, perpecahan, kehinaan dan kenistaan yang telah meliputi umat ini baik perorangan maupun golongan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun apa yang anda nukilkan wahai Fauzan Al-Anshori -semoga Allah memberimu petunjuk dan membalasmu jika anda memang sengaja berdusta- dari ucapan Syaikh Muhammad Ibrohim Syuqroh&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn5" href="http://www.geocities.com/abu_amman/tuduhanMMI.htm?200418#_ftn5" name="_ftnref5"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;[5]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt; maka sekali lagi kami ingin bertanya kepadamu :&lt;br /&gt;1.      Apakah anda wahai Fauzan menukil langsung ucapan ini dari kitab aslinya atau anda hanya mencomotnya dari leluhurmu ?&lt;br /&gt;2.      Apakah anda paham bahasa arab ?&lt;br /&gt;3.      Apakah anda paham ucapan Muhammad Ibrohim Syuqroh ?&lt;br /&gt;4.      Apakah anda punya buku "Hiyas Salafiyah Nisbatan wa Aqidatan.." ?&lt;br /&gt;5.      Apakah anda memang sengaja mengambil yang sesuai hawa nafsumu atau yang dibisikkan oleh syaitan-syaitanmu dan meninggalkan apa yang tidak sesuai dengan seleramu ? "Apakah kamu beriman kepada sebagian kitab dan ingkar terhadap sebagian yang lain" [QS Al-Baqoroh 85].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang metodemu seperti yang telah kita katakan, bak orang yang membaca [فَوَيْلٌ لِلْمُصَلِّينَ] "Celakalah orang-orang yang shalat" [QS Al-Maa'un 4], atau memotong ayat [يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لَا تَقْرَبُوا الصَّلَاةَ] "wahai orang-orang yang beriman janganlah anda mendekati/melaksanakan shalat" [QS AN-Nisa' 43], kemudian dia berhenti tidak menyambungnya. -Na'udzu billahi minadh dholaalati wal jahaalati-.&lt;br /&gt;Tidakkah anda baca dalam kitab "Hiyas Salafiyah Nisbatan wa Aqidatan" hal 167 yang jelas-jelas beliau menolak sekularisme : "Dan kita tidak mengatakan : berikan hak kaisar kepada kaisar dan hak Tuhan kepada Tuhan". Bahkan pada hal 164 beliau mengatakan : "Sesungguhnya politik yang tidak berdasarkan kepada aqidah dan hukum-hukum syariat akan mendorong kelompok-kelompok sesat menentang Islam secara keseluruhanÂ…." Dan beliau juga mengatakan pada hal 173 : "Politik islam adalah bagian dari aturan-aturan Islam yang umum, tidak boleh untuk melalaikan dan meniadakannya dari aturan Islam. Ketika Islam telah memiliki daulah yang melindungi politik Islam dan para politikusnya maka politik tersebut akan menjadi suatu amal yang disunnahkan bagi umat Islam karena dua hal :&lt;br /&gt;a. Politik membutuhkan spesialis dan para pakar.&lt;br /&gt;b. Politik termasuk bagian dari kepemimpinan."&lt;br /&gt;Adapun maksud ucapan Syaikh Muhammad Ibrohim Syuqroh yang anda nukil maka tidaklah seperti apa yang anda pahami. Beliau hanya menggambarkan keadaan politik sekarang yang tidak ada lagi amar ma'ruf dan nahi anil mungkar, yang telah bercampur aduk antara kebenaran dan kebatilan. Beliau memberikan contoh orang yang terjun kedalam kancah politik : "Misalnya seseorang yang berkecimpung dalam kancah politik dia melaksanakan shalat sedangkan temannya tidak shalat maka tidak dibenarkan orang yang shalat tersebut mencela temannya yang tidak shalatÂ…...." .Kemudian beliau mengatakan : "Apakah politik seperti ini bisa dibenarkan/diterima ?! Saya kira bahwa slogan 'berikan hak kaisar kepada kaisar dan hak Tuhan kepada Tuhan' adalah sebuah kalimat hikmah/bijaksana yang sesuai dengan (fakta) zaman ini" ["Hiyas Salafiyah Nisbatan wa Aqidatan" hal 172]. Beliau dengan ucapannya ini bukan menyetujui/mendukung ucapan sekuler diatas tapi hanya menjelaskan alangkah sesuainya politik sekarang dengan ucapan sekuler diatas. Maka baca dan pahamilah dengan benar wahai Fauzan Al-Anshori !!! Kalau anda tidak punya kitabnya, kemarilah akan kami tunjukkan kesalahpahamanmu ini !!!&lt;br /&gt;و كم من عائب قولا صحيحا و آفته من الفهم السقيم&lt;br /&gt;Berapa banyak orang yang mencela ucapan yang benar ????&lt;br /&gt;Sebabnya karena pemahaman yang salah/buruk&lt;br /&gt;Dakwah Salafiyah memang tidak mau terjun ke kancah politik sekarang yang penuh dengan kekotoran, kemunafikan dan kekufuran. Bahkan dakwah Salafiyah menyakini diantara politik (sekarang) adalah meninggalkan politik. Dakwah Salafiyah hanya ingin politik Islam yang murni, bukan seperti mereka yang dahulunya mengatakan 'tidak ada hukum selain hukum Allah' dan 'barangsiapa yang tidak berhukum dengan hukum Allah maka dia kafir' tapi ketika mereka sudah masuk ke kancah politik atau parlemen dia lupa dengan ucapannya tadi, dia disumpah dengan selain hukum Allah, dia ridho Islam jadi barang dagangan yang bisa ditawar di pasar parlemen, diapun tidak sadar telah berhukum dengan selain hukum Allah, bercampur baur/ikhtilat dengan lawan jenis dan lain-lain dari kemungkaran. [مَا لَكُمْ كَيْفَ تَحْكُمُونَ] Artinya : "Mengapa kamu (berbuat demikian) bagaimanakah kamu mengambil keputusan?" [QS Al-Qolam 36].&lt;br /&gt;Apakah ini cara mendirikan khilafah Islamiyah ??? Apakah mereka ingin menghalalkan segala cara untuk tujuan yang mulia ??? Jika iya, (dan inilah fakta yang ada), maka alangkah serupanya mereka dengan apa yang dilakukan oleh orang-orang yahudi yang mendirikan kaidah "Al-Ghoyah tubarrirul wasilah" (tujuan itu menghalalkan segala cara), seperti yang dijelaskan dalam firman-Nya : [وَقَالَتْ طَائِفَةٌ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ ءَامِنُوا بِالَّذِي أُنْزِلَ عَلَى الَّذِينَ ءَامَنُوا وَجْهَ النَّهَارِ وَاكْفُرُوا ءَاخِرَهُ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ] Artinya : "Berimanlah (perlihatkan keimanan) dengan apa yang diturunkan kepada orang-orang yang beriman pada permulaan siang dan ingkarilah ia apada akhirnya supaya orang-orang beriman kembali kepada kekafiran" [QS Ali Imron 72].&lt;br /&gt;Dakwah Salafiyah bukan mengingkari tujuan kalian yang mulia untuk mendirikan khilafah islamiyah, tapi dakwah Salafiyah mengingkari cara/metode kalian yang salah. Kita (dakwah Salafiyah) mengingkari dzikir berjamaah, bukan berarti kita melarang dzikir, tapi kita mengingkari caranya yang tidak sesuai dengan sunnah Rasulullah Shallallahu 'alahi wa Sallam. Rasulullah Shallallahu 'alahi wa Sallam bersabda : [من عمل عملا ليس عليه أمرنا فهو رد] Artinya : "Barangsiapa yang melakukan suatu amal ibadah yang tidak sesuai dengan sunnahku maka amal tersebut tertolak" [HR Muslim]. Hadits ini bukan hanya berkaitan dengan ibadah ritual seperti shalat, puasa haji dll, tapi umum mencakup segala permasalahan agama semisal dakwah dan jihad.&lt;br /&gt;Dari Sa'id bin Musayyib Radhiyallahu anhu bahwasanya beliau melihat seseorang yang shalat setelah terbit fajar lebih dari 2 rakaat dan dia memperbanyak ruku' pada shalatnya tersebut, maka Sa'id bin Musayyib pun melarangnya. Lalu orang tersebut berkata : 'Wahai Aba Muhammad, apakah Allah akan mengadzabku karena shalatku ?' Sa'id bin Musayyib berkata : 'Tidak, tapi Allah mengadzabmu karena anda menyelisihi sunnah' [HR Baihaqi dan dishohihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam 'Irwa'ul Gholil' 2/236].&lt;br /&gt;Jika anda ingin tahu bagaimana politik yang diinginkan dakwah Salafiyah, baca "As-Siyasah Al-Lati Yuriiduhas Salafiyyun" oleh Syaikh Masyhur bin Hasan Alu Salman - حفظه الله -. Dan perlu diketahui bahwa Salafiyah tidaklah mencela mereka yang selalu mencaci maki, melaknat dan mendemo para penguasa, melainkan dalam rangka mengikuti jejak ulama salaf seperti Imam Al-Barbahari yang mengatakan dalam kitabnya "Syarhus Sunnah" hal 212 (beserta syarah/penjelasan dari Syaikh al-Allamah Ahmad Yahya An-Najmy hafizhahullahu) : "Jika anda melihat ada seseorang yang melaknat (mencaci-maki/mencela -pent) penguasa maka ketauhilah dia adalah pengekor hawa nafsu..". Kalau anda ingin tahu cara salafiyun dalam bermuamalah (amar ma'ruf dan nahi 'anil mungkar) kepada penguasa coba baca "Mu'amalatul Hukkam Fii Dho'ii Kitab was Sunnah" oleh Syaikh Abdussalam Barjas rahimahullahu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syubhat/tuduhan&lt;br /&gt;Fauzan menuduh : Â“Ketiga. Menihilkan jihad. Ta'thil (menihilkan) jihad, itulah salah satu (sifat gerakan) salafiyyunÂ…Â…..Â…Â”&lt;br /&gt;Bantahan&lt;br /&gt;Wahai Fauzan Al-Anshori dan yang serupa denganmu, semakin anda berceloteh semakin anda tambah dusta dan dosamu. Takutlah akan siksaan Allah dan dari sifat kemunafikan. Seorang muslim -Insya Allah- jika masih ada keimanan dalam dirinya maka semangat untuk berjihad meninggikan kalimat Allah tentulah masih berkobar dalam hatinya. Mungkin anda Fauzan Al-Anshori tidak tahu ucapan para ulama dan masyayikh dakwah Salafiyah tentang jihad, oleh karenanya simak ucapan mereka ini :&lt;br /&gt;1.      Samaahatusy Syaikh Bin Baz Rahimahullahu berkata : "Sesungguhnya jihad fii sabiilillah termasuk semulia-mulianya ibadah dan seagung-agungnya ketaatan. Jihad adalah suatu hal yang layak untuk anda muslimin berlomba-lomba didalamnya. Semua itu, karena dampak positif yang ditimbulkannya yaitu dapat menolong andam mukminin, meninggikan kalimat Allah, membasmi orang-orang kafir dan munafik, membuka jalan bagi dakwah islamiyah diseantero dunia, mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju cahaya, menebarkan kebaikan-kebaikan islam dan hukum-hukumnya yang adil diantara makhluk dan lain-lain dari kebaikan yang banyak sekali bagi andam muslimin" [Majmu Fatawa wa Moqoolaat Mutanawi'ah 18/61-62].&lt;br /&gt;2.      Syaikh Sholeh bin Fauzan bin Abdillah Al-Fauzan - حفظه الله - berkata : "Sesungguhnya jihad di jalan Allah termasuk kewajiban yang mulia, dia adalah penegak agama seperti yang disabdakan Nabi Shallallahu 'alahi wa Sallam Â…." [Al-Jihad An waa'uhu wa ahkaamuhu oleh Syaikh Fauzan hal 1].&lt;br /&gt;3.      Syaikh Abdurrozzaq bin Abdul Muhsin Al-Badr - حفظهما الله - berkata : "Sesungguhnya jihad dijalan Allah termasuk seutama-utama yang diperintah dalam syariat dan semulia-mulia ibadah. Para ulama terdahulu dan sekarang sangat memperhatikan satu hal ini, bahkan sebagian mereka ada yang menyendirikan masalah ini dalam karangan-karangan mereka yang lebih dari 30 kitab diantaranya "Al-Jihad" oleh Abdullah bin Mubarok, "Al-Jihad" oleh Ibnu Abi 'Ashim, "Al-Jihad" oleh Ibnu 'AsaakirÂ…Â….." [Al-Quthuf Al-Jiyaad min Hikami wa ahkaamil jihad oleh Syaikh Abdurrozzaq hal 3].&lt;br /&gt;4.      Syaikh Muhammad Musa Alu Nash - حفظه الله - berkata : "Jihad adalah tulang punggung islam yang tidak diperselisihkan lagi oleh andam muslimin. Ayat-ayat Al-Qur'an dan hadits-hadits Nabi  yang menyeru kepada jihad sangatlah banyak sekali. Akan tetapi jihad memiliki kaidah-kaidah, syarat-syarat dan caranya. Salafiyyun tidak mau berperang dibawah bendera fanatik jahiliyah, Karena jihad tidaklah disyariatkan melainkan untuk menegakkan syariat Allah. [حَتَّى لَا تَكُونَ فِتْنَةٌ وَيَكُونَ الدِّينُ كُلُّهُ لِلَّهِ]. 'Hingga tidak ada lagi fitnah dan agama ini semuanya untuk Allah' [QS Al-Anfal 39]. Harus ada imam dalam berjihad, harus ada bendera islam, pendidikan tentang jihad, serta persiapan dan bekal. Jihadnya salafiyyun didasari oleh ilmu dan tujuan yang jelas. Ketika telah berkibar bendera jihad (yang syar'i) dan jelas tujuannya maka salafiyyun tidak pernah ketinggalan. Bumi Palestina, Cechnya, Afghanistan, Balkan, Kasmir sebagai saksi disisi Allah akan jihadnya salafiyyun" [Maadza Yanqumuuna Minas Salafiyah oleh Syaikh Muhammad Musa Alu Nashr hal 85].&lt;br /&gt;5.      Syaikh Muhammad bin Ibrohim Syuqroh berkata pada awal bab jihad : "Jihad merupakan benteng Allah yang kokoh, tali agama yang kuat, tulang punggung islam tertinggi dan penjaga bagi tauhid". Kemudian beliau mengatakan pada hal 192 : "Jihad adalah istilah islam yang murni. Apabila disebutkan (jihad) disebutkan pula kata sabar, pengorbanan, kesungguhan dan harapan untuk mendapat 1 dari 2 kebaikan, pertolongan atau mati syahid. Dan kedua hal tersebut merupakan jalan bagi kemuliaan didunia dan diakherat. Dan barangsiapa yang mati sedang dia tidak berjihad serta tidak ada bisikan jihad dalam hatinya maka jika dia mati, matinya dalam keadaan jahiliyah. 'Iyaadzan billahi".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah ini yang anda tuduhkan kepada kami (dakwah Salafiyah) ??? Apakah ucapan-ucapan diatas menihilkan jihad??? Kemanakah larinya akal dan hatimu wahai Fauzan Al-Anshori -semoga Allah membalas segala kedustaanmu didunia dan akherat nanti- ??? Cobalah anda buka penglihatanmu untuk membaca buku-buku dakwah Salafiyah hingga anda tidak buta terhadapnya dan mungkin Allah memberi hidayah kepadamu lewat buku-buku tersebut !!! Sekali lagi, baca dan pahami dengan baik !!!&lt;br /&gt;Adapun ucapan Syaikh Muhammad Ibrohim Syuqroh yang anda jadikan pegangan dalam menuduh bahwa dakwah Salafiyah menihilkan jihad maka sebenarnya beliau telah menjelaskan maksudnya yang Fauzan Al-Anshori tidak mau membacanya atau pura-pura bodoh atau Fauzan Al-Anshori sengaja memotong-motongnya seperti yang dilakukan sebelumnya. Tapi memang, "Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah hati yang didalam dada" [QS Al-Hajj 46].&lt;br /&gt;Syaikh Muhammad Ibrahim Syuqroh mengatakan dalam ["Hiyas Salafiyah Nisbatan wa Aqidatan" hal 202-203 : "Janganlah pembaca memahami bahwa aku menihilkan kewajiban jihad pada saat ini sedangkan umat dalam keadaan terpuruk dan terhina serta dilanda bencana yang membinasakan. Umat ini secara keseluruhan merasakan pahitnya keadaan yang memotong-motong usus, membakar wajah dan meleburkan hati !!&lt;br /&gt;Sesungguhnya kalau ada orang yang menihilkan kewajiban jihad selama-lamanya berarti dia telah menuangkan kepada dirinya sendiri siksaan yang pedih. Tapi disana ada perbedaan yang sangat jauh sekali, antara orang yang menihilkan jihad (selama-lamanya) dengan orang yang mengatakan wajibnya mempersiapkan (jihad) dengan persiapan yang benar, meskipun harus membutuhkan waktu yang panjang, karena jihad merupakan perwujudan dari firman Allah [وَأَعِدُّوا لَهُمْ مَا اسْتَطَعْتُمْ مِنْ قُوَّةٍ وَمِنْ رِبَاطِ الْخَيْلِ تُرْهِبُونَ بِهِ عَدُوَّ اللَّهِ وَعَدُوَّكُمْ وَءَاخَرِينَ مِنْ دُونِهِمْ لَا تَعْلَمُونَهُمُ اللَّهُ يَعْلَمُهُمْ] Artinya : "Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah, musuhmu dan orang-orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya sedang Allah mengetahuinya" [QS Al-Anfal 60]. Barangsiapa yang merenungi ayat diatas hampir-hampir dia akan mengatakan wajibnya menahan diri dari berjihad hingga memiliki persiapan yang matang -dan terkadang bentuk I'dad (menahan diri) itu dengan tidak ber i'dad-. Karena maksud dari i'dad itu sendiri adalah menggentarkan musuh Allah dan musuh andam muslimin. Jika i'dad tersebut belum bisa matang dan belum bisa menggentarkan hati-hati mereka serta tidak menggoncangkan singgasana serta kestabilan mereka maka ini bukanlah i'dad yang diperintahkan. Jika tidak demikian maka apalah artinya firman Allah [تُرْهِبُونَ] 'kamu menggentarkan musuh Allah'. Dan i'dad haruslah dengan hal-hal yang disyariatkan&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn6" href="http://www.geocities.com/abu_amman/tuduhanMMI.htm?200418#_ftn6" name="_ftnref6"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;[6]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt; yang dapat mewujudkan tujuan semulaÂ…". Dan pada halaman sebelumnya beliau juga mengatakan (hal 196-197) : "Allah  tidaklah memerintahkan umat ini berjihad untuk memberatkan mereka. Jihad termasuk perintah syariat yang juga tercakup dalam (kaidah) firman Allah Ta'ala : "Tidaklah Allah membebani seseorang melainkan yang dia sanggupi". Jika umat belum mampu untuk menegakkan jihad karena ketiadak adanya pemimpin (kholifah) yang mengibarkan bendera jihad serta menyeru dan memimpin pasukan, maka jihad termasuk kewajiban yang belum bisa dilaksanakan dan tidaklah berdosa umat ini jika belum bisa melaksanakannya kecuali kalau ada yang ridho (meninggalkan jihad selama-lamanya). Tidaklah yang diwajibkan melainkan menghadirkan niat dan berjihad jika telah datang saatnyaÂ…".&lt;br /&gt;Sedemikian jelasnya ucapan Syaikh Muhammad Ibrahim Syuqroh, tapi kalau hawa nafsu telah mendarah daging, mata dan telinga bisa tertutup dan terkunci. Dan yang dimaksud jihad oleh Syaikh Muhammad Ibrahim Syuqroh disini adalah jihad tholab/menyerang bukan difa'/membela diri -wallahu 'alam-. Orang yang masih punya akal tidak akan mungkin menyeru andam muslimin untuk berjihad (tholab) tanpa ada persiapan dan bekal yang cukup. Nabi  selama 13 tahun berdakwah di kota Mekah bersama para sahabatnya. Mereka selalu mendapat gangguan bahkan sebagian mereka terbunuh dijalan Allah. Tapi karena belum ada kemampuan dan persiapan yang cukup, Allah pun tidak mewajibkan mereka berjihad bahkan Allah memerintahkan mereka untuk berhijrah. Mungkin inilah yang mendasari fatwa Syaikh Al-Albani v yang menyeru penduduk muslim Palestina berhijrah. Bukan untuk menyerahkan Palestina kepada Yahudi -semoga Allah membinasakan mereka- secara percuma seperti yang Fauzan Al-Anshori anggap dan tuduhkan. Jika ini yang Fauzan Al-Anshori tuduhkan, beranikah anda Fauzan Al-Anshori menuduh Rasulullah  dan para sahabatnya telah menyerahkan bumi Mekkah (yang lebih mulia dari Palestina) ketangan kafir Quraisy secara percuma ? Apakah dengan Rasulullah  dan para sahabatnya berhijrah dari Mekah berarti mereka tidak berjihad ? Jihad bukan hanya modal semangat tapi harus juga pakai ilmu dan otak.&lt;br /&gt;Perlu anda - Fauzan Al-Anshori - ketahui bahwa hijrah seperti jihad tak akan pernah terputus sampai hari kiamat kelak sebagaimana sabda Nabi  : "Tidak akan terputus hijrah hingga terputusnya taubat dan tidak akan terputus taubat hingga terbit matahari dari barat" [HSR Abu Daud 2479]. Dan hijrah termasuk salah satu bentuk I'dad, seperti yang dilakukan oleh Nabi  di Medinah. Imam Nawawi Rahimahullahu mengatakan dalam "Roudhotut tholibin" 10/282 : "Seorang muslim apabila dia dalam keadaan lemah dinegri kafir, dia tidak dapat menampakkan agamanya maka diharamkan baginya tinggal disana dan wajib baginya untuk hijrah ke negri islamÂ…". Agar anda lebih jelas -wahai Fauzan Al-Anshori - dan tidak buta tentang masalah hijrah yang merupakan salah satu tahapan jihad, maka bacalah "Al-Fashl al-Mubiin fii Mas`alatil Hijroh wa Mufaaroqotil Musyrikiin" oleh Syaikh Husein Al-Awaayisyah - حفظه الله -. Tidakkah orang yang melarang penduduk muslim Palestina berhijrah membaca firman Allah Subhanahu wa TaÂ’ala : [إِنَّ الَّذِينَ تَوَفَّاهُمُ الْمَلَائِكَةُ ظَالِمِي أَنْفُسِهِمْ قَالُوا فِيمَ كُنْتُمْ قَالُوا كُنَّا مُسْتَضْعَفِينَ فِي الْأَرْضِ قَالُوا أَلَمْ تَكُنْ أَرْضُ اللَّهِ وَاسِعَةً فَتُهَاجِرُوا فِيهَا فَأُولَئِكَ مَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ وَسَاءَتْ مَصِيرًا(97)إِلَّا الْمُسْتَضْعَفِينَ مِنَ الرِّجَالِ وَالنِّسَاءِ وَالْوِلْدَانِ لَا يَسْتَطِيعُونَ حِيلَةً وَلَا يَهْتَدُونَ سَبِيلًا] Artinya : "Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan malaikat dalam keadaan menganiaya diri sendiri, (kepada mereka) malaikat bertanya: "Dalam keadaan bagaimana kamu ini?". Mereka menjawab: "Adalah kami orang-orang yang tertindas di negeri (Mekah)". Para malaikat berkata: "Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah di bumi itu?". Orang-orang itu tempatnya neraka Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali, kecuali mereka yang tertindas baik laki-laki atau wanita ataupun anak-anak yang tidak mampu berdaya upaya dan tidak mengetahui jalan (untuk hijrah)." [QS. An-Nisaa' : 97-98]. Imam Ibnu Katsir v menafsirkan ayat diatas dengan ucapan beliau : "Ayat ini turun kepada setiap orang yang tinggal ditengah-tengah orang-orang musyrik sedangkan dia (sebenarnya) sanggup untuk berhijrah dan dia tidak dapat menampakkan agamanya, maka dia telah mendzolimi dirinya sendiri dan dia telah melakukan suatu yang haram secara ijma' maupun menurut ayat ini" (Tafsir Al-Qur'anil 'Adzim 1/708).&lt;br /&gt;Apakah mereka yang mengharamkan penduduk muslim Palestina berhijrah tidak tahu bahwa andam muslimin disana semakin dicabik-cabik kehormatan diri mereka, keluarga, dan agama mereka ??? Berapa banyak wanita-wanita lemah dirampas kesucian mereka dan anak-anak kecil yan menjadi sasaran kebiadaban Yahudi - قاتلهم الله -, masihkah anda - Fauzan Al-Anshori - memerintahkan mereka terus menjadi korban ?? anda - Fauzan Al-Anshori - dengan enak menggembar-gemborkan jihad diantara istri-istri dan anak-anakmu, tapi merekaÂ…!! Bayangkan jika istri dan anak serta kedua orang tuamu ada disana !!!&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn7" href="http://www.geocities.com/abu_amman/tuduhanMMI.htm?200418#_ftn7" name="_ftnref7"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;[7]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;br /&gt;Anda - Fauzan Al-Anshori - dan yang semisal dengan anda yang selalu menggembar-gemborkan jihad, kenapa anda sendiri dan teman-teman anda tidak pergi saja sekarang ke Palestina atau Iraq ??? Pergi ke Iraq atau Palestina mungkin lebih baik bagi anda dari pada anda berdusta dan menyesatkan kaum awam di Indonesia !!! Anda menggembar-gemborkan jihad dan menyalahkan para ulama tanpa bukti yang nyata, sedangkan anda sendiri tertawa bersama istri-istri dan sanak kerabatmu Â…apakah ini yang dikatakan orang tong kosong nyaring bunyinya ??? Ya Allah, jadikanlah kami pejuang-pejuang agamamu yang selalu berpegang dengan ajaran Rasul dan para sahabat, hidupkan serta wafatkan kami diatas sunnah dan manhaj salaf .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syubhat/tuduhan&lt;br /&gt;Fauzan berkata : Â“Untuk kepentingan siapa Syaikh mereka Rabi' Al-Madkholi mengarahkan meriam takfir (pengkafiran) kepada Sayid Quthub yang aktif mengkritik pemerintahan sekuler ? Â“&lt;br /&gt;Bantahan :&lt;br /&gt;Coba buktikan kepada kami kalau Syaikh Rabi' mengkafirkan Sayid ghofarallahu lahu??? Syaikh Rabi' hanya mengungkap kesesatan-kesesatan Sayid dengan bukti-bukti dan keterangan-keterangan yang nyata, seperti dalam "Mathoo'in sayyid quthub fii ashaaabi Rasulillah" dll. Semua itu beliau lakukan untuk kepentingan islam dan andam muslimin agar mereka tidak terpedaya dan tertipu oleh Sayid yang sesat dan menyesatkan. Tidak tahukah anda bahwa idolamu Sayid yang aktif mengkritik pemerintahan sekuler, dia juga aktif mengkritik dan mencela sahabat Nabi Shallallahu 'alahi wa Sallam, bahkan dia berani mencela seorang Nabi Allah yaitu Musa Â‘alaihi salam ??? Mau bukti, coba simak dan renungkan ucapan idolamu ini : "Kita ambil Musa sebagai contoh pemimpin yang cepat naik pitamÂ…" ["At-tashwir al-fanni fil Qur'an" hal 200]. Dia juga mengatakan : "Ketika Mu'awiyah dan temannya memilih jalan kedustaan, kecurangan, penipuan, kemunafikan, suap dan membeli kehormatan, maka Ali tidak dapat melakukan perangai yang buruk ini. Oleh karenanya, tidak heran kalau Mu'awiyah dan teman-temannya berhasil sedang Ali gagal, tapi kegagalan ini lebih mulia dari semua kesuksesan" ["Kutubun wa syakhshiyaat" hal.242]. Ini masih sebagian dari kesesatan idolamu, kalau anda mau, kami -insya Allah- dapat menjelaskan lebih terang lagi berbagai macam kesesatannya.&lt;br /&gt;Jadi mana yang anda bela wahai Fauzan Al-Anshori, sahabat Nabi Shallallahu 'alahi wa Sallam atau yang mencela mereka ??? Apakah salah jika Syaikh Rabi' - حفظه الله - membela para sahabat ? Ya, beginilah akhir zaman yang penuh dengan keajaiban, yang ma'ruf dikatakan mungkar dan yang mungkar dikatakan ma'ruf. Alangkah benarnya ucapan seorang penyair :&lt;br /&gt;الله أخر موتتي فتأخرت حنى رأيت من الزمان عجائب&lt;br /&gt;Allah mengakhirkan kematianku hingga aku&lt;br /&gt;melihat zaman ini penuh dengan keajaiban&lt;br /&gt;Sikap membela sahabat dan mencela para pencela sahabat adalah warisan para ulama salaf kita. Tidakkah anda pernah membaca ucapan Imam Abu Zur'ah Ar-Roozi Rahimahullahu : "Apabila anda melihat seseorang mencela salah satu sahabat Rasulullah Shallallahu 'alahi wa Sallam maka ketahuilah bahwa dia itu zindiq, karena Rasulullah Shallallahu 'alahi wa Sallam menurut kami adalah benar dan Al-Qur'an itu benar. Sesungguhnya yang menyampaikan Al-Qur'an dan hadits kepada kita adalah para sahabat Rasulullah Shallallahu 'alahi wa Sallam. Mereka (yang mencela para sahabat) hanyalah ingin mencela para saksi kita untuk membatalkan Al-Qur'an dan sunnah, padahal celaan itu lebih pantas untuk mereka dan mereka adalah orang-orang zindiq" [lihat Al-Kifaayah fii 'ilmil riwaayah oleh Al-Khotib Al-Baghdadi hal.67]. Imam Al-Barbahaari Rahimahullahu berkata dalam "Syarhus sunnah" hal 50 no.104 : "Apabila anda melihat seseorang mencela para sahabat Rasulullah Shallallahu 'alahi wa Sallam maka ketahuilah bahwa dia itu pemilik ucapan yang jelek dan pengekor hawa nafsu".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syubhat/tuduhan&lt;br /&gt;Tuduhan Fauzan : Â“4. Cuek dengan nasib umat islamÂ….Â”&lt;br /&gt;Bantahan :&lt;br /&gt;Sesungguhnya waqi'/kenyataan atau realita umat yang pahit ini tidaklah tersembunyi bagi yang masih melihat dengan kedua matanya dan tidaklah ada yang jahil terhadapnya melainkan yang buta mata dan hati. Realita umat yang pahit ini merupakan dampak negatif maksiat dan jauhnya umat ini dari agama Allah yang murni&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn8" href="http://www.geocities.com/abu_amman/tuduhanMMI.htm?200418#_ftn8" name="_ftnref8"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;[8]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt; terutama dari tauhid dan sunnah Nabi Shallallahu 'alahi wa Sallam. Maka tidak ada jalan lain untuk mengatasi realita umat yang pahit dan getir ini melainkan dengan Tashfiyah dan Tarbiyah, hal ini berdasarkan sabda Nabi Shallallahu 'alahi wa Sallam : "Apabila kalian telah berjual beli dengan cara 'inah (sejenis riba -pent), kalian mengambil ekor-ekor sapi dan ridho dengan persawahan serta kalian tinggalkan jihad maka Allah akan menimpakan kehinaan kepada kalian yang tidak akan dicabut hingga kalian kembali kepada agama kalian (yang murni)" [HSR Abu Daud].&lt;br /&gt;Didalam hadits ini Nabi Shallallahu 'alahi wa Sallam tidak mengatakan jalan keluarnya adalah kalian kembali kepada jihad saja, tapi kembali ke agama (yang murni) dalam segala bidangnya terutama tauhid sebagaimana firman Allah dalam surat An-Nuur 55[ وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ ءَامَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ] Artinya : " Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik. "&lt;br /&gt;Bagaimana mungkin umat ini dapat menang dalam berjihad melawan orang-orang kafir sedang mayoritas mereka masih tenggelam dalam kesyirikan, kebid'ahan, khurafat dan maksiat ??? Oleh karenanya diperlukan Tashfiyah (pemurnian umat dari semua hal diatas) dan Tarbiyah (mendidik umat dengan islam yang murni). Inilah perhatian dakwah Salafiyah terhadap umat, menyeru mereka kepada fiqhul kitab dan sunnah, bukan dengan fiqhul waqi' (mengamati realita umat dengan baca koran, majalah, mendengar radio, melihat TV) seperti yang kalian banggakan. Dan inilah fiqhul waqi' yang ditolak/ditiadakan oleh Syaikh Muhammad Ibrohim Syuqroh. Tidakkah anda - Fauzan Al-Anshori - tahu bahwa istilah fiqhul waqi' yang sering kalian dengungkan tidak pernah digunakan oleh para salafush sholeh. Istilah tersebut adalah istilah baru dalam agama (bid'ah).&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn9" href="http://www.geocities.com/abu_amman/tuduhanMMI.htm?200418#_ftn9" name="_ftnref9"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;[9]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt; Yang ada pada mereka (salafush sholeh) adalah fiqhul kitab, fiqhul sunnah, fiqhul akbar dll. Oleh karena anda -Fauzan Al-Anshori- bergelut dengan fiqhul waqi' maka anda jauh dari kitab-kitab ulama salaf dan buta terhadap kebenaran dakwah Salafiyah. Waktumu habis dengan koran, siaran radio, TV, internet dll, maka bertakwalah kepada Allah akan dirimu !!! Tidakkah anda tahu bahwa media masa tersebut milik musuh-musuh islam yang tanpa sadar anda terbius dan teracuni oleh kabar-kabar mereka. Kalian mendakwahkan sebagai orang yang tahu fiqhul waqi', padahal anda dan bala pasukanmu adalah orang yang paling bodoh dengan fiqhul waqi'. Insya Allah, kita akan bahas lebih lanjut masalah fiqhul waqi' ini dalam majalah "Adz-Dzakhiroh" pada edisi mendatang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syubhat/tuduhan&lt;br /&gt;Fauzan berkata : Â“Inilah gambaran sekilas latar belakang pemikiran gerakan sesat Murjiah extrim, yang hari ini dengan bangga menggelari dirinya sebagai gerakan dakwah Salafiyah. Â“&lt;br /&gt;Bantahan :&lt;br /&gt;Tahukah anda wahai Fauzan Al-Anshori -semoga Allah membalas segala kedustaan dan tuduhan batilmu- apakah gerakan sesat murjiah extrim itu ? Apakah seperti Syaikh Ali bin Hasan, Salim bin Ied Al-Hilali, Masyhur bin Hasan, Muhammad bin Musa Alu Nashr, Husein Al-'Awaayisyah - حفظهم الله - yang mereka semua mengatakan : "Iman adalah keyakinan dalam hati, ucapan dalam lisan dan perbuatan dengan anggota badan dan bahwasanya amal dengan segala macamnya (amalan hati dan anggota badan) termasuk dari imanÂ… dan bahwasanya iman itu bisa bertambah dengan ketaatan hingga mencapai puncaknya dan iman bisa berkurang dengan kemaksiatan hingga bisa sirna dan tidak tersisa sedikitpunÂ…" ["Mujmal masaailil iman al-'ilmiyahÂ…"hal 14. dan ucapan serupa juga disampaikan oleh Syaikh Al-Albani dalam Syarh wa ta'liq terhadap Aqidah Thohawiyah hal.62.] termasuk murjiah ??? Apakah anda buta dengan ucapan salaf tentang murjiah ? Pernahkah anda membaca ucapan Imam Al-Barbahaari Rahimahullahu dalam "Syarhus sunnah" hal 132-133 : "Barangsiapa yang mengatakan bahwa iman itu adalah perkataan dan perbuatan, bisa bertambah dan berkurang, maka dia telah keluar dari irja' (murjiah) awalnya hingga akhirnya" dan ucapan Imam Ahmad Rahimahullahu tentang orang yang mengatakan bahwa iman itu bisa bertambah dan berkurang, beliau mengatakan : "Orang itu telah terlepas dari irja' " ["As-Sunnah" oleh Al-Khollal 3/581].&lt;br /&gt;Apakah setiap orang yang tidak mengkafirkan penguasa muslim dikatakan murjiah ? Apakah setiap orang yang tidak meledakkan tempat-tempat umum dikatakan murjiah ? Apakah yang tidak ikut dengan Fauzan Al-Anshori dikatakan murjiah ? Tidakkah anda yang mengatakan sendiri : "Vonis-vonis keras kepada seseorang atau kelompok Islam yang berada di luar arus mereka" ??? apakah tuduhan murjiah kepada dakwah salafiyah bukan vonis ???&lt;br /&gt;Wahai Fauzan, Sadar dan bertaubatlah anda ke jalan kebenaran (dakwah Salafiyah) sebelum ajal tiba !!!! Pahamilah bantahan/nasehat kami dengan mata terbuka dan lapang dada, jika anda tidak paham juga, maka kami hanya bisa mengatakan seperti apa yang dikatakan seorang penyair :&lt;br /&gt;علي نحت القفافي من معادنها و ما علي إن لم تفهم البقر&lt;br /&gt;Tugasku adalah mengukir bait-bait syair dari sumbernya&lt;br /&gt;Dan bukanlah tugasku jika sapi itu tidak paham&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Ditulis oleh al-Ustadz Abu Abdirrahman Abdurrahman Thayib, Lc. Beliau adalah staf pengajar MaÂ’had Ali Al-Irsyad Surabaya. Risalah ini akan dimuat di Majalah adz-Dzakhiirah, edisi depan Â–insya Alloh-)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn1" href="http://www.geocities.com/abu_amman/tuduhanMMI.htm?200418#_ftnref1" name="_ftn1"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;[1]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt; ["Limaadza Ikhtartu Al-Manhaj As-Salafy ?" oleh Syaikh Salim bin 'Ied Al Hilaly hal 33. lihat pula "Al-Manhaj As-Salafy 'Inda Syaikh Nashiruddin Al-Albany" oleh Amru Abdul Mun'im hal 14.]&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn2" href="http://www.geocities.com/abu_amman/tuduhanMMI.htm?200418#_ftnref2" name="_ftn2"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;[2]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt; ["Asy-Syari'ah " oleh Al-Ajury" hal 58.]&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn3" href="http://www.geocities.com/abu_amman/tuduhanMMI.htm?200418#_ftnref3" name="_ftn3"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;[3]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt; [Coba anda lihat kitab "Al-Qoulul Baliqh Fit Tahdzir min Jama'atit Tabligh" oleh Syaikh Hamud At-Tuwaijiry, "Al-Maurid Al-'Adzbu Azzalal" oleh Syaikh Ahmad An-Najmy, "Al Jama'at Al-Islamiyah" oleh Syaikh Salim bin 'Ied Al-Hilaly.]&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn4" href="http://www.geocities.com/abu_amman/tuduhanMMI.htm?200418#_ftnref4" name="_ftn4"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;[4]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt; [Atsar ini diriwayatkan oleh Ibnu Baththoh dalam "Al-Ibanah" 2/456 dan beliau mengomentari ucapan Al-Auza'i tersebut dengan perkataannya :'sungguh benar apa yang diucapkan oleh Al-Auza'i, orang tersebut tidak tahu kebenaran'].&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn5" href="http://www.geocities.com/abu_amman/tuduhanMMI.htm?200418#_ftnref5" name="_ftn5"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;[5]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt; [Syaikh Muhammad Ibrohim Syuqroh memang dahulu dikenal dengan kesalafiannya, tapi sekarang dia menyimpang dari dakwah Salafiyah. Seperti yang dijelaskan oleh Majalah Ash-Sholah edisi 25/26. kita disini ingin membela yang haq bukan perorangan. "Dan janganlah kebencianmu terhadap suatu andam membuatmu tidak berbuat adil, berbuat adillah karena itu lebih dekat dengan takwa" (QS Al-Maidah 8).]&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn6" href="http://www.geocities.com/abu_amman/tuduhanMMI.htm?200418#_ftnref6" name="_ftn6"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;[6]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt; [Bukan dengan cara bom bunuh diri atau meledakkan fasilitas umum atau membunuh manusia yang tidak berhak untuk dibunuh, seperti yang dilakukan oleh sebagian orang-orang gerakan (tikus) bawah tanah yang [لَا يُسْمِنُ وَلَا يُغْنِي مِنْ جُوع] Artinya : " yang tidak menggemukkan dan tidak pula menghilangkan lapar." (QS.Al-Ghoosyiyah : 7). Coba anda baca "As-Salafiyyun wa qodhiyatu falestiin" oleh Syaikh Masyhur bin Hasan, "Al-irhab wa atsaruhu fil afrod wal ummah" oleh Syaikh Zaid bin Hadi Al-Madkholi dan "Fatawa aimmah fin nawaazil al-mudlahimmah" oleh Syaikh Muhammad bin Husein Al-Qohthooni.]&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn7" href="http://www.geocities.com/abu_amman/tuduhanMMI.htm?200418#_ftnref7" name="_ftn7"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;[7]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt; [Apa yang kami utarakan tentang hijrah diatas merupakan nukilan secara ringkas dan dengan sedikit tambahan dari "Salafiyyun wa qadhiyatul falestiin-As" oleh Syaikh Masyhur bin Hasan حفظه الله hal. 18-37.]&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn8" href="http://www.geocities.com/abu_amman/tuduhanMMI.htm?200418#_ftnref8" name="_ftn8"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;[8]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt; ["Maadza yanqumuuna minas Salafiyah" oleh Syaikh Muhammad Musa Alu Nashr hal.71]&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn9" href="http://www.geocities.com/abu_amman/tuduhanMMI.htm?200418#_ftnref9" name="_ftn9"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;[9]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt; [Buletin yang berjudul "Fiqhul waqi'" oleh Syaikh Sholeh bin Abdul Aziz Alu Syaikh - حفظه الله -]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maktabah Abu Salma Al-Atsari&lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.abusalma.blogspot.com/"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;Home&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;br /&gt;geovisit();&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15358194-112427968106616601?l=abuyoesuf.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abuyoesuf.blogspot.com/feeds/112427968106616601/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=15358194&amp;postID=112427968106616601' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15358194/posts/default/112427968106616601'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15358194/posts/default/112427968106616601'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abuyoesuf.blogspot.com/2005/08/menepis-tuduhan-membela-kebenaran.html' title=''/><author><name>abu_yusuf</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15735738412660387343</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://photos.friendster.com/photos/39/85/27355893/2558270428391m.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15358194.post-112427837696529580</id><published>2005-08-17T04:28:00.000-07:00</published><updated>2005-08-17T04:32:56.970-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family:courier new;font-size:130%;color:#cc0000;"&gt;ILMU ADALAH OBAT&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;SEBAGIAN besar manusia menjalani kehidupan mereka dalam keadaan sakit,bingung dan tersesat. Mereka mencari obat untuk menyembuhkan penyakit mereka namun tidak mereka dapati, mereka melihat ke jalan yang mereka lalui, namun mereka tidak dapat membedakan! Padahal obat ada didepan mereka, ada diantara dua tangan mereka, obat tersebut adalah ilmu.Imam adz-Dzahabi (wafat tahun 748 H) berkata:“Barangsiapa sakit hatinya tertimpa keraguan dan was-was semua itu tidak akan hilang kecuali dengan bertanya kepada ahli ilmu. Hendaklah ia mempelajari kebenaran yang dapat menyingkirkan penyakit yang dideritanya.”Dan do'a yang paling mujarab adalah dengan merendahkan diri dihadapan Allah swt, meminta pertolongan kepada-Nya, hendaknya ia mengulang-ulangi dan memperbanyak do'a ini :“Ya Allah Rabb Jibril, Mikail, dan Israfil, yang menurunkan Taurat dan Injil, tunjukilah aku kepada kebenaran yang diperselisihkan dengan izin-Mu, sesungguhnya Engkau memberi petunjuk kepada siapa yang Engkau kehendaki kepada jalan yang lurus”. (HR. Muslim 770)Hendaknya ia memperbarui taubatnya, memohon ampunan kepada-Nya, dan meminta kepada Allah keyakinan dan kesejahteraan. Insya Allah dengan hal itu tidak akan berlalu hari melainkan ia akan sehat dan sembuh dari penyakitnya, ketauhidannya akan selamat, dan ia tidak akan terjerumus kedalam ilmu kalam/filsafat yang barangsiapa mempelajarinya untuk mengobati penyakitnya maka akan melahirkan penyakit-penyakit lainnya yang bisa jadi akan membunuhnya !! Bahkan banyaknya keraguan dan kesamaran tidak akan menimpa melainkan kepada seseorang yang berkecimpung dalam ilmu kalam dan filsafat !Obat dari hal ini adalah membuang jauh-jauh hal yang membinasakan itu (ilmu kalam), berpaling dari hal-hal itu secara menyeluruh, dan banyak membaca al-Qur’an, shalat, berdoa dan takut.Dan saya menjamin bahwa ketauhidannya akan murni dan Allah akan menyehatkannya.Jika ia tidak mempergunakan obat ini, maka ia telah berobat dengan penyakit, dan tenggelam dalam pendapat dan akal, bisa jadi ia akan selamat, dan bisa jadi binasa ! dan bisa jadi ia akan menderita sakit hingga wafat.Dari Abu Darda ra, ia berkata : Rasulullah saw bersabda : “Sesungguhnya ulama itu adalah pewaris nabi, dan para nabi tidak mewariskan dinar tidak pula dirham tapi mereka mewariskan ilmu, barangsiapa mengambilnya berarti telah mengambil bagian yang banyak.”Al-Imam Ibnu Hibban (wafat th 354 H) berkata : “Dalam hadits ini terdapat penjelasan yang jelas, bahwasanya para ulamalah yang mempunyai keutamaan, mereka mengajarkan ilmu nabi saw, bukan ilmu-ilmu lainnya (seperti ilmu filsafat).”Tidakkah anda melihat beliau r bersabda : “Ulama adalah pewaris nabi” dan para nabi tidak mewariskan apa-apa melainkan ilmu, dan ilmu nabi kita adalah sunnah-sunnahnya, barangsiapa tidak mengetahuinya bukan termasuk pewaris nabi.”Dan diantara ucapan yang indah adalah :“Ilmu adalah warisan nabi, demikianlah nash menyebutkannya sedangkan para ulama adalah pewarisnya.”“Nabi r tidaklah meninggalkan kepada kita melainkan hadits-haditsnya, itulah harta dan perabot rumah tangga nabi.”&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#000099;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#000099;"&gt;Maraji':Ash-Sholah Edisi I Hal. 50.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;FROM &lt;a href="http://www.salafindo.com"&gt;www.salafindo.com&lt;/a&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15358194-112427837696529580?l=abuyoesuf.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abuyoesuf.blogspot.com/feeds/112427837696529580/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=15358194&amp;postID=112427837696529580' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15358194/posts/default/112427837696529580'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15358194/posts/default/112427837696529580'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abuyoesuf.blogspot.com/2005/08/ilmu-adalah-obat-sebagian-besar.html' title=''/><author><name>abu_yusuf</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15735738412660387343</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://photos.friendster.com/photos/39/85/27355893/2558270428391m.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15358194.post-112419496574533960</id><published>2005-08-16T05:19:00.000-07:00</published><updated>2005-08-16T05:22:45.750-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:130%;color:#3366ff;"&gt;BAHASA ARAB YANG MULIA&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#006600;"&gt;Sesungguhnya bahasa Arab adalah pintu memahami al-Qur'an, bagian inti syariat agama dan kunci memahami Islam. Bahasa Arab adalah bahasa yang paling luas kosa katanya, paling baik dalam pengungkapannya dan paling mulia diantara bahasa-bahasa yang ada.Oleh karena itu, Allah menurunkan al-Qur'an dengan bahasa yang paling mulia, kepada Rasul yang paling mulia (Muhammad ), melalui malaikat yang paling mulia (Jibril), di lembah yang paling mulia di dunia ini (Mekkah), dan permulaan diturunkannya adalah di bulan yang paling mulia yaitu Ramadhan, maka sempurnalah kemuliaan dari segala segi. (Tafsir Ibnu Katsir 1/178, lihat Ithaful Ilfi hal. 14, karya Syaikh Musa Alu Nashr dan Syaikh Salim al-Hilali)Tidak mungkin bagi seseorang bisa memahami al-Qur'anul Karim kecuali ia harus mengetahui bahasa Arab. Maka sepatutnya bagi kaum muslimin -dengan beraneka macam bahasa yang mereka berbicara dengannya- agar mereka mempelajari, mendalami dan menekuni bahasa Arab/bahasa al-Qur'an, agar mereka dapat memahami al-Qur'an, mendalami serta membacanya dengan baik.Allah berfirman : "Sesungguhnya kami menurunkannya berupa al-Qur'an dengan berbahasa Arab agar kalian memahaminya" (Yusuf : 2)Alangkah indahnya untaian kalimat-kalimat bahasa Arab!!!Alangkah manisnya rangkaian dan bentuk huruf-hurufnya!!!Alangkah cantiknya bait-bait syairnya!!!Imam Syafi'i berkata : "Wajib bagi setiap muslim mempelajari bahasa Arab dengan mengerahkan kemampuannya, hingga ia dapat bersyahadat dengannya, dapat membaca al-Qur'an dengannya, dapat mengucapkan dzikir-dzikir yang diwajibkan baginya (dalam shalat) berupa takbir, tasbih, tasyahud dan lain-lainnya." (Ar-Risalah 48-50, lihat Ithaful Ilfi hal. 15)Para sahabat Nabi yang mulia, dan juga mereka yang mengikuti petunjuk mereka dari kalangan penduduk negeri yang ditaklukkan oleh agama Islam, mereka semua mengajarkan agama Islam dengan bahasa Arab. Oleh karena itu tidak terlalu lama agama Islam ini tersebar di negeri-negeri Romawi, Persia, Afrika dan Eropa Barat, hingga bahasa Arab menguasai dan menjadi bahasa percakapan sehari-hari, mengalahkan bahasa-bahasa negeri-negeri tersebut. Bahkan, bahasa Arab menghapus bahasa yang dahulu mereka pergunakan, sebagaimana suasana siang menghapus suasana malam (tidak berbekas). Tanpa melalui sekolah-sekolah dan guru-guru, mereka berpindah mempelajari bahasa Arab. Tidaklah penyebaran bahasa Arab yang cepat ini melainkan disebabkan semangat jiwa yang menyala, hal ini tidak dapat dilakukan oleh suatu siyasah/politik maupun sekolah-sekolah. Tidak ada yang dapat menghentikan arus bahasa Arab ini kecuali lemahnya negara-negara Arab dan terkaman orang-orang ajam (yang tidak berbicara bahasa Arab) yang menerkam singgasana-singgasana mereka, serta fatwa para ulama ajam yang membolehkan ibadah, membaca al-Qur'an, melafadhkan dzikir-dzikir dalam shalat dengan bahasa selain bahasa Arab ……. (Lihat Ithaful Ilfi hal. 16)Demikian keadaan kaum muslimin di negeri kita ini. Banyak diantara mereka tidak mengetahui bahasa Arab, mudah dibimbangkan, disesatkan, digiring oleh da'i-da'i yang sesat. Hal ini dikarenakan lemahnya pengetahuan agama mereka, terlebih lagi ketidaktahuan mereka akan bahasa Arab yang mulia ini. Sebagai contoh kejadian baru-baru ini yaitu kisah seorang (kyai) yang tersesat, yang shalat dengan menggunakan bahasa Indonesia.Wallahu musta’an&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;Sumber : salafindo.com&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15358194-112419496574533960?l=abuyoesuf.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abuyoesuf.blogspot.com/feeds/112419496574533960/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=15358194&amp;postID=112419496574533960' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15358194/posts/default/112419496574533960'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15358194/posts/default/112419496574533960'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abuyoesuf.blogspot.com/2005/08/bahasa-arab-yang-mulia-sesungguhnya.html' title=''/><author><name>abu_yusuf</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15735738412660387343</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://photos.friendster.com/photos/39/85/27355893/2558270428391m.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15358194.post-112410460133400920</id><published>2005-08-15T04:13:00.000-07:00</published><updated>2005-08-15T04:16:41.350-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;PERKARA KEIMANAN YANG GLOBAL&lt;br /&gt;DARI POKOK-POKOK AQIDAH SALAFIYYAH&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyusun :&lt;br /&gt;Syaikh Husain bin Audah al-Awaisyah&lt;br /&gt;Syaikh Muhammad bin Musa Alu Nashr&lt;br /&gt;Syaikh Salim bin Ied al-Hilaaly&lt;br /&gt;Syaikh Ali bin Hasan al-Halaby al-Atsary&lt;br /&gt;Syaikh Masyhur bin Hasan Alu Salman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diperiksa dan Disepakati oleh :&lt;br /&gt;Sejumlah Ulama dan Penuntut Ilmu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diterbitkan oleh :&lt;br /&gt;Markaz Imam Albany&lt;br /&gt;Divisi Pengajaran Manhaj dan Riset Ilmiah&lt;br /&gt;Amman - Yordania&lt;br /&gt;1421 H./2000 M.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dialihbahasakan oleh :&lt;br /&gt;Abu Salma bin Burhan al-Atsary&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dikoreksi oleh :&lt;br /&gt;Ust. Abu ‘Athiyyah, Lc., M.Ag.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disebarkan oleh :&lt;br /&gt;Lajnah Da’wah dan Ta’lim&lt;br /&gt;FSMS (Forum Silaturrahim Mahasiswa as-Sunnah)&lt;br /&gt;Surabaya&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;PENDAHULUAN&lt;br /&gt;Dengan Nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang&lt;br /&gt;Segala Puji hanyalah milik Allah pemelihara semesta alam, Sholawat serta Salam semoga senantiasa tercurahkan kepada utusan termulia, keluarga beliau dan para sahabat seluruhnya.&lt;br /&gt;Berikut ini adalah risalah yang ringkas, ilmiah dan cakupannya luas, yang menghimpun pokok-pokok Aqidah tentang perkara keimanan dan yang berkaitan dengannya, dimana banyak sekali perbincangan dan perdebatan di dalamnya, yang mana hal ini terkadang menyebabkan munculnya sikap saling menfitnah, menghujat, mencela dan menghancurkan...&lt;br /&gt;Kami selaku penuntut ilmu, memandang perlu menulis pokok-pokok ilmiah yang sederhana berkaitan dengan perkara ini, menurut kaidah Ahlus Sunnah wal Jama'ah dan menurut pokok manhaj Salaf Ahlu Hadits dan Ahlu Atsar, dengan keinginan yang kuat untuk mempersatukan kalimat, sebagai maslahat terhadap jama'ah, dalam rangka menerangkan al-Haq dan menjelaskan kebenaran, sebagai petunjuk bagi pencari kebenaran dan menumpas para pendusta.&lt;br /&gt;Kami telah menyodorkan risalah ini untuk diperiksa oleh sejumlah ulama, para penuntut ilmu dan para du'at terbaik di seluruh dunia, dengan mengharapkan kritikan-kritikan dan masukan-masukan yang membangun. Merekapun sudi membaca dan mengoreksinya, dengan Fadhilah (Karunia) dan Taufiq Allah, kami memetik manfaat dari pengarahan mereka. Diantara mereka tersebut adalah :&lt;br /&gt;- Fadhilatus Syaikh Sa'ad al-Hushain&lt;br /&gt;- Fadhilatul Ustadz Prof. DR. Syaikh Rabi' bin Hadi al-Madkholy&lt;br /&gt;- Fadhilatus Syaikh Ali bin Hamd al-Khasyaan&lt;br /&gt;- Fadhilatus Syaikh DR. Husain Alu Syaikh&lt;br /&gt;- Fadhilatus Syaikh Ahmad bin Yahya an-Najmy&lt;br /&gt;- Fadhilatus Syaikh DR. Muhammad al-Maghrawy&lt;br /&gt;- Fadhilatus Syaikh DR. Wasiyullah Abbad&lt;br /&gt;- Fadhilatus Syaikh Muhammad bin Umar Bazmul&lt;br /&gt;- Fadhilatus Syaikh DR. Khalid al-Anbary&lt;br /&gt;- Fadhilatus Syaikh Usamah bin Abdul Lathif al-Qushy&lt;br /&gt;- Fadhilatus Syaikh Abul Hasan al-Ma'riby&lt;br /&gt;- Fadhilatus Syaikh Muhammad bin Hadi al-Madkholy&lt;br /&gt;- Fadhilatus Syaikh 'Abdus Salam bin Barjas Alu Abdil Karim (Rahimahullahu, Pent.)&lt;br /&gt;- Fadhilatus Syaikh Husain 'Asyasy&lt;br /&gt;- Fadhilatus Syaikh Mahmud 'Athiyyah&lt;br /&gt;Semoga Allah mereka semua membalas dengan kebaikan.&lt;br /&gt;Karena itu pula, kami juga memutuskan untuk menyodorkan risalah ini kepada Samahatus Syaikh Abdul Aziz bin Abdillah Alu Syaikh -Nafa'allahu bihi-, beliau adalah seorang Mufti Umum, Ketua Lembaga Ulama Besar (Hai`ah Kibaril Ulama') dan Komite Tetap Bidang Fatwa (Lajnah Da`imah lil Iftaa') serta Ketua Umum Bidang Penelitian Ilmiah dan Fatwa (Idarah al-Buhuts al-Ilmiyyah wal Ifta').&lt;br /&gt;Risalah ini telah dikirim via surat pos resmi melalui perantara Fadhilatus Syaikh Sa'ad al-Hushain -Hafidhahullahu-, beliau adalah seorang Penasehat Agama Arab Saudi di Yordania. Kami telah menunggu hingga hampir 2 bulan dengan harapan beliau membalas surat yang kami kirimkan...&lt;br /&gt;Saat kunjungan terakhir al-Akh Ali bin Hasan bin Abdil Hamid al-Halaby al-Atsary ke negeri haramain, beliau sempat bertemu dengan Samahatus Syaikh Abdul Aziz bin Abdillah Alu Syaikh -nafa'allahu bihi- dan menanyakan kembali tentang kitab (risalah yang telah kami kirim), dan beliau memberitahukan bahwa beliau belum menerimanya.&lt;br /&gt;Maka, oleh karena itulah, kami berkewajiban menyebarkan risalah yang sederhana ini, untuk menerangkan kepada mereka baik yang jauh maupun dekat, bahwa kami berada di atas Aqidah Sunniyah Shahihah dan Manhaj Salafi yang Sharih (terang) semenjak kurang lebih 3 dekade ini, yang kami pelajari dari para masyaikh yang mulia dan tercinta, Abu Abdurrahman Muhammad Nashirudin al-Albany -rahimahullahu-, Abu Abdillah Abdul Aziz bin Baz -rahimahullahu-, dan Abu Abdillah Muhammad bin Sholih al-'Utsaimin -hafidhahullahu wa 'aafahullahu- (rahimahullahu, pent.)&lt;br /&gt;Syarh (Penjelasan) dari perkara-perkara yang kami sebutkan ini secara terperinci beserta menyebutkan dalil-dalilnya dan mengkaitkannya dengan ucapan para Imam Salafus Shalih, memerlukan pemaparan dan penjelasan, namun bukan tempatnya di sini sekarang, semoga akan dapat dilakukan di masa mendatang. Kami memohon kepada Allah untuk menerima amal kami yang sedikit ini. Wallahu waliyyut taufiq.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*****************&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;LAMPIRAN&lt;br /&gt;Surat kepada Samahatus Syaikh Abdul Aziz Alu Syaikh&lt;br /&gt;Segala puji hanya milik Allah, Shalawat serta Salam semoga senantiasa tercurahkan kepada Rasulullah, keluarganya, sahabat-sahabatnya dan siapa saja yang mencintainya.&lt;br /&gt;Kepada Samahatu al-Allamah al-Jalil asy-Syaikh Abdul Aziz bin Abdillah Alu Syaikh -nafa'allahu bihi-&lt;br /&gt;Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarokatuh&lt;br /&gt;Amma Ba'du :&lt;br /&gt;Sesungguhnya kami mengirimkan kepada yang mulia -ayyadakumullahu (Semoga Allah memperkokoh Anda)- risalah yang sederhana ini, berisi perkara keimanan yang mengandung kaidah-kaidah Aqidah Salafus Shalih yang terang dan jelas, dengan keinginan kuat untuk senantiasa memegang kebenaran dan termasuk ahli kebenaran. Sembari mengharapkan petunjuk dari pendapat dan faidah dari Anda serta menunggu kritikan dan pengarahan Anda.&lt;br /&gt;Kami memohon kepada Allah Ta'ala taufiq, kelurusan, huda dan petunjuk bagi kami dan Anda.&lt;br /&gt;Semoga Shawalat senantiasa tercurahkan kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan seluruh sahabatnya.&lt;br /&gt;Penulis : Husain bin Audah al-Awaisyah, Muhammad bin Musa Alu Nashr, Salim bin Ied al-Hilaly, Ali bin Hasan al-Halaby al-Atsary dan Masyhur bin Hasan Alu Salman.&lt;br /&gt;28 Jumadil Ula 1421 H.&lt;br /&gt;*****************&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PERKARA-PERKARA KEIMANAN YANG GLOBAL&lt;br /&gt;DARI POKOK-POKOK AQIDAH SALAFIYYAH&lt;br /&gt;1. Keimanan&lt;br /&gt;2. Kekufuran&lt;br /&gt;3. Sholat&lt;br /&gt;4. Berhukum dengan hukum Allah&lt;br /&gt;5. Wala' (Loyalitas) dan Baro' (Berlepas Diri)&lt;br /&gt;6. Murji'ah&lt;br /&gt;7. Khowarij&lt;br /&gt;8. Jihad fi Sabilillah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*****************&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 1 : Keimanan&lt;br /&gt;1. Iman adalah keyakinan dalam hati, ucapan dengan lisan dan perbuatan dengan anggota tubuh&lt;br /&gt;2. Amal perbuatan dengan segala macamnya, baik amalan hati maupun amalan anggota tubuh termasuk hakikat keimanan. Kami tidak mengeluarkan perbuatan, baik besar maupun kecil, dari yang namanya keimanan.&lt;br /&gt;3. Bukanlah termasuk ucapan Ahlus Sunnah yang menyatakan bahwa Iman adalah pembenaran hati saja, atau pembenaran dengan ucapan lisan saja, tanpa perbuatan anggota badan. Barangsiapa yang berkata demikian maka ia telah sesat! Dan inilah dia madzhabnya Murji'ah yang buruk!!!&lt;br /&gt;4. Iman itu bercabang-cabang dan bertingkat-tingkat. Diantaranya jika ditinggalkan dapat menjadikan kafir, ada pula yang menyebabkannya berdosa, baik dosa besar maupun kecil, dan ada pula yang jika ditinggalkan akan kehilangan ganjaran dan pahala yang berlipat.&lt;br /&gt;5. Iman itu akan bertambah dengan ketaatan hingga dapat mencapai kesempurnaannya dan akan berkurang dengan kemaksiatan hingga bisa hilang sama sekali, tak tersisa sedikitpun.&lt;br /&gt;6. Yang benar dalam perkara iman dan amal perbuatan serta hubungannya dengan lainnya, ditinjau dari sisi ketetapannya, berkurang maupun bertambahnya, keberadaan maupun ketiadaannya, tercakup dalam ucapan Syaikhul Islam -rahimahullahu- yang menyatakan, "Pokok keimanan itu di dalam hati, dan Iman itu adalah ucapan hati dan amalannya yang ditetapkan dengan pembenaran, kecintaan dan ketundukan. Keimanan yang bersemayam di dalam hati harus menampakkan konsekuensi dan kebutuhannya terhadap anggota tubuh. Jika tidak melaksanakan konsekuensi dan kebutuhannya, menunjukkan ketiadaan atau kelemahan iman. Oleh karena itu, amalan lahir merupakan konsekuensi dan kebutuhan iman yang menunjukkan pembenaran terhadap apa yang ada di dalam hati, sebagai dalil (petunjuk) dan syahid (saksi) atasnya. Amalan lahir juga merupakan cabang dari kumpulan keimanan yang mutlak serta merupakan bagian darinya. Akan tetapi yang bersemayam di dalam hatilah yang merupakan pokok dari amal perbuatan anggota tubuh."&lt;br /&gt;Kami mengatakan : Ketiadaan iman yang mutlak, yaitu kesempurnaan iman, tidaklah mengharuskan penafian kemutlakan iman, yaitu pokok keimanan. Sebagaimana telah ditetapkan oleh Syaikhul Islam dalam beberapa tempat (dari karangan-karangan beliau, pent.).&lt;br /&gt;7. Perbuatan anggota tubuh, selain sholat -yang insya Allah akan datang perinciannya nanti- bisa jadi termasuk kesempurnaan iman yang wajib dan bisa jadi mustahab, menurut kadarnya, sebagaimana yang telah dijelaskan oleh Syaikhul Islam. Maka wajibnya (amalan lahir) adalah wajib dan mustahabnya adalah mustahab.&lt;br /&gt;8. Adapun istilah Syarth Kamal al-Iman (syarat kesempurnaan iman) yang sering diperbincangkan dewasa ini, adalah istilah muhdats (baru) yang tidak berasal dari al-Qur'an dan as-Sunnah, tidak pula dari ucapan Salafus Shalih dari tiga kurun pertama yang terbaik. Oleh karena itu, sesungguhnya penggunaan istilah ini sesuai dengan keterangan sebelumnya yang terperinci, merupakan suatu hal yang tidak dapat diperdebatkan lagi, beserta peringatan bahwa penyebutan kata syarat di dalamnya, menurut definisi bahasa bermakna tingkatan kewajiban tertinggi, bukan menurut definisi istilah yang berkonsekuensi keluar dari hakikat sebenarnya. Adapun pemahaman istilah ini dengan pengertian 'kesempurnaan mustahab' atau 'mengeluarkan amalan dari yang namanya keimanan' atau 'orang yang bermaksiat memiliki keimanan yang sempurna' sebagaimana pemahaman murji'ah atau orang-orang yang terpengaruh dengannya, maka semua pengertian ini adalah sesat dan bathil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*****************&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 2 : Kekufuran&lt;br /&gt;1. Takfir (Pengkafiran) adalah hukum syar'i yang harus dikembalikan kepada Allah Ta'ala dan Rasul-Nya Shallallahu 'alaihi wa Sallam.&lt;br /&gt;2. Barangsiapa yang keislamannya telah tetap dengan pasti, maka keislamannya takkan hilang darinya melainkan dengan kepastian pula.&lt;br /&gt;3. Tidak setiap ucapan maupun perbuatan yang disifatkan oleh nash sebagai kekufuran serta merta menunjukkan kekufuran besar yang mengeluarkan dari agama, karena kekufuran itu ada dua, yaitu kufur kecil dan kufur besar. Maka, hukum terhadap ucapan dan perbuatan (yang disifatkan sebagai kekafiran ini) sesungguhnya hanyalah menurut koridor metode para ulama Ahlus Sunnah dan keputusan mereka.&lt;br /&gt;4. Tidak boleh menjatuhkan hukum kafir terhadap setiap muslim kecuali yang kekufurannya ditunjukkan oleh al-Qur'an dan as-Sunnah dengan dalil yang terang, nyata dan jelas. Tidak cukup hanya dengan kesamaran (syubuhat) dan dugaan semata.&lt;br /&gt;5. Terkadang terdapat di dalam al-Qur'an dan as-Sunnah tentang ucapan, perbuatan atau keyakinan yang difahami sebagai kekufuran, namun tidak boleh seseorang dikafirkan secara spesifik (mu'ayan) kecuali jika telah ditegakkan hujjah atasnya dengan memenuhi syarat-syarat : ilmu, maksud dan pilihan, serta menghilangkan penghalang-penghalangnya, yaitu lawan dan kebalikan dari hal ini.&lt;br /&gt;6. Kekufuran itu bermacam-macam : ada kufur juhud (pengingkaran), takdzib (pendustaan), iba' (penolakan), syak (keraguan), nifaq (kemunafikan), i'radh (berpaling), istihzaa' (penghinaan) dan istihlal (penghalalan), sebagaimana disebutkan oleh para Imam Ahli Ilmu, Syaikhul Islam dan muridnya Ibnul Qoyyim al-Jauziyah dan selainnya dari para Imam Sunnah -rahimahumullahu-&lt;br /&gt;7. Termasuk kufur amalan dan ucapan yang mengeluarkan dari agama secara dzatnya, yang tidak disyaratkan di dalamnya penghalalan hati, adalah perkara-perkara yang menunjukkan lawan dari keimanan ditinjau dari segala sisi, seperti mencela Allah Ta'ala, menghina Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam, sujud kepada berhala, meletakkan mushaf di tempat-tempat najis, dan amalan-amalan yang serupa.&lt;br /&gt;Menjatuhkan hukum kafir ini kepada perseorangan secara spesifik adalah sebagaimana (menjatuhkan hukum kafir) pada amalan kafir lainnya, yaitu tidaklah serta merta dikafirkan kecuali syarat-syaratnya dipenuhi.&lt;br /&gt;8. Kami berpendapat sebagaimana pendapatnya Ahlus Sunnah, bahwa amalan kufur itu mengkafirkan pelakunya dikarenakan keadaannya yang menunjukkan kekufuran bathinnya. Kami tidak berpendapat sebagaimana ahlul bid'ah yang mengatakan bahwa amal kufur itu tidak mengkafirkan, melainkan sebagai petunjuk kekafiran. Perbedaan keduanya cukup jelas.&lt;br /&gt;9. Sebagaimana ketaatan merupakan cabang keimanan, maka sesungguhnya kemaksiatan itu merupakan cabang kekufuran. Semuanya menurut tingkatannya.&lt;br /&gt;10. Ahlus Sunnah tidaklah mengkafirkan seorangpun dari ahli kiblat dikarenakan dosa besarnya, namun mereka mengkhawatirkan akan terealisasinya ayat-ayat ancaman bagi mereka (pelaku dosa besar) tanpa beranggapan mereka kekal di dalam neraka. Bahkan Ahlus Sunnah berpendapat mereka akan keluar dengan syafaat para pemberi syafaat dan dengan Rahmat Allah Rabb semesta alam, selama mereka masih bertauhid. Pengkafiran terhadap para pelaku dosa besar adalah madzhabnya khowarij yang buruk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*****************&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 3 : Sholat&lt;br /&gt;1. Sholat merupakan Rukun Islam berupa amalan yang paling penting dan besar. Bahkan sholat merupakan pilarnya dan simbol keimanan serta perilaku badan/fisik yang paling agung.&lt;br /&gt;2. Meninggalkan sholat karena juhud (mengingkari kewajibannya) adalah kafir mengeluarkan dari agama. Kami tidak mengetahui adanya perselisihan tentang hal ini di kalangan ulama Ahlus Sunnah.&lt;br /&gt;Dan yang serupa dengan perkara ini -yaitu murtad dan kafir- adalah orang yang hendak dipenggal kepalanya dengan pedang (dieksekusi), ia lebih memilih mati ketimbang sholat.&lt;br /&gt;3. Perselisihan yang terjadi di tengah Ahli Sunnah -pengikut manhaj salaf- berkenaan tentanng orang yang meninggalkan sholat karena malas tanpa penyangkalan dan pengingkaran (kewajibannya). Sebagaimana dinukil lebih dari seorang ulama semacam Imam Malik, Imam Syafi'i dan menurut riwayat yang masyhur dari Imam Ahmad.&lt;br /&gt;4. Barang siapa yang mengkafirkan orang yang meninggalkan sholat secara mutlak, tidak boleh baginya menuduh orang yang berbeda dengannya sebagai murji'ah.&lt;br /&gt;Dan barang siapa yang tidak mengkafirkan orang yang meninggalkan sholat karena malas, tidak sepatutnya melempar tuduhan kepada orang yang berbeda dengannya sebagai khowarij.&lt;br /&gt;5. Meninggalkan sholat -bagi fihak yang mengkafirkannya di dunia- termasuk kufur besar yang menyeret pelakunya sebagai kafir pula di akhirat. Adapun pengkafiran orang yang meninggalkan sholat sebagai kufur akbar di dunia setelah memenuhi syarat-syaratnya dan menghilangkan penghalang kekafiran, dan menjadikan orang yang meninggalkan sholat pada waktu yang bersamaan 'di bawah kekuasaan Allah di akhirat', jika orang yang meninggalkan sholat itu ikhlas dengan ucapannya 'Laa ilaaha illallah' di dunia, maka pendapat ini adalah pendapat yang mengada-ada (bid'ah), tidaklah termasuk dari pendapatnya Ahlus Sunnah sedikitpun. Karena para ulama yang merajihkan (menguatkan) pengkafiran bagi orang yang meninggalkan sholat, mereka meyakini bahwa orang yang meninggalkan sholat di akhirat nanti kekal di dalam neraka jahannam. Mereka berargumentasi bahwa 'orang yang tidak sholat tidak memiliki iman sedikitpun di dalam hatinya' dan argumentasi 'seandainya dia jujur dengan ucapan laa ilaaha illallah dan ikhlas, niscaya ia takkan meninggalkan sholat'.&lt;br /&gt;6. Oleh karena itu, perselisihan tentang menghukumi orang yang meninggalkan sholat menurut sisi kebenarannya adalah perselisihan yang mu'tabar (dikenal) di tengah-tengah Ahlus Sunnah yang tidak merusak ukhuwah imaniyah. sebagaimana hal ini terjadi di zaman salaf yang pertama dari para imam yang ummat bersepakat menerima mereka dan mempersaksikan keutamaan mereka, seperti Imam Malik, Imam Syafi'i dan selainnya. Perselisihan Ilmiyah Sunniyah ini terus berlangsung hingga saat ini, sebagaiman terjadi pada dua Imam yang mulia, yaitu Imam Albany dan Imam Ibnu Baz -rahimahumallahu- dan selain mereka.&lt;br /&gt;7. Tidak ada halangan syar'i untuk tarjih Ilmiah (meneliti yang lebih kuat) dan penelitian Fiqhiyyah, untuk mendukung dan menyokong salah satu dari pendapat ini tanpa mendukung pendapat lainnya, dalam lingkaran Ahlus Sunnah walau dengan perbedaan tarjih dan hakikat ucapan yang beragam, dengan tetap memelihara manhaj dalam meneliti dan etika dalam berselisih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*****************&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 4 : Berhukum dengan hukum Allah&lt;br /&gt;1. Berhukum dengan hukum Allah adalah wajib 'ain bagi setiap muslim, baik secara individu maupun masyarakat, sebagai pemimpin maupun rakyat, tiap-tiap mereka adalah pemimpin dan tiap-tiap mereka bertanggung jawab terhadap yang dipimpinnya.&lt;br /&gt;2. Berhukum dengan hukum Allah adalah sempurna, komprehensif dan lengkap. Dimana hukum Allah mencakup seluruh urusan ummat baik aqidah, dakwah, pendidikan, moralitas, ekonomi, politik, sosial, budaya dan lain-lain.&lt;br /&gt;3. Meninggalkan berhukum dengan hukum Allah termasuk sebab-sebab bencana, perpecahan, kehinaan dan kemunduran yang saat ini tengah menyelimuti ummat Islam baik secara kemasyarakatan Individu.&lt;br /&gt;4. Hukum itu ada tiga macam, yaitu :&lt;br /&gt;- Hukum Munazzal (yang diturunkan), yaitu syariat Allah di dalam kitab-Nya dan sunnah nabi-Nya. Semuanya adalah kebenaran yang pasti.&lt;br /&gt;- Hukum Mu'awwal (yang ditakwil), yaitu ijtihad para Imam Mujtahid yang bisa benar dan salah. Akan mendapatkan satu ganjaran (jika salah) dan dua ganjaran (jika benar).&lt;br /&gt;- Hukum Mubaddal (yang diganti), yaitu hukum dengan selain hukum Allah, dimana pelakunya bisa jadi kafir, dhalim atau fasiq. Sebagaimana dinyatakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dan muridnya Imam Ibnul Qoyim al-Jauziyah.&lt;br /&gt;5. Orang yang berhukum dengan selain hukum Allah dilihat keadaannya:&lt;br /&gt;Jika ia meninggalkan hukum Allah dengan meyakini kehalalannya atau menganggapnya pilihan (yang boleh diterima boleh tidak, pent.) atau beranggapan hukum Allah tidak relevan untuk mengatur urusan manusia atau berpendapat hukum selain hukum Allah lebih layak untuk manusia, maka dia telah kafir keluar dari agama setelah terpenuhinya syarat dan hilangnya penghalang, menurut fatwa para ulama yang mendalam pemahaman agamanya.&lt;br /&gt;Jika ia meninggalkan berhukum dengan hukum Allah karena mengikuti hawa nafsu atau demi kepentingan (duniawinya), atau karena takut atau takwil, dengan tetap berikrar dan meyakini kesalahan dan penyelewengannya, maka ia jatuh ke dalam kufur kecil yang dosanya jauh lebih besar dari minum khamr. Akan tetapi, kekufurannya tidak sampai mengkafirkannya (kufrun duna kufrin) sebagaimana telah ditetapkan oleh para Imam dan Ulama salaf.&lt;br /&gt;6. Berusaha untuk menegakkan syariat Allah di negeri yang tidak berhukum dengan hukum Allah, beramal untuk melanggengkan kehidupan Islam di atas manhaj kenabian yang akan menghimpun kaum muslimin dan mempersatukan kalimat mereka, adalah kewajiban syar'i yang terkandung di dalam manhaj Robbani dalam mengadakan perubahan, "Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum hingga kaum itu sendiri yang mengubah keadaan mereka.", tanpa berpartai-partai (tahazub) dan fanatisme yang jelek, dengan tetap berpegang pada Kitabullah dan Sunnah Rasulullah berdasarkan pemahaman Salaful Ummah dari generasi Sahabat dan Tabi'in, dengan saling tolong menolong dalam kebajikan dan ketakwaan, saling menasehati dalam kebenaran dan kesabaran, dan memurnikan (tashfiyah) segala kerusakan yang menimpa aqidah kaum muslimin serta mendidik (tarbiyah) mereka di atas manhaj yang benar dan terang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*****************&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 5 : Wala' (Loyalitas) dan Baro' (Berlepas Diri)&lt;br /&gt;1. Kami memandang bahwa wala' di tengah-tengah kaum muslimin -dan wala' terhadap mereka- mengandung ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya Shallallahu 'alaihi wa Sallam dan termasuk manhaj salaf yang dipercaya serta jalannya para ulama Robbaniyun. Kami juga memandang bahwa baro' dari setiap orang yang menyelisihi syariat berdasarkan tingkat penyelewengannya baik besar maupun kecil, baik dalam masalah aqidah mapun hukum, dan sunnah atau bid'ah.&lt;br /&gt;2. Tidak boleh khuruj/keluar dari ketaatan (memberontak) dari penguasa kaum muslimin, tidak boleh pula menentang dan melakukan revolusi terhadap mereka, kecuali hingga kita melihatnya melakukan kekufuran yang nyata dan kita memiliki bukti yang nyata dari Allah atas kekufurannya.&lt;br /&gt;Jika hal demikian benar-benar terjadi -yakni penguasa melakukan kekufuran yang nyata- maka sesungguhnya justifikasi dan penentuannya dikembalikan kepada orang yang mendalam ilmunya dari para ulama kita yang terpercaya kekokohan agamanya, dimana mereka lebih bisa melihat tarjih antara masalahat dan madharatnya, yang akan menghilangkan kemunkaran tidak malah menambahnya, tanpa dibakar semangat yang menggelora.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*****************&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 6 : Murji'ah&lt;br /&gt;1. Murji'ah ada kelompok yang sesat, madzhabnya jelek dan bathil -tidak berada di atas manhaj Sunnah dan Ahlus Sunnah-. Akan tetapi kami tidak mengeluarkan mereka dari agama sebagaimana dinyatakan oleh Imam Ahmad dan dinukil Syaikhul Islam dari beliau sebagai ketetapan beliau di sejumlah tempat.&lt;br /&gt;2. Murji'ah ada tiga jenis :&lt;br /&gt;a. Jahmiyah Murji'ah yang berpendapat bahwa Iman sebatas pengetahuan (ma'rifat) belaka. Sebagian Imam Salaf mengkafirkan mereka.&lt;br /&gt;b. Karramiyyah yang membatasi keimanan hanya dengan ucapan lisan saja tanpa perlu diyakini dalam hati.&lt;br /&gt;c. Murji'ah Fuqoha' yang berpendapat bahwa iman itu keyakinan dengan hati dan ucapan dengan lisan, namun mereka mengeluarkan amalan dari yang namanya keimanan.&lt;br /&gt;Mereka semua di atas kesesatan walaupun tingkat kesesatannya berbeda-beda, sebagaimana yang telah diperinci oleh Syaikhul Islam -rahimahullahu-.&lt;br /&gt;3. Termasuk pendapat jelek mereka yang terbentuk dari sebelumnya dan dari beragamnya kelompok-kelompok mereka, bahwasanya iman itu tidak bertambah tidak pula berkurang. Barang siapa yang mengatakan 'sesungguhnya iman itu bertambah dan berkurang, bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan. Iman itu berupa ucapan, amalan dan keyakinan', maka dia telah berlepas diri dari pemikiran murji'ah seluruhnya, dari awal sampai akhir, sebagaimana ucapan Imam Ahmad bin Hanbal; dan Imam Barbahari serta selain mereka.&lt;br /&gt;4. Pelaku kemaksiatan baik kecil maupun besar masih termasuk ummat Islam (Ahlu Millah), dan mereka berada di bawah kehendak Allah hukuman dan siksanya, sebagaimana firman Allah Ta'ala, "Sesungguhnya Allah tidak mengampuni kesyirikan namun ia mengampuni selain kesyirikan siapa saja yang dikehendaki-Nya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*****************&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 7 : Khowarij&lt;br /&gt;1. Khowarij adalah kelompok yang sesat dan madzhabnya jelek lagi bathil. Mereka keluar dari manhaj Ahlus Sunnah wal Jama'ah walaupun kami tidak beranggapan akan kekafiran mereka. Telah diriwayatkan sebagian ulama salaf bahwa ada yang mengkafirkan mereka.&lt;br /&gt;2. Mereka adalah kebalikan Murji'ah dari sisi hukum. Namun keduanya berangkat dari pokok kesesatan yang sama, yaitu bahwa Iman seluruhnya tidak bercabang-cabang. Dari pokok yang satu inilah mereka menyimpang dan berpecah belah, oleh karena itu :&lt;br /&gt;Menurut khowarij, sesungguhnya berkurangnya iman adalah kekufuran, dimana kemaksiatan akan menghilangkan dan membatalkan keimanan seluruhnya. Lain halnya dengan murji'ah, yang menjadikan keberadaan setiap maksiat tidak mempengaruhi berkurangnya keimanan, seperti setiap ketaatan tidak mempengaruhi pertambahan iman. Dari sinilah mereka mengatakan bahwa 'kemaksiatan tidaklah membahayakan keimanan'.&lt;br /&gt;3. Perincian ilmiah tentang perkara 'berhukum dengan hukum Allah' yang telah lewat pembahasannya merupakan metodenya para salaf yang benar dan jalannya Ahlus Sunnah yang haq. Barangsiapa yang menambah-nambahi darinya maka ia telah berlaku ghuluw (ekstrim) dan ifrath (berlebih-lebihan) yang selaras dengan khowarij. Barangsiapa yang mengurangi darinya maka ia berlaku taqshir (mengurangi) dan tafrith (meremehkan) yang selaras dengan murji'ah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*****************&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 8 : Jihad fi Sabilillah&lt;br /&gt;1. JIhad termasuk syiar Allah yang terpenting dan puncak tertinggi.&lt;br /&gt;2. Kedudukan jihad di dalam agama tetap terpelihara dan dikenal kedudukan dan posisinya, yang tidak didahulukan dari perkara-perkara yang lebih penting darinya dan tidak diakhirkan dari perkara-perkara yang lebih rendah darinya. Jihad akan senantiasa berlangsung hingga hari kiamat.&lt;br /&gt;3. Jihad terbagi menjadi 2 macam :&lt;br /&gt;Pertama : Jihad Fath wa Tholab (ekspansi dan ofensif), yang harus memenuhi persyaratan syar'i sebagai berikut :&lt;br /&gt;a. Imam&lt;br /&gt;b. Negara (daulah)&lt;br /&gt;c. Bendera (royah)&lt;br /&gt;Kedua, Jihad Daf'u (defensif), hukumnya wajib 'ain bagi seluruh penghuni negeri yang diserang oleh musuh. Jika mereka tidak sanggup, maka penduduk di wilayah sekitarnya dari ahli tsughur (penjaga perbatasan) harus menolong mereka, demikian seterusnya.&lt;br /&gt;4. Jihad syar'i memiliki persiapan ('idad) syar'i yang harus dipenuhi. Ada dua macam persiapan, yaitu :&lt;br /&gt;Pertama : Persiapan dengan pembinaan keimanan ummat, dengan cara menegakkan hakikat peribadatan hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala semata, membina jiwa mereka dengan kitabullah, mensucikan mereka dengan sunnah nabinya dan menolong agama Allah dan syariat-syariat-Nya. 'Allah benar-benar akan menolong hamba-Nya yang menolong agama-Nya.'&lt;br /&gt;Kedua : Persiapan fisik, yaitu mempersiapkan sejumlah perlengkapan dan alat-alat perang untuk melawan dan memerangi musuh-musuh Allah. 'Dan persiapkanlah bagi mereka apa-apa yang kamu sanggupi, dari kekuatan dan kuda yang ditambat yang akan menggentarkan musuh Allah dan musuh-musuh kalian.'&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*****************&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penutup&lt;br /&gt;-Semoga Allah menganugerahkan kebaikan dan tambahannya-&lt;br /&gt;Inilah penutup dari apa yang telah Allah Jalla wa 'Ala tetapkan pada kami dalam penulisan perkara aqidah ini, yang mengkaitkan dan menyelaraskannya dengan timbangan manhaj salaf dan metode Ahlus Sunnah dengan format yang ringkas dan sederhana.&lt;br /&gt;Sembari memohon kepada Allah Tabaroka wa Ta'ala Taufiq-Nya kepada kami dan kepada seluruh saudara-saudara kami, dengan mengharap agar Ia tetap mengatur urusan kami supaya tetap lurus, agar Ia memperkuat penolong-penolong agama-Nya dan menghinakan musuh-musuh-Nya, agar Ia menumpas ahlu ahwa' dan bi'dah, agar meluruskan dari apa-apa yang telah kami tulis, dan agar supaya Ia menganugerahkan keikhlasan dalam beramal dan berucap.&lt;br /&gt;"Sesungguhnya aku hanya menghendaki perbaikan semampu aku bisa, dan tidak ada taufiq melainkan dari Allah, kepada-Nya aku bertawakal dan kepadanya aku kembali."&lt;br /&gt;Semoga Sholawat, Salam dan Barokah senantiasa tercurahkan kepada nabi kita Muhammad, terhadap keluarga beliau dan seluruh sahabat-sahabat beliau.&lt;br /&gt;Penutup do'a kami adalah, Segala puji hanyalah milik Allah Rabb semesta alam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*****************&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15358194-112410460133400920?l=abuyoesuf.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abuyoesuf.blogspot.com/feeds/112410460133400920/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=15358194&amp;postID=112410460133400920' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15358194/posts/default/112410460133400920'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15358194/posts/default/112410460133400920'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abuyoesuf.blogspot.com/2005/08/perkara-keimanan-yang-global-dari.html' title=''/><author><name>abu_yusuf</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15735738412660387343</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://photos.friendster.com/photos/39/85/27355893/2558270428391m.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
